Saya tercengang melihat belasan buku tersusun di dalam taksi.
Ada cerita anak-anak.
Ada novel.
Ada komik.
Ada pula buku-buku serius seperti sejarah dan lainnya.

JUMAT MALAM, 14 Agustus 2026. Sehabis “ngamen”, Saya menumpang taksi Bluebird dari Thamrin City menuju Stasiun Gondangdia, untuk pulang ke Megamendung, Bogor.

Begitu masuk ke dalam mobil, saya dibuat kaget. Bukan karena sedikit macet. Bukan pula karena ramainya Jakarta.

Saya tercengang melihat belasan buku tersusun di dalam taksi.
Ada cerita anak-anak.
Ada novel.
Ada komik.
Ada pula buku-buku serius seperti sejarah dan lainnya.

Saya kemudian berkenalan dengan pengemudinya. Namanya Heri Siswanto.
Nomor lambung taksinya SE 4833.
Heri lahir di Bandung, 4 Oktober 1985.

Dan buku-buku itu ternyata bukan sekadar hiasan di dalam taksinya. Di rumahnya di Dramaga, Bogor, ia mengoleksi lebih dari 500 judul buku.

“Saya sengaja menaruh buku di taksi, karena memang bertujuan mendorong literasi bagi penumpang saya,” Heri Siswanto bilang begitu.

Kecintaannya pada dunia komunikasi dan literasi bukan datang tiba-tiba. Heri merupakan alumni Komunikasi, jurusan Public Relations LP3i Bandung.

Sebelum menjadi pengemudi taksi, ia pernah menjadi penyiar Qyu FM Radio di Bandung. Kemudian menjadi Public Relations di LV 8 Resort Canggu, Bali. Sambil tetap menyiar di Kuta Radio.

Lalu pandemi Covid-19 datang. Hotel sepi pengunjung, karena pariwisata di Bali ditutup.
Tahun 2021, Heri memilih menjadi pengemudi Bluebird.

Awalnya karena keadaan. Tetapi kemudian ia bertahan. Hasilnya lumayan.

“Betah jadi pengemudi Bluebird, karena hasilnya lumayan,” ucap Heri.

Dan dari balik kemudi itu, ia menemukan cara sederhana untuk melakukan sesuatu yang lebih besar.

Ia membawa buku ke dalam taksi.
Sengaja.
Agar penumpang punya teman selama perjalanan.
Agar kemacetan tidak selalu berarti membuang waktu.
Agar perjalanan beberapa kilometer di Jakarta, bisa berubah menjadi beberapa halaman yang dibaca.

Setiap pekan, koleksi buku di taksinya diganti.
Buku-buku itu berputar.
Dari rumah ke taksi.
Dari taksi ke tangan penumpang.
Dari satu pembaca ke pembaca lainnya.

Kebiasaan sederhana sejak 2021 itu, rupanya menarik perhatian. Penulis Ika Natassa pernah me-mention kebiasaan Heri di X Dan Instagram.

Kemudian kabar itu sampai ke manajemen Bluebird. Tahun 2024, Heri mendapat penghargaan dari Bluebird. Ia dinobatkan sebagai pengemudi teladan.

Bukan hanya itu. Ia juga dipercaya menjadi pembina bagi pengemudi-pengemudi lainnya. Dan peran itu masih dijalaninya hingga sekarang.

Saya membayangkan. Betapa banyak orang yang mungkin pernah duduk di kursi belakang taksinya.

Mungkin ada yang hanya membaca beberapa halaman.
Mungkin ada yang menyelesaikan satu bab.
Mungkin ada pula yang kemudian mencari buku yang sama di toko buku.

Heri tidak membuat perpustakaan besar.
Ia hanya menyediakan tempat buku semacam jaring di dalam taksi.

Tetapi dari ruang kecil itu, ia sedang melakukan sesuatu yang besar.
Mengajak orang membaca.
Dengan cara yang sederhana.
Tanpa banyak bicara.
Tanpa ceramah.
Hanya dengan menyediakan buku.

Jadi, kalau suatu hari Anda terjebak kemacetan Jakarta, dan kebetulan menjadi penumpang taksi Heri Siswanto, jangan buru-buru mengeluh.

Barangkali kemacetan itu justru memberi Anda kesempatan. Untuk membuka sebuah buku. Membaca beberapa halaman. Dan menemukan dunia lain di tengah riuhnya Jakarta.

Sebab di taksi Heri, perjalanan bukan hanya soal sampai tujuan. Ada buku yang menemani perjalanan.

Dan mungkin, ada satu cerita yang akan tinggal lebih lama di kepala Anda setelah perjalanan itu berakhir. (*)

(Ruslan Sangadji)