Oleh: M. Teguh Abdullah (Ote Abadi) / Musisi / Seniman Asal Sulteng di Jakarta
DARI KEJAUHAN, di tengah riuhnya Jakarta, hati ini tetap pulang ke satu tempat: Sulawesi Tengah. Di usia ke-62, perayaan hari jadi daerah terasa megah, penuh kebanggaan, dan sarat makna. Bukan sekadar seremoni, tetapi penanda perjalanan panjang sebuah daerah yang terus tumbuh, berbenah, dan berjuang menjadi lebih baik.
Sebagai bagian dari diaspora, rasa memiliki itu tidak pernah pudar. Justru dari jauh, cinta pada tanah kelahiran terasa semakin utuh. Sulawesi Tengah bukan sekadar tempat lahir, tetapi ruang batin yang menyimpan kenangan, nilai, dan identitas.
Namun, cinta yang tulus juga menghadirkan kejujuran. Bahwa di tengah semangat pembangunan dan berbagai upaya memperkuat identitas daerah, saya mencermati satu hal yang terus berulang: penggunaan kata Nambaso yang bermakna besar, dalam berbagai tagline kebijakan dan kegiatan resmi. Kata ini tentu bukan tanpa makna. Tetapi lahir dari akar budaya Kaili yang kuat, sarat nilai, dan patut dihargai sebagai bagian penting dari kekayaan Sulawesi Tengah.
Tetapi ketika kata ini terus-menerus diangkat sebagai representasi publik, muncul kegelisahan yang tak bisa diabaikan, apakah Nambaso mencerminkan seluruh wajah Sulawesi Tengah, atau justru cenderung Kaili-sentris?
Pertanyaan ini bukan bentuk penolakan terhadap budaya Kaili. Sebaliknya, ini lahir dari kesadaran bahwa Sulawesi Tengah jauh lebih luas dari satu identitas. Sulawesi Tengah adalah rumah bagi beragam suku, bahasa, dan tradisi, dari Lore, Pamona, Saluan, Banggai, Buol, Tolitoli, Mori, Bungku hingga Togean dan banyak lainnya. Setiap kelompok memiliki kebanggaan dan nilai yang sama berharganya.
Dalam konteks itulah, penggunaan kata Nambaso sebagai simbol yang dominan dalam ruang publik, menurut saya perlu ditinjau kembali dengan lebih sensitif dan inklusif.
Karena rasa memiliki itu penting. Dan rasa memiliki lahir dari keterwakilan. Jika satu identitas terasa lebih menonjol dari yang lain, sekecil apa pun itu, maka perlahan bisa memunculkan jarak, bukan karena perbedaan, tetapi karena kurangnya ruang yang setara untuk semua.
Padahal, Sulawesi Tengah sejatinya seperti sebuah komposisi musik. Setiap daerah, setiap budaya, setiap bahasa adalah partitur yang berbeda. Tidak harus sama, tidak perlu diseragamkan. Justru dalam perbedaan itulah tercipta harmoni yang indah.
Bayangkan jika hanya satu nada yang dimainkan terus-menerus, ia mungkin kuat, tetapi akan kehilangan keindahannya. Harmoni lahir dari keberagaman bunyi yang saling melengkapi, saling mengisi, dan saling menghormati ruang masing-masing.
Begitu pula dengan Sulawesi Tengah. Di usia yang ke-62 ini, mungkin sudah saatnya kita tidak hanya berbicara tentang kemajuan fisik dan pembangunan, tetapi juga tentang kepekaan kultural. Tentang bagaimana memastikan bahwa setiap kebijakan, setiap simbol, dan setiap narasi publik benar-benar mencerminkan seluruh masyarakatnya.
Bukan untuk menghapus identitas lokal tertentu, tetapi untuk merangkul semuanya dalam satu panggung yang setara.
Catatan ini bukan untuk memecah, melainkan untuk merawat. Bukan untuk mengkritik tanpa arah, tetapi untuk mengingatkan dengan cinta. Karena pada akhirnya, Sulawesi Tengah yang kita impikan adalah Sulawesi Tengah yang membuat semua orang merasa menjadi bagian darinya, tanpa kecuali.
Dan seperti musik yang indah, daerah ini akan terus merdu jika setiap perbedaan diberi ruang untuk berbunyi. Dan tak harus dengan kata Nambaso. (*)
Editor: Ruslan Sangadji

Tinggalkan Balasan