DI SEBUAH RUMAH SEDERHANA di Kelurahan Gambesi, Ternate Selatan, suara gesekan batu dengan alat pengasah kerap terdengar pelan di sela-sela kesibukan harian. Di situlah Ikram T. Ahmad Sangadji, yang akrab disapa Iki, menekuni pekerjaan yang baginya bukan sekadar hobi, tetapi juga seni yang menuntut kesabaran dan rasa.
Pada siang hari, Iki adalah seorang aparatur sipil negara di lingkungan Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Ia menjalankan tugas-tugas administratif seperti kebanyakan pegawai negeri lainnya. Namun ketika waktu senggang datang, tangannya beralih dari dokumen dan berkas menuju batu-batu alam yang masih mentah.
Batu-batu itu bukan batu biasa. Banyak di antaranya berasal dari Obi, sebuah pulau di Maluku Utara yang dikenal menyimpan batu akik berkualitas tinggi. Di tangan Iki, batu obi—terutama jenis obi nucleus—perlahan berubah dari bongkahan kasar menjadi permata cincin yang memikat. Mulai dari warna putih, kuning, ungu hingga merah.
Prosesnya tidak singkat. Ia harus membaca karakter batu, menentukan arah potongan, lalu mengasahnya dengan ketelitian tinggi. Sedikit saja salah langkah, pola alami batu bisa rusak. Bagi Iki, setiap batu memiliki “jiwa” yang harus dihargai.
“Batu itu seperti manusia. Kita harus mengenali karakternya dulu sebelum membentuknya,” kata Iki suatu waktu.

Kemampuannya mengolah batu obi tidak datang secara instan. Ia belajar dari pengalaman panjang, bereksperimen dengan berbagai teknik pengasahan hingga menemukan gaya khasnya sendiri. Hasilnya, cincin-cincin buatannya dikenal memiliki kilau dan karakter yang kuat.
Dari sebuah rumah di Gambesi, karya Iki perlahan menembus batas daerah. Awalnya hanya dikenal di Kota Ternate. Namun seiring waktu, kolektor batu akik dari berbagai daerah di Indonesia mulai memburu batu olahannya. Bahkan, pasar luar negeri pun mulai mengenal karya tangan Iki.
Nama Iki semakin dikenal di kalangan pecinta batu akik, setelah ia beberapa kali memenangi kompetisi batu akik di berbagai daerah di Indonesia. Batu obi nucleus hasil polesannya, sering menjadi perhatian juri karena kejernihan warna, pola alami, dan presisi potongannya.
Prestasi itu membuka jalan yang lebih luas. Cincin buatan Iki tidak hanya dipakai kolektor biasa. Sejumlah pejabat tinggi negara juga pernah mengenakan karyanya.
Dari pejabat di tingkat pusat, wakil presiden, hingga presiden Republik Indonesia pernah memakai cincin hasil karya tangannya. Dua di antaranya adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo.
Bagi Iki, pengalaman itu adalah kebanggaan tersendiri. Namun ia tetap menjalani kehidupannya secara sederhana. Pagi hari ia tetap berangkat bekerja sebagai ASN, sementara malam atau waktu luang menjadi ruang bagi kreativitasnya. (*)


Tinggalkan Balasan