Ada yang nyaris tak terdengar, tapi pelan-pelan bisa mengubah arah hati: perasaan bahwa kebaikan bermula dari diri sendiri.

Ia muncul dalam kalimat sederhana, kadang hanya bergaung di dalam kepala: “Dia bisa sampai di situ karena saya…… Kalau bukan karena saya…”

Tidak selalu terdengar angkuh. Justru sering terasa wajar (seperti pengakuan atas keterlibatan, atas usaha yang memang ada). Tapi di situlah batas tipis itu mulai kabur antara ikut berproses dan merasa paling menentukan.

Keakuan bekerja dengan cara yang halus. Ia tidak datang dengan suara keras, melainkan dengan keyakinan yang pelan-pelan menguat. Membuat seseorang merasa berada di titik pusat, seolah-olah hasil akhir bergantung padanya.

Padahal, jika dilihat lebih dalam, setiap peristiwa seperti dirangkai oleh begitu banyak sebab yang tak seluruhnya tampak. Ada pertemuan yang tak direncanakan, peluang yang datang di waktu yang tak disangka, dan jalan yang terbuka tanpa sepenuhnya bisa dijelaskan oleh usaha manusia.

Dalam keyakinan iman, bahkan sehelai daun yang jatuh pun tidak lepas dari izin Allah (QS Al-An’am: 59). Sebuah gambaran sederhana, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa ada kehendak yang bekerja jauh melampaui jangkauan manusia.

Di titik itu, terasa janggal ketika segala sesuatu disederhanakan menjadi: “karena saya.”

Bukan berarti peran manusia tidak ada. Ia tetap hadir, tetap nyata. Namun menempatkannya sebagai penentu tunggal, di situlah makna mulai bergeser. Seolah-olah kehendak besar yang mengatur segalanya dipersempit menjadi ukuran diri sendiri.

Dalam bahasa akidah, itu menyentuh wilayah yang bukan milik manusia, tetapi wilayah kehendak Allah, wilayah Rububiyah (wilayah Ketuhanan) yang sepenuhnya berada di luar jangkauan makhluk.

Barangkali, yang lebih menenangkan adalah melihat diri sebagai bagian dari alur, bukan pusatnya. Terlibat, tanpa harus menguasai. Hadir, tanpa perlu mengklaim.

Kalimat seperti “alhamdulillah” itu sudah cukup. Bukan sekadar ucapan, tapi cara menjaga jarak yang sehat antara usaha manusia dan kehendak Tuhan.

Dan di sanalah, tanpa banyak suara, kebaikan menemukan tempatnya. Tidak perlu ditegaskan siapa yang paling berjasa. Tidak perlu bertepuk dada.

Sebab pada akhirnya, ada banyak hal yang terjadi bukan karena kita, melainkan karena diizinkan untuk terjadi (QS Yasin: 82).

Wallahu A’lam