Oleh: Ruslan Sangadji / Kaidah.ID

Purbaya pernah berbicara seolah memiliki tongkat sihir ekonomi. Belum lama dilantik sebagai Menteri Keuangan, ia dengan penuh keyakinan menyatakan nilai tukar rupiah bisa ditekan hingga Rp17.000 per dolar AS hanya dalam semalam. (CNNIndonesia, 20 Januari 2025).

Semalam…. Sebuah klaim yang terdengar luar biasa. Seolah persoalan kurs yang selama ini dipengaruhi ribuan variabel ekonomi global, dapat diselesaikan dalam hitungan jam. Seolah pasar valuta asing bisa diperintah layaknya bawahan di ruang rapat kementerian.

Meskipun kata Purbaya, itu hanya bisa dilakukan oleh Bank Sentral (BI). Sayangnya, pasar tidak percaya pada sihir. Pasar tak percaya muncung Purbaya. (muncung dalam Bahasa Batak adalah mulut)

Waktu berlalu. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Namun rupiah tak kunjung menunjukkan keajaiban yang dijanjikan. Dolar AS tetap perkasa, sementara rupiah masih tertatih menghadapi tekanan yang datang dari berbagai arah.

Tentu, tidak ada seorang menteri pun yang mampu mengendalikan seluruh faktor yang memengaruhi nilai tukar. Namun bukan itu persoalannya. Yang menjadi soal adalah keberanian mengumbar janji yang terdengar begitu mudah, padahal kenyataannya jauh lebih rumit.

Banyak yang paham, dalam dunia ekonomi, kredibilitas dibangun oleh hasil, bukan oleh keberanian mengucapkan target yang bombastis. Pasar tidak peduli seberapa meyakinkan sebuah pernyataan disampaikan. Pasar hanya peduli pada fakta yang terpampang di layar perdagangan.

Dan fakta itu menunjukkan bahwa janji semalam tersebut tak pernah benar-benar datang.

Kini publik hanya bisa menoleh ke belakang, mengingat kembali ucapan yang pernah dilontarkan dengan penuh percaya diri. Ucapan yang saat itu terdengar seperti solusi, tetapi belakangan lebih menyerupai sesumbar.

Barangkali memang lebih mudah menaklukkan mikrofon daripada menaklukkan pasar.

Karena pada akhirnya, rupiah tidak bergerak mengikuti pidato. Rupiah bergerak mengikuti kepercayaan, kebijakan yang kredibel, dan realitas ekonomi.

Ketika janji besar tak berbanding lurus dengan kenyataan, yang tergerus bukan hanya nilai tukar rupiah. Yang ikut tergerus adalah kepercayaan publik.

Dan di situlah letak kegagalan yang sesungguhnya. Bukan pada rupiah yang tak kunjung menguat, melainkan pada ekspektasi yang terlanjur dibangun oleh muncung yang terlalu cepat mendahului kenyataan. (*)

Wallahu A’lam