Kamis, 29 Februari 2024

Besok, BEI Luncurkan Bursa Perdagangan Karbon

BURSA KARBPN - BEI akan meluncurkan bursa karbon, Selasa, 26 September 2023 | Foto: BEI

JAKARTA, KAIDAH.ID – Bursa Karbon mulai diluncurkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa, 26 September 2023. Bursa ini, akan menjadi pusat perdagangan karbon di Indonesia.

Selain berdampak pada penunurunan emisi karbon dari aktivitas industri, juga membawa Indonesia memenuhi komitmen terkait perubahan iklim.

“Dengan adanya bursa karbon, akan memberikan insentif bagi industri, bisnis, maupun entitas lainnya bila berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca mereka,” kata peneliti dari Center for Indonesian Policy Studies, Kartina Sury.

Dia mengatakan, beroperasinya bursa ini, sekaligus menjadi bagian dari komitmen Indonesia berkontribusi pada upaya global, untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 45 persen tahun 2030 dan pada akhirnya menjadi nol pada 2060 atau lebih cepat.

Pembentukan bursa ini telah diatur dalam Peraturan OJK Nomor 14 Tahun 2023, tentang Perdagangan Karbon Melalui Bursa Karbon.

Juga Surat Edaran OJK Nomor 12 Tahun 2023 tentang Tata Cara Penyelenggaraan Perdagangan Karbon Melalui Bursa Karbon.

Nantinya, OJK akan menetapkan kredit karbon yang menjadi alokasi kuota emisi karbon setiap industri dan ditetapkan tahunan pada awal periode bagi setiap peserta pasar.

Satu kredit karbon setara dengan pengurangan atau penurunan emisi sebesar satu ton karbon dioksida.

Mengutip laman BEI, disebutkan bahwa semakin gentingnya perubahan iklim yang terjadi di dunia, diperlukan perubahan yang signifikan terhadap cara manusia dalam memperlakukan alam.

Semakin digaungkannya Environmental, Social and Corporate Governance oleh berbagai pihak, menunjukkan adanya kesadaran terhadap isu iklim dan lingkungan juga sangat besar di dunia.

Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki kontribusi yang besar dalam menjaga iklim dunia, karena memiliki hutan tropis terbesar nomor 3 di dunia dengan luas mencapai 125 juta hektare.

Dari jumlah itu, dapat menyerap karbon sebesar 25 miliar ton. Potensi penyerapan ini belum termasuk hutan mangrove dan hutan gambut milik Indonesia yang disebut memiliki potensi penyerapan karbon yang lebih besar daripada hutan tropis. (*)