Oleh: Ruslan Sangadji / Ahli Pers Dewan Pers
ADA ORANG yang ketika meninggal dunia, yang pergi hanya raganya. Nama, karya, dan jejaknya tetap tinggal, bahkan terus hidup dalam ingatan banyak orang. Basri Marzuki adalah salah satu dari sedikit orang seperti itu.
Menulis tentang Basri Marzuki, atau yang akrab disapa BMZ, mungkin tidak akan pernah benar-benar selesai. Selalu ada cerita yang tertinggal, selalu ada kenangan yang belum sempat dituliskan.
Pada tahun 2022, ketika pandemi Covid-19 belum juga berakhir, Dewan Pers menggelar penyegaran dan pelatihan Ahli Pers Dewan Pers di Bali. Dalam daftar peserta yang mengikuti kegiatan tersebut, tercantum nama Basri Marzuki. Bagi BMZ, itu merupakan kali pertama mengikuti proses untuk menjadi Ahli Pers Dewan Pers.
Ia dinyatakan lulus dan resmi menyandang status Ahli Pers Dewan Pers, sebuah amanah yang memungkinkan dirinya memberikan keterangan ahli dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan pers di seluruh wilayah hukum Indonesia.
Sebagaimana dikenal banyak kolega, BMZ selalu menyikapi berbagai hal dengan ringan dan penuh humor.
Usia peleatihan itu, ia sempat main-main dengan saya: “Chan bahwa jika ada perkara pers, biarlah komiu yang memberikan keterangan ahli. Namun jika perkara itu berkaitan dengan pelanggaran hak cipta fotografi, maka ia siap berada di garis depan,” katanya dengan gaya khasnya, penuh senyum.
Saya menjawabnya: Tidak begitu. Pak Basri bisa semua. Jangan hanya saya, tapi kalau urusan beri keterangan ahli tentang pelanggaran hak cipta foto, saya menyerah. Itu keahlian komiu,” kata saya.
Candaan itu sederhana. Namun setelah kepergiannya, kenangan-kenangan kecil seperti itulah yang justru terasa paling berharga. Ada banyak percakapan yang dahulu tampak biasa, tetapi kemudian menjadi bagian dari ingatan yang sulit dilupakan.
Awal tahun 2026, Dewan Pers meminta seluruh Ahli Pers Dewan Pers di Indonesia memperbarui data mereka untuk kebutuhan basis data nasional. Nama Basri Marzuki masih tercatat dalam daftar tersebut.
Tak banyak yang menyangka bahwa beberapa bulan kemudian, nama yang sama akan dikenang dalam kabar duka yang menyebar ke berbagai penjuru negeri.
BMZ BUKAN JURANLIS BIASA
Basri Marzuki adalah sosok multitalenta yang langka. Menulis merupakan salah satu keahliannya. Namun fotografi adalah medium yang paling fasih digunakannya untuk berbicara kepada dunia.
Melalui kameranya, ia menangkap berbagai peristiwa penting, merekam denyut kehidupan masyarakat, serta mengabadikan sejarah dalam bingkai-bingkai yang mampu bercerita tanpa kata.
Karyanya melampaui batas daerah dan negara. Foto-fotonya kerap menghiasi berbagai media nasional maupun internasional. Sebagian lahir dari pengabdiannya di LKBN Antara, tempat ia menghabiskan sebagian besar perjalanan profesionalnya. Sebagian lainnya tersebar melalui jejaring dan reputasi yang dibangunnya selama puluhan tahun berkarya.
Namun sehebat apa pun karya-karya yang dihasilkannya, banyak orang mengenang BMZ bukan semata karena foto-fotonya.
Mereka mengenangnya karena kerendahan hati yang dimilikinya.
BMZ TIDAK PERNAH PELIT ILMU
Ia dengan sabar membimbing jurnalis-jurnalis muda, mengajarkan cara melihat peristiwa dari sudut pandang yang berbeda, serta mengingatkan bahwa fotografi bukan sekadar soal teknik, melainkan juga kepekaan dalam memahami kehidupan.
Banyak jurnalis hari ini yang mungkin tidak menyadari bahwa sebagian kemampuan yang mereka miliki tumbuh dari pengetahuan dan pengalaman yang pernah dibagikan oleh Basri Marzuki.
Ia menanam ilmu seperti petani menanam benih. Tidak pernah menghitung berapa yang akan kembali kepadanya. Yang terpenting baginya adalah memastikan sesuatu yang baik terus tumbuh dan berkembang.
Ketika kabar wafatnya menyebar, ucapan belasungkawa datang dari berbagai daerah. Doa-doa dipanjatkan. Banyak yang mengenang kebaikannya. Banyak pula yang kembali membuka karya-karyanya.
Rasa kehilangan terasa nyata. Saat itulah semakin terlihat bahwa BMZ tidak hanya meninggalkan foto-foto yang tersimpan dalam arsip media. Ia juga meninggalkan persahabatan, keteladanan, dan jejak kemanusiaan yang tertanam dalam hati banyak orang.
Mungkin itulah ukuran sejati seorang manusia. Bukan seberapa lama ia hidup, melainkan seberapa luas manfaat yang ditinggalkannya.
Basri Marzuki telah menyelesaikan tugasnya di dunia. Namun karya-karyanya masih terus berbicara. Murid-muridnya masih melanjutkan langkahnya. Nilai-nilai yang diwariskannya tetap hidup dalam praktik jurnalistik yang menjunjung integritas dan kemanusiaan.
Karena itu, menulis tentang Basri Marzuki mungkin memang tidak akan pernah selesai.
Setiap kali sebuah foto berbicara tentang kemanusiaan, setiap kali seorang jurnalis muda berbagi ilmu kepada generasi berikutnya, dan setiap kali profesionalisme dijaga dengan penuh tanggung jawab, di sana terdapat bagian dari warisan yang pernah ditinggalkan BMZ.
Selamat jalan, Basri Marzuki. Terima kasih telah menunjukkan bahwa menjadi jurnalis bukan hanya soal mencari berita, tetapi juga tentang merawat kemanusiaan.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. (*)

Tinggalkan Balasan