Oleh: Salihudin / Ketua MW KAHMI Sulteng

Ada yang istimewa pada pengukuhan Guru Besar Universitas Tadulako (untad) Palu kali ini. Bukan hanya karena dua nama yang dikukuhkan, sama-sama telah sampai pada puncak karier akademik, melainkan karena keduanya hadir sebagai sepasang suami istri: Prof. Dr. Mhd. Nur Sangadji dan Prof. Dr. Rostiati Rahmatu. Keduanya tercatat sebagai pengajar aktif Untad, dan keduanya membangun akademik bersama dari Fakultas Pertanian.

Namun tulisan ini ingin memberi sorot khusus kepada satu nama: Ibu Rostiati Rahmatu, yang akrab disapa Kak Os.

Di kampus, beliau dikenal sebagai dosen. Di banyak ruang kegiatan, beliau dikenal sebagai organisatoris. Tapi bagi banyak orang, terutama mereka yang pernah disentuh langsung oleh kepeduliannya, Kak Os adalah lebih dari itu: seorang pengajar yang tidak berhenti pada ruang kelas dengan mengajar ilmu. Tapi juga dengan teladan. Sosoknya hadir bukan hanya sebagai akademisi, melainkan sebagai manusia yang mengerti bahwa pengetahuan paling mulia, adalah yang tumbuh bersama empati.

Kak Os, termasuk tipe orang yang tidak betah hidup hanya untuk dirinya sendiri. Beliau aktif di banyak organisasi, punya banyak teman, mudah bergaul, dan tidak pelit tenaga dan materi. Tetapi yang paling mengesankan, justru bukan jabatan-jabatan di banyak organisasi itu. Yang paling membekas ialah wataknya yang suka menolong.

Banyak mahasiswa yang dipungut dari kerasnya jalan hidup, diberi tempat tinggal di rumahnya. Bukan hanya ditanggung makan, bahkan ikut dibiayai. Ini bukan kisah yang dibuat-buat agar terdengar heroik. Ini jenis kebaikan yang berjalan diam-diam, tetapi dampaknya panjang.

Mungkin benar, pengalaman berorganisasi yang panjang membuat seseorang tidak mudah hidup dalam tempurungnya sendiri. Organisasi mempertemukan orang dengan banyak wajah kehidupan. Organisasi mengajari seseorang mendengar, memahami, lalu bertindak.

Dalam bahasa sosiolog Robert D. Putnam, jejaring sosial yang sehat melahirkan norma timbal balik dan kepercayaan; dari sanalah modal sosial tumbuh. Putnam memang dikenal luas melalui gagasannya tentang social capital, yakni kekuatan relasi antarmanusia yang melahirkan kepedulian dan kerja bersama.

Karena itu, pada diri akademisi yang punya latar organisatoris kuat, jiwa sosial sering tidak datang sebagai tempelan ( patch). Melainkan seperti tertanam ( embedded), melekat, bahkan menyatu dalam kepribadian. Mereka terbiasa hidup dalam pergaulan, dlm musyawarah, dalam kerja kolektif. Dari situlah tumbuh rasa tanggung jawab kepada sesama.

Jadi, ketika Kak Os membuka pintu rumahnya bagi mahasiswa yang membutuhkan, sesungguhnya beliau sedang memperlihatkan bahwa ilmu dan kepedulian tidak pernah dipisahkan.

Kini, bersama Prof. Mhd. Nur Sangadji (suaminya), beliau berdiri pada satu momentum yang membanggakan: dikukuhkan bersama sebagai profesor. Tentu bukan hanya sekadar capaian keluarga. Yang paling subtansial adalah berupa pesan moral bagi kampus dan masyarakat, bahwa puncak akademik tidak harus membuat seseorang menjauh dari manusia.

Ilmuan tidak tinggal di menara gading apalagi menara kertas yang gampang rubuh dan terbakar. Justru sebaliknya, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin luas pula seharusnya daya peluk sosialnya.

Untad sendiri, dalam beberapa tahun terakhir memang terus memperkuat jumlah dan peran guru besar sebagai penopang mutu pendidikan tinggi, riset, dan pembinaan generasi muda. Tetapi di tengah angka-angka itu, figur seperti Kak Os mengingatkan kita bahwa guru besar bukan hanya gelar ilmiah. Tapi juga watak, pengabdian dan ketulusan.

Rabu, 15 April 2026, di Aula Fakultas Kedokteran, kita tentu akan menyaksikan seremoni akademik. Tetapi bagi saya, pengukuhan Kak Os dan Prof. Nur Sangadji lebih dari sekadar seremoni. Ini adalah perayaan atas ketekunan, pengabdian, dan cinta pada sesama.

Dua profesor, satu rumah, satu jalan pengabdian, dan satu pesan yang sangat jelas: ilmu pengetahuan akan terasa lebih mulia bila dibarengi hati yang suka memberi.

Selamat, semoga Allah membalas pengabdian kanda yunda —- dua profesor satu nama — sebagai insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala. (*)

Editor: Ruslan Sangadji