SIGI, KAIDAH.ID – Gubernur Sulawesi Tengah (Silteng) Anwar Hafid, meninjau langsung lokasi terdampak gempa bumi di lima desa di Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, Rabu, 17 Juni 2026. Kelima desa tersebut yakni Bulili, Sopu, Kadidia, Kamarora A, dan Kamarora B.
Dalam kunjungan tersebut, Gubernur didampingi Kapolda Sulteng Brigjen Pol Nasri, Pangdam XXIII/Palaka Wira, Mayor Jenderal TNI Jonathan Binsar Parluhutan Sianipar, perwakilan BNPB Pusat, Danrem 132/Tadulako Brigjen TNI Suntara Wisnu Budi Hidayanta, serta unsur Forkopimda lainnya. Rombongan melakukan peninjauan lapangan, sekaligus rapat bersama para kepala desa guna mendengarkan langsung kebutuhan masyarakat terdampak.
Berdasarkan hasil pertemuan, kebutuhan paling mendesak yang disampaikan warga meliputi air bersih, terpal atau tenda darurat, obat-obatan, selimut, serta kebutuhan untuk anak-anak. Kebutuhan air bersih menjadi prioritas, karena sejumlah sumber air warga tertutup material longsor akibat gempa.
“Kami baru saja rapat dengan seluruh kepala desa. Masyarakat menyampaikan kebutuhan utama mereka adalah tenda karena masih takut tinggal di dalam rumah. Selain itu, mereka membutuhkan air minum bersih karena sumber air tertutup longsor, serta obat-obatan dan selimut untuk anak-anak,” kata Gubernur Anwar Hafid.
Dari lima desa terdampak, Kamarora B menjadi wilayah yang mengalami dampak paling signifikan. Trauma akibat gempa masih dirasakan warga. Bahkan, seorang ibu terpaksa melahirkan di tenda darurat, karena masih dibayangi trauma bencana gempa besar tahun 2018.
Sebagai langkah tanggap darurat, Pemprov Sulteng segera menyalurkan 550 unit tenda terpal, jumlah yang melebihi kebutuhan saat ini sebagai langkah antisipasi, apabila terjadi perkembangan situasi. Selain itu, bantuan selimut dan tenda portabel juga akan didistribusikan kepada masyarakat terdampak.
Pemprov Sulteng juga menyalurkan sekitar 650 paket sembako bagi warga terdampak. Data sementara menunjukkan sekitar 550 kepala keluarga mengalami dampak pada tempat tinggal mereka. Sebagian besar warga memilih tetap berada di sekitar rumah masing-masing dan tidak mengungsi secara kolektif untuk menjaga keamanan harta benda mereka.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, Pemprov Sulteng melalui Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air akan menyuplai air bersih setiap hari, hingga kondisi sumber air warga kembali normal.
“Insya Allah sore ini seluruh kebutuhan darurat akan kami siapkan. Tahap awal yang paling penting adalah menyelamatkan masyarakat dan memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi,” tegas Gubernur.
Selain penanganan darurat, pemerintah juga masih melakukan asesmen terhadap rumah-rumah warga, untuk menentukan tingkat kerusakan, baik rusak ringan maupun rusak berat. Hasil asesmen tersebut akan menjadi dasar penyusunan program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Dalam kesempatan itu, Gubernur mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, namun tidak panik. Berdasarkan informasi dari BMKG, intensitas gempa susulan menunjukkan tren melemah dibandingkan saat awal kejadian.
“Saya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, dan memperhatikan situasi saat beraktivitas. Namun tidak perlu panik karena berdasarkan informasi BMKG, gempa susulan semakin melemah dan mudah-mudahan segera berakhir,” imbaunya.
Gubernur juga mengajak seluruh masyarakat Sulteng untuk mendoakan warga terdampak agar diberikan keselamatan dan kekuatan menghadapi musibah ini. Sementara itu, pemerintah daerah telah meliburkan sementara kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak sebagai langkah antisipasi.
Gubernur memastikan, penanganan darurat bencana terus dilakukan secara maksimal hingga kondisi masyarakat kembali aman dan normal.
Sulawesi Tengah diguncang gempa dengan magnitudo 6,7 pada Selasa, 16 Juni 2026, menyebabkan satu warga meninggal dunia, ratusan rumah rusak dan sejumlah jembatan putus, serta beberapa ruas jalan retak dan tertimbun longsor akibat digoyang gempa. (*)
(Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan