Oleh: Ruslan Sangadji / Kaidah.ID
Di gedung DPRD Sulawesi Tengah, dinamika politik kembali menghadirkan konfigurasi yang menarik perhatian publik. Tiga Wakil Ketua DPRD Sulawesi Tengah berasal dari kabupaten yang sama, yakni Morowali. Sebuah komposisi yang tidak lazim dalam struktur pimpinan legislatif tingkat provinsi.
Mereka adalah Ambo Dalle dari Partai Gerindra, Syarifuddin Hafid dari Partai Demokrat, serta Arnilla H. Ali dari Partai NasDem. Tiga partai berbeda, satu daerah asal. Secara politik ini menarik, secara sosiologis bahkan bisa disebut fenomenal.
Ketua DPRD Arus Abdul Karim memang berasal dari Palu. Namun dalam struktur pimpinan harian, Morowali seakan menjadi poros. Tiga kursi strategis wakil ketua — yang berperan dalam menentukan arah kebijakan, menyusun jadwal persidangan, hingga membangun lobi politik — diisi oleh figur-figur dari wilayah yang sama. Situasi ini memunculkan pertanyaan: apakah ini sekadar kebetulan politik, atau cerminan nyata pergeseran kekuatan di Sulawesi Tengah?
Dalam satu dekade terakhir, Morowali menjelma menjadi episentrum industri nikel dan investasi nasional. Pertumbuhan ekonomi yang pesat, arus urbanisasi, serta meningkatnya pendapatan daerah telah mengangkat posisi tawar kabupaten ini. Morowali bukan lagi sekadar wilayah industri di pesisir timur, tetapi telah menjadi salah satu motor penggerak ekonomi provinsi. Dan ketika ekonomi bergerak, pengaruh politik biasanya mengikuti.
Fenomena ini bahkan tidak berhenti di DPRD. Di level eksekutif, kursi gubernur Sulawesi Tengah juga kini dipegang oleh figur yang berasal dari Morowali. Artinya, poros Morowali tidak hanya menguat di legislatif, tetapi juga menjangkau pucuk kepemimpinan pemerintahan provinsi. Kombinasi ini mempertegas bahwa Morowali sedang berada dalam fase puncak pengaruh politiknya.
Kehadiran tiga pimpinan DPRD dari Morowali dapat dibaca sebagai refleksi kekuatan elektoral sekaligus afirmasi atas peran strategis daerah tersebut. Namun pada saat yang sama, kondisi ini menjadi ujian besar dalam menjaga keseimbangan representasi antarwilayah—dari pesisir barat hingga timur, dari kawasan pegunungan sampai kepulauan.
Apakah “kepungan” ini akan melahirkan solidaritas berbasis kedaerahan? Ataukah justru memperkuat profesionalisme lintas partai yang melampaui identitas asal? Sebab pada akhirnya, kursi pimpinan bukan soal dari mana seseorang berasal, melainkan untuk siapa kebijakan diperjuangkan.
Menariknya, ketiga wakil ketua itu berasal dari partai yang berbeda. Ini bukan hasil rekayasa satu kekuatan politik tunggal, melainkan konsekuensi dari pilihan rakyat di daerah pemilihan masing-masing. Jika Morowali mampu mengantarkan kader-kadernya ke posisi strategis baik di legislatif maupun eksekutif, hal itu menunjukkan adanya konsolidasi sosial-politik yang kuat di daerah tersebut.
Bagi Ketua DPRD, situasi ini menghadirkan dinamika tersendiri. Dalam sistem kolektif-kolegial, keputusan diambil bersama. Tidak ada dominasi sepihak. Namun secara psikologis dan politis, komposisi ini tetap menghadirkan tekanan tersendiri. Tantangan kepemimpinan Arus Abdul Karim adalah memastikan bahwa keseimbangan tetap terjaga dan tidak ada kesan konsentrasi kekuasaan pada satu poros daerah.
Yang terpenting, pembangunan Sulawesi Tengah tidak boleh terpusat pada satu kawasan saja. Morowali boleh menjadi mesin ekonomi, tetapi Palu, Sigi, Donggala, Poso, Parigi Moutong, Tojo Unauna, Banggai, hingga Balut dan Bangkep memiliki hak yang sama atas perhatian kebijakan dan distribusi pembangunan.
Fenomena ini mengirim pesan yang jelas: peta politik Sulawesi Tengah sedang bergerak. Morowali tidak lagi sekadar kabupaten industri, melainkan telah menjelma menjadi salah satu pusat gravitasi kekuasaan — baik di DPRD maupun di kursi gubernur. Di ruang sidang legislatif dan di kantor eksekutif, pengaruh itu kini terasa nyata.
Morowali sedang naik kelas secara politik — dari pusat industri menjadi salah satu titik tumpu kekuasaan di Sulawesi Tengah. Dan komposisi kekuasaan hari ini menunjukkan bahwa pergeseran itu bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas. (*)
Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan