Oleh: Andi Kaimuddin / Ketua Komisi Penyiaran Indenesia Daerah (KPID) Sulawesi Tengah
“Dalam kebencanaan, informasi yang datang beberapa detik lebih cepat dapat menjadi pembeda antara selamat dan terlambat.”
SULAWESI TENGAH adalah wilayah yang akrab dengan ancaman bencana. Gempa bumi, tsunami, likuefaksi, banjir, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem, menjadi risiko yang harus dihadapi masyarakat setiap waktu. Dalam delapan tahun terakhir, daerah ini telah mengalami berbagai peristiwa besar, mulai dari gempa, tsunami, dan likuefaksi pada 28 September 2018 hingga gempa magnitudo 6,7, pada Selasa,16 Juni 2026. Rangkaian peristiwa tersebut mengajarkan satu pelajaran penting, dalam situasi darurat, kecepatan informasi sama berharganya dengan kecepatan penyelamatan.
Karena itu, penguatan Early Warning System (EWS) melalui penyiaran, perlu menjadi salah satu prioritas dalam strategi mitigasi bencana. Sistem peringatan dini tidak hanya bertugas mendeteksi potensi bahaya, tetapi juga memastikan informasi sampai kepada masyarakat dalam hitungan detik melalui saluran komunikasi yang dapat diandalkan.
Di sinilah radio dan televisi menunjukkan peran strategisnya. Ketika jaringan internet atau telepon terganggu akibat bencana, siaran radio dan televisi masih mampu menjangkau masyarakat secara luas. Pengalaman bencana Palu, Sigi, dan Donggala pada tahun 2018 menjadi bukti, bahwa radio tetap menjadi salah satu media komunikasi yang dapat diakses ketika berbagai layanan digital lumpuh. Penyiaran memiliki keunggulan, karena mampu menyampaikan informasi secara serentak kepada seluruh masyarakat tanpa bergantung pada aplikasi maupun media sosial.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital, juga terus memperkuat sistem peringatan dini melalui implementasi EWS pada televisi digital. Melalui teknologi ini, informasi kebencanaan dapat ditampilkan secara otomatis pada televisi digital yang kompatibel sesuai wilayah terdampak. Inovasi tersebut merupakan langkah maju, untuk mempercepat penyampaian informasi resmi kepada masyarakat.
PENGUATAN EARLY WARNING SYSTEM MELALUI PENYIARAN
Namun, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, efektivitas peringatan dini tetap bergantung pada kualitas pesannya. Dalam situasi darurat, masyarakat tidak membutuhkan istilah teknis yang rumit, melainkan instruksi yang jelas, singkat, dan mudah dipahami. Kalimat seperti “Segera menjauh dari pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi” jauh lebih efektif dibandingkan penjelasan panjang, yang justru dapat menimbulkan kebingungan. Pesan yang sederhana akan membantu masyarakat mengambil keputusan secara cepat dan tepat.
Lembaga penyiaran juga perlu menempatkan fungsi pelayanan publik sebagai prioritas utama ketika terjadi bencana. Frekuensi radio dan televisi, merupakan sumber daya publik yang penggunaannya harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi keselamatan masyarakat. Dalam konteks ini, penyiaran bukan sekadar menyampaikan berita, tetapi menjadi bagian dari sistem perlindungan dan penyelamatan jiwa.
Peran penyiaran tidak berhenti pada penyampaian peringatan. Media penyiaran memiliki tanggung jawab membangun budaya kesiapsiagaan melalui edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan. Informasi mengenai jalur evakuasi, tanda-tanda bencana, lokasi titik kumpul, hingga langkah penyelamatan diri, dapat dikemas dalam dialog interaktif, iklan layanan masyarakat, maupun program edukatif. Dengan demikian, masyarakat tidak baru belajar ketika sirene peringatan dini berbunyi, tetapi telah memiliki pengetahuan sebelum bencana terjadi.
Di tengah derasnya arus informasi digital, tantangan lain yang tidak kalah penting adalah penyebaran hoaks. Informasi yang belum terverifikasi, sering kali beredar lebih cepat daripada informasi resmi sehingga memicu kepanikan. Dalam kondisi seperti ini, radio dan televisi tetap memiliki posisi penting sebagai sumber informasi yang kredibel, karena bekerja berdasarkan prinsip jurnalistik, etika penyiaran, dan proses verifikasi.
Meski demikian, masih terdapat berbagai pekerjaan rumah. Belum seluruh lembaga penyiaran memiliki prosedur operasional baku dalam menerima dan menyiarkan informasi kebencanaan. Koordinasi antara instansi teknis dengan media di sejumlah daerah, juga masih dilakukan secara manual sehingga berpotensi menimbulkan keterlambatan. Padahal, dalam keadaan darurat, selisih beberapa menit, bahkan beberapa detik, dapat menentukan keselamatan banyak orang.
Oleh sebab itu, diperlukan sinergi yang lebih erat antara pemerintah daerah, BMKG, BNPB, BPBD, lembaga penyiaran publik, lembaga penyiaran swasta, serta regulator penyiaran. Integrasi sistem komunikasi dan prosedur yang jelas akan memastikan informasi peringatan dini diterima masyarakat secara cepat, seragam, dan tidak menimbulkan kebingungan.
Di sisi lain, literasi masyarakat mengenai sistem peringatan dini juga harus terus ditingkatkan. Tidak sedikit warga yang belum memahami arti status peringatan ataupun langkah evakuasi yang benar. Penyiaran memiliki peran strategis untuk membangun pemahaman tersebut melalui edukasi yang dilakukan secara rutin dan berkesinambungan.
Bagi Sulawesi Tengah, memperkuat Early Warning System melalui penyiaran, berarti memperkuat ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana. Investasi tidak cukup hanya diarahkan pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga pada penguatan sistem komunikasi publik yang mampu bekerja cepat, akurat, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Sebab, frekuensi radio dan televisi adalah milik publik yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk melindungi kepentingan publik.
Pada akhirnya, keberhasilan sistem peringatan dini, tidak diukur dari kecanggihan perangkat yang dimiliki, melainkan dari seberapa cepat informasi diterima masyarakat dan seberapa banyak nyawa yang berhasil diselamatkan. Sulawesi Tengah telah belajar dari pengalaman yang sangat mahal. Kini saatnya menjadikan penyiaran sebagai garda terdepan dalam sistem peringatan dini. Sebab, ketika bencana datang tanpa aba-aba, yang menentukan keselamatan sering kali bukanlah hitungan menit, melainkan detik yang menyelamatkan. (*)
(Editor: Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan