PALU, KAIDAH.ID – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Pemprov Sulteng) mendapatkan alokasi Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) tahun 2026 seluas 950 hektare, dengan dukungan dana mencapai Rp57 miliar.

Program tersebut ditandai dengan penandatanganan Surat Perjanjian Kerja (SPK) Dana Dukungan Manajemen Program Peremajaan Kelapa Sawit Pekebun Tahun 2026, yang berlangsung di Ciawi, Bogor, Jumat, 6 Maret 2026.

Penandatanganan perjanjian kerja dilakukan oleh Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi (Kadis Bunnak) Sulawesi Tengah, Muhammad Neng, mewakili pemerintah provinsi bersama Direktorat Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI.

Muhammad Neng, mengatakan program PSR merupakan upaya pemerintah, untuk meningkatkan produktivitas kebun sawit rakyat melalui peremajaan tanaman yang sudah tua atau tidak lagi produktif.

“Program ini bertujuan meningkatkan produktivitas kebun sawit milik petani, dengan mengganti tanaman yang sudah tua atau tidak produktif sehingga hasil panen dapat meningkat,” kata Muhammad Neng.

Ia menjelaskan pada tahun 2026 program PSR di Sulteng ditargetkan menjangkau 950 hektare lahan perkebunan sawit rakyat yang tersebar di empat kabupaten.

Rinciannya yakni Kabupaten Morowali Utara seluas 500 hektare, Kabupaten Banggai 250 hektare, Kabupaten Poso 100 hektare, serta Kabupaten Donggala 100 hektare.

Menurutnya, melalui program tersebut pemerintah juga akan melakukan pembinaan kepada para petani serta melakukan monitoring terhadap pelaksanaan kegiatan di lapangan.

“Melalui program ini kami bersama Direktorat Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma akan melakukan pembinaan kepada petani sekaligus memastikan pelaksanaan kegiatan di lapangan berjalan sesuai ketentuan,” ujarnya.

Ia berharap program Peremajaan Sawit Rakyat dapat berjalan optimal sehingga mampu meningkatkan produksi sawit rakyat sekaligus memperkuat sektor perkebunan sebagai salah satu penopang ekonomi daerah.

“Kami berharap program PSR ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat keberlanjutan sektor perkebunan di Sulawesi Tengah,” katanya. (*)

(Ruslan Sangadji)