Oleh: Ruslan Sangadji / Kaidah.ID
INI TENTANG TRADISI HAGALA — Di Palu dan di mana pun, sedekah adalah sesuatu yang biasa, karena menjadi bagian dari ajaran Islam yang hidup dalam keseharian. Orang tua memberi kepada anak, tuan rumah berbagi kepada anak-anak yang datang bersilaturahmi saat Lebaran. Semua itu bisa ditemukan di banyak tempat, dengan cara yang hampir serupa.
Namun di Lembah Palu, ada satu hal yang membuatnya berbeda dan terasa lebih istimewa, sebuah nama yang mengikat semua kebiasaan itu dalam satu rasa yang khas: hagala.
Hagala bukan sekadar memberi, melainkan cara memberi itu dihidupkan dalam tradisi. Ia hadir dalam momen-momen sederhana: ketika orang tua menyelipkan uang ke tangan anaknya saat Lebaran, ketika tuan rumah dengan ramah membagikan amplop kepada anak-anak yang datang bersilaturahmi Lebaran. Hal-hal yang lazim itu menjadi terasa lebih hangat karena memiliki satu sebutan yang sama: hagala.
Seiring waktu, hagala tidak hanya hidup di ruang keluarga. Ia meluas, menjangkau ruang sosial yang lebih besar. Di tengah masyarakat, praktik ini telah lama dijalankan oleh tokoh-tokoh dermawan. Salah satunya adalah HS. Hasan Aljufri, yang dikenal sebagai Haji Hasan Toko Surabaya.
Ia tidak hanya menunggu orang datang, tetapi justru mendatangi warga secara langsung, membawa hagala dari rumah ke rumah, bahkan hingga ke wilayah pegunungan di sekitar Palu. Saya sendiri pernah dua kali menemaninya, pada 2008 dan 2009 ke Salena dan Denggune. Di situ saya melihat, hagala bukan sekadar pemberian, melainkan cara menyapa, mendekatkan diri, dan merawat hubungan.
Di kalangan pejabat, praktik serupa juga bukan hal asing. Tokoh-tokoh seperti Rusdy Mastura, Longki Djanggola, M. Arus Abdul Karim, hingga Andi Mulhanan Tombolotutu dikenal kerap melakukannya.
Menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah, Menteri Hukum Supratman Andi Agtas bersama Wakil Ketua MPR RI Abcandra M. Akbar Supratman, juga membagikan hagala kepada warga di halaman rumah mereka. Orang-orang datang berjubel, berkumpul, menunggu giliran menerima hagala.
Memberi dan menerima, sesuatu yang sebenarnya biasa, menjadi terasa berbeda karena dibungkus dalam satu istilah yang hidup di tengah masyarakat: hagala.
Keunikan itu semakin terasa ketika hagala menjadi “bahasa” yang diucapkan langsung.
Ada warga lokal yang datang dari rumah ke rumah. Mereka mengetuk pintu, lalu dengan santai berkata, “hagala lee… hagala sakide lee…” (hagala donk walau sedikit). Tidak ada rasa canggung. Tidak pula terasa sebagai permintaan yang memaksa. Justru di situlah hadir kehangatan, keluguan, dan kesepahaman yang tak perlu dijelaskan.
Tuan rumah pun mengerti. Mereka menyambut, memberi seikhlasnya. Yang datang menerima dengan ringan. Semuanya mengalir tanpa beban, seolah menjadi bagian dari ritme yang terus berulang dari tahun ke tahun.
Hagala: Bahasa Arab dalam Langgam Hadramaut
Di balik itu, saya pernah sampai pada satu dugaan: bahwa hagala berakar dari ungkapan Arab haqqullah (hak Allah). Sebuah istilah yang mengandung makna, bahwa dalam setiap rezeki, ada bagian yang menjadi hak Allah, yang harus disalurkan kepada sesama.
Dugaan ini bukan tanpa alasan. Di Palu, banyak keturunan Arab, khususnya dari Hadramaut, yang membawa ciri khas dialek mereka. Salah satunya adalah cara melafalkan huruf qaf menjadi gaf.
Kata ruqud (tidur) berubah menjadi rugud.
Kata qahwah (kopi) menjadi gahwah.
Perubahan bunyi ini hidup dan konsisten dalam percakapan sehari-hari.
Dari pola itulah, saya kemudian memberi pemaknaan: ketika haq Allah diucapkan dalam dialek tersebut (hadrami), bunyinya bisa bergeser menjadi Hag Allah. Lalu, saat diucapkan cepat dan menyatu, maka sangat mungkin terdengar sebagai hagala.
Namun penting untuk ditegaskan: ini bukan berarti hagala secara pasti atau baku berasal dari kata Arab haqqullah. Tetapi lebih tepat dipahami sebagai kemungkinan jejak bunyi, sebuah asosiasi linguistik yang membantu menangkap makna, bukan menetapkan asal-usul secara mutlak.
Di situlah letak kekuatannya. Sebab meski asal katanya tidak dapat dipastikan secara ilmiah, makna yang hidup di dalamnya terasa selaras. Hagala menjadi cara masyarakat memaknai, bahwa memberi bukan sekadar kebaikan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab yang melekat dalam rezeki.
Menjelang dan di hari Idul Fitri, ketika pintu-pintu rumah diketuk dan suara hagala… terdengar, yang berlangsung bukan sekadar pemberian. Itu adalah perjumpaan antara yang memberi dan yang menerima, antara tradisi dan keyakinan, antara masa lalu dan hari ini.
Dan mungkin, di situlah hagala menemukan maknanya yang paling utuh: sederhana, hidup, dan hanya benar-benar bisa dirasakan di Lembah Palu. (*)
Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan