Oleh: Ruslan Sangadji | Kaidah.ID

Dalam pandangan Rasulullah, kemenangan sejati bukan ketika kita berhasil membungkam lawan. Tetapi ketika kita berhasil menyelamatkan persaudaraan. Dan mungkin, itulah warisan akhlak Rasulullah yang paling dibutuhkan dunia hari inI

PERANG SELALU dimulai dari sesuatu yang tampak sepele. Satu kalimat. Satu ejekan. Satu ego yang enggan mengalah. Begitulah sejarah manusia berulang. Yang kecil dibiarkan. Yang remeh dipelihara. Lama-kelamaan berubah menjadi dendam yang diwariskan.

Al-Qur’an mengingatkan dengan kalimat yang sangat indah:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌفَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. (QS. Al Hujurat: 10).

Persaudaraan dalam Islam ternyata bukan sekadar status. Persaudaraan dalam Islam adalah pekerjaan. Harus dirawat. Kadang harus diperjuangkan.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memahami betul hal itu. Ketika tiba di Madinah, beliau tidak hanya membangun masjid. Beliau membangun dan menata hati manusia.

Di hadapan beliau ada dua suku besar, Bani Aus dan Bani Khazraj. Mereka bukan sekadar tidak akur. Mereka pernah saling menumpahkan darah selama puluhan tahun.

Perang Bu’ats menjadi saksi betapa mahal harga sebuah permusuhan. Banyak nyawa melayang. Para pemimpin gugur. Yang tersisa hanyalah luka dan dendam.

Rasulullah tidak menghapus sejarah itu. Beliau mengubah cara mereka memandang satu sama lain.

Yang semula melihat musuh, diajak melihat saudara. Yang semula mengingat luka, diajak mengingat Allah. Pelan-pelan, dendam kehilangan tempatnya.

Namun, perdamaian ternyata tidak pernah selesai hanya dengan satu perjanjian. Perdamaian harus dijaga setiap hari.

Suatu ketika, bara lama hampir menyala kembali. Dalam sebuah majelis, seorang pemuda melontarkan syair yang menyindir Bani Khazraj.

Balasan datang. Nada suara meninggi. Emosi mengambil alih. Mereka pulang mengambil senjata. Perang hampir meledak lagi.

Saat kabar itu sampai kepada Rasulullah, beliau tidak memilih menunggu. Beliau tidak berkata: “Biarkan mereka menyelesaikannya sendiri.”

Beliau bergegas. Riwayat dalam Hayatush Shahabah menyebutkan, langkah Rasulullah begitu cepat hingga betis beliau terluka.

Betapa indah pelajaran itu. Ada orang yang rela melukai orang lain demi sebuah pertengkaran. Tetapi Rasulullah justru terluka demi menghentikan pertengkaran.

Sesampainya di hadapan mereka, beliau tidak membawa ancaman. Tidak pula membawa hukuman. Beliau membawa pesan dari Allah Subhanahu Wata’ala:

Ya ayyuhalladzina amanuttaqullaha ḥaqqa tuqatihi wa la tamụtunna illa wa antum muslimụn (QS: Ali Imran: 102)

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.” (QS: Ali Imran: 102)

Kalimat itu menembus hati. Pedang-pedang jatuh. Air mata mengalir. Orang-orang yang beberapa saat sebelumnya siap saling membunuh kini saling berpelukan.

Begitulah cara Rasulullah memenangkan sebuah konflik. Bukan dengan mengalahkan orang lain. Tetapi dengan memenangkan hati mereka.

Di zaman sekarang, kita mungkin tidak lagi membawa pedang. Tetapi kita membawa sesuatu yang kadang lebih tajam: Jari. Satu komentar. Satu unggahan. Satu potongan video. Satu kabar yang belum tentu benar. Dan dalam hitungan menit, permusuhan bisa menyebar ke ribuan orang.

Media sosial membuat semua orang mudah berbicara. Sayangnya, tidak semua orang memilih menjadi penyejuk. Padahal Rasulullah justru mengajarkan kebalikannya. Beliau menyebut mendamaikan dua orang yang bertikai sebagai sedekah. Bahkan dalam hadis lain, beliau mengatakan:  nilainya lebih tinggi daripada banyak ibadah sunnah.

Mengapa?

Karena ibadah membangun hubungan manusia dengan Allah. Sedangkan perdamaian menjaga hubungan manusia dengan sesamanya.

Islam tidak hanya mengajarkan kita rajin beribadah. Islam juga mengajarkan, agar jangan menjadi penyebab retaknya persaudaraan.

Hari ini, dunia tidak kekurangan orang pintar. Tidak kekurangan orang yang pandai berdebat. Yang masih langka adalah orang yang mampu meredakan amarah, menurunkan ego, lalu mengulurkan tangan lebih dulu.

Menjadi juru damai memang tidak selalu membuat kita terlihat hebat. Kadang justru kita harus menahan gengsi. Menelan ego. Mengalah tanpa merasa kalah. Namun, di situlah letak kemuliaannya.

Karena dalam pandangan Rasulullah, kemenangan sejati bukan ketika kita berhasil membungkam lawan. Tetapi ketika kita berhasil menyelamatkan persaudaraan. Dan mungkin, itulah warisan akhlak Rasulullah yang paling dibutuhkan dunia hari ini. (*)