Oleh: Tasrif Siara / Jurnalis Senior
ADA JENIS MANUSIA yang lahir bukan untuk tidur nyenyak, melainkan untuk terjaga dalam cahaya. Basri Marzuki—yang akrab dengan BMZ—adalah salah satu dari mereka. Ia tidak pernah benar-benar beristirahat, bahkan ketika tubuhnya menjerit meminta ampun. Karena baginya, dunia adalah bingkai yang terus bergerak, dan hanya kameranya yang mampu membekukan waktu agar tak luput dari ingatan.
Pada Kamis malam yang sunyi, 19 Juni 2026, pukul 00.35, denyut nadinya berhenti di ruang perawatan Rumah Sakit Anuta Pura, Palu. Ia pergi bukan sebagai orang sakit, bukan sebagai orang tua yang letih—ia pergi sebagai seorang jurnalis yang gugur di medan tugas. Sebab dua hari sebelumnya, Selasa yang bertepatan dengan 1 Muharam 1448 Hijriah, BMZ masih berada di tengah debu dan reruntuhan. Gempa berkekuatan 6,7 magnitudo yang kembali menggoyang Kota Palu, Sigi, Parigi Moutong dan Poso. Dan BMZ, dengan kameranya yang setia, menyusup ke setiap sudut duka.
Ia pingsan di sana. Di antara puing-puing yang runtuh, di bawah langit yang masih gemetar, tubuhnya, akhirnya mengalah. Seorang kawan yang berbisik: “BMZ mungkin lelah, tapi nuraninya sebagai jurnalis mengalahkan daya dukung tubuhnya.” Ia jatuh bukan karena lemah, melainkan karena keberaniannya terlalu besar untuk sekadar dipendam.
BMZ adalah seorang pemburu yang tak pernah puas dengan sudut gambar yang biasa, dengan komposisi yang aman. Ia menjelajahi lorong-lorong waktu yang sunyi, mencari “angle” untuk foto terbaik yang mampu berbicara tanpa kata. Malam itu, ketika tubuhnya masih tersadar, ia tetap mengirimkan karyanya ke Kantor Berita Antara. Ia tak tahu—atau mungkin ia tahu—bahwa foto terakhirnya akan menjadi saksi abadi: sebuah rumah yang rontok, batu bata merah berserakan di sekelilingnya seperti doa yang tercabik-cabik, menggenang di portal Majalah Tempo pada Ahad, 20 Juni 2026.
Foto itu kini bukan sekadar gambar. Ia adalah surat wasiat visual BMZ kepada negeri: bahwa dalam kehancuran pun, ada cerita yang layak diabadikan.
Aku dan BMZ tercatat sebagai generasi awal di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Palu. Aku masih ingat ketika BMZ memeluk laptopnya di sebuah sudut kafe, matanya berbinar-binar memperlihatkan deretan foto pascagempa 2018 lalu. “Lihat ini,” katanya, jarinya menunjuk pada sebuah bidikan yang pernah tayang di kantor berita mancanegara. “Mereka memilih ini, karena mereka melihat kemanusiaan, bukan hanya kerusakan.” Ia tersenyum kecil, bangga namun rendah hati. Lalu ia menggulir ke gambar lain: seekor burung langka bertengger di dahan pohon langka di Taman Nasional Lore Lindu. “Ini,” katanya, “adalah alasan kenapa aku masih percaya pada keindahan.”
Di situlah BMZ menyimpan dua sisi dunia dalam satu dada: bencana dan keindahan, kematian dan kehidupan, semuanya ia rangkul dengan lensa yang sama.
Kepergian Basri Marzuki bukanlah akhir. Ia mungkin telah menutup matanya untuk selamanya, tetapi ribuan bingkai yang ia tinggalkan tetap terbuka—menyaksikan, mengingat, dan berbicara. Reputasinya sebagai fotografer senior, jabatannya sebagai Ahli Pers Dewan Pers, pengabdiannya di Harian Radar Sulteng dan LKBN Antara—semua itu adalah pilar-pilar yang menopang ingatan kita tentang dirinya. Namun lebih dari itu, BMZ mengajarkan kita bahwa menjadi jurnalis bukanlah soal pekerjaan. Ia adalah panggilan untuk terus terjaga, terus melawan, terus mencari cahaya meski di tengah kepungan malam.
Selamat jalan, BMZ. Engkau pergi saat dunia sedang bergoncang, tetapi engkaulah yang membuat dunia tetap tegak—melalui setiap jepretan yang menghentikan waktu, melalui setiap bingkai yang menyelamatkan sejarah dari lupa. Reputasimu tidak akan pudar; ia akan menjadi saksi sejarah yang abadi, dikenang bukan hanya oleh kami yang mencintaimu, tetapi oleh zaman yang engkau abadikan dengan segenap jiwa.
Kameramu kini diam. Tapi dunia—yang kau ajari untuk melihat dengan jernih—akan terus bergerak dan bergema.
Palu, 20 Juni 2026.
(Editor: Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan