PALU, KAIDAH.ID – Guru Besar sekaligus pakar pemikiran Islam modern Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama, Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, menilai, Idul Fitri 1447 Hijriah sebagai momentum penting, untuk memperkuat toleransi antarumat beragama dan persatuan dalam kebhinekaan.
Prof. Zainal Abidin menyampaikan pentingnya membangun harmoni social, melalui langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
“Menciptakan dan meningkatkan toleransi sosial dapat dimulai dari hal kecil, seperti memperbaiki hubungan bertetangga, berbagi makanan dengan niat ikhlas, serta menjunjung kejujuran dalam bersikap. Nilai-nilai ini secara universal diajarkan oleh agama-agama dunia,” katanya, Jumat, 20 Maret 2026.
Ia menambahkan, hubungan antarumat beragama berada pada ranah sosial kemasyarakatan, dan tidak memasuki wilayah akidah, yang merupakan batas masing-masing agama dan perlu dihormati.
“Islam memiliki prinsip yang jelas, lakum dinukum waliyadin (bagimu agamamu dan bagiku agamaku). Soal keyakinan adalah urusan masing-masing yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan,” katanya.
Menurut Ketua FKUB Sulteng ini, tugas utama umat beragama bukanlah saling membuktikan kebenaran masing-masing, melainkan menunjukkan kemampuan untuk menebar kebajikan dan menjaga harmoni dalam kehidupan bersama.
Prof. Zainal juga menegaskan, sikap toleransi merupakan bagian dari teladan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebagai pembawa misi kerahmatan bagi semesta alam. Ia mencontohkan kisah ketika Nabi berdiri untuk menghormati iringan jenazah seorang Yahudi sebagai bentuk penghargaan terhadap sesama manusia.
“Sebagai umat Nabi Muhammad, kita adalah penerus misi tersebut. Sikap saling menghormati, menghargai, dan tidak saling mencurigai merupakan cerminan seorang Muslim sejati,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kebhinekaan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari sekaligus bagian dari sunnatullah.
“Kebhinekaan adalah tanda-tanda kemahakuasaan Tuhan. Ia hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari perbedaan budaya, bahasa, ras, etnis, hingga agama dan pandangan hidup,” tutur Zainal.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk menerima perbedaan sebagai rahmat dan tidak menjadikannya sumber perpecahan.
“Biarlah ada perbedaan keyakinan, cara berdoa, maupun penyebutan nama Tuhan. Biarlah semua tumbuh dalam keberagaman, karena yang kita cari sesungguhnya adalah rahmat Tuhan,” tandasnya. (*)
(Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan