Ruslan Sangadji / Kaidah.ID
Aroma kopi memenuhi ruangan Solusi Kopie di Desa Keurea, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali. Siang itu, sebagian besar meja terisi pekerja yang baru menyelesaikan giliran kerja dari kawasan industri. Di tengah percakapan mereka, cangkir demi cangkir kopi tersaji tanpa henti.
Bagi Moh. Ahdiat (27), pemilik kedai tersebut, pemandangan itu bukan sesuatu yang biasa. Ia adalah saksi hidup perubahan besar yang terjadi di Bahodopi dalam beberapa tahun terakhir.
Lulusan sarjana asal Morowali itu, sempat berpikir untuk bekerja di kawasan industri. Namun pengalaman di dunia kopi membuatnya mengambil jalan berbeda. Pada 2021, ia memilih membuka usaha sendiri. Dan keputusan itu kini berbuah manis.
Sekitar 80 persen pelanggan Solusi Kopie, berasal dari pekerja PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan perusahaan-perusahaan tenant yang beroperasi di dalam kawasan.
“Dengan bertambahnya jumlah pekerja dan meningkatnya aktivitas ekonomi, usaha kami ikut berkembang,” ujar Ahdiat.
Dalam periode Juni 2025 hingga Juni 2026, omzet kedainya mencapai Rp120 juta hingga Rp150 juta per bulan. Usaha yang awalnya dirintis sendiri kini mempekerjakan 10 orang sebagai barista, kasir, pelayan, hingga staf dapur.
Kisah Ahdiat hanyalah satu potret kecil, dari perubahan ekonomi yang terjadi di Bahodopi sejak kawasan industri IMIP berkembang, menjadi pusat hilirisasi nikel terbesar di Indonesia.
Rp492 Miliar Berputar Setiap Bulan
Di balik pertumbuhan usaha-usaha lokal tersebut, terdapat mesin ekonomi raksasa yang terus bergerak. Berdasarkan hasil survei Tim Research and Support Departemen Secretariat and General Affair (SGA) PT IMIP, mayoritas tenaga kerja di kawasan industri berada pada rentang usia produktif 26-35 tahun dengan proporsi mencapai 56,4 persen.
Kelompok usia produktif ini menjadi motor konsumsi di Bahodopi. Sebanyak 98,4 persen responden, mengalokasikan pengeluaran untuk kebutuhan makanan dan minuman setiap hari, dengan rata-rata belanja mencapai Rp2,19 juta per orang per bulan.
Secara agregat, total pengeluaran pekerja IMIP diperkirakan mencapai Rp492 miliar per bulan atau sekitar Rp5,9 triliun per tahun. Angka tersebut, menggambarkan besarnya daya beli yang beredar di sekitar kawasan industri.
Dampaknya langsung terlihat pada pertumbuhan UMKM. Hingga 2025, terdapat sekitar 7.643 unit usaha mikro, kecil dan menengah yang beroperasi di Bahodopi dan sekitarnya. Sebanyak 78 persen merupakan usaha mikro dan 22 persen usaha kecil.
Data survei UMKM PT IMIP mencatat, terdapat 2.107 unit usaha kuliner atau sekitar 26 persen dari total UMKM yang ada. Dari jumlah tersebut, sebanyak 111 unit merupakan kafe dan restoran.
Pertumbuhan ini menunjukkan, bahwa hilirisasi tidak hanya menciptakan aktivitas industri di dalam kawasan, tetapi juga memunculkan rantai ekonomi baru di luar pagar pabrik.
Warung, Kos dan Transportasi Ikut Bertumbuh
Perputaran ekonomi tidak hanya terjadi pada sektor makanan dan minuman. Survei yang sama menunjukkan sebanyak 82,6 persen pekerja tinggal di rumah kos atau kontrakan dengan rata-rata biaya sewa mencapai Rp1,26 juta per bulan. Sementara 79,3 persen responden, mengeluarkan biaya transportasi secara rutin.
Kebutuhan tersebut mendorong tumbuhnya usaha rumah kos, jasa transportasi, laundry, bengkel, toko kelontong hingga perdagangan eceran.
Menariknya, 57 persen pekerja lebih memilih berbelanja di warung atau kios milik masyarakat dibandingkan toko modern. Kedekatan lokasi dan harga yang lebih terjangkau menjadi alasan utama.
Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sulawesi Tengah menilai, kondisi ini membuka peluang besar bagi penguatan sektor perdagangan, logistik, konstruksi, dan UMKM agar manfaat ekonomi industri semakin merata.
Dari Daun Menjadi Rupiah
Efek ekonomi IMIP juga menjangkau kelompok perempuan di desa-desa sekitar kawasan industri. Di Desa Bahomakmur misalnya, para perempuan yang tergabung dalam Kelompok Ecoprint Wanita Sejahtera Bahomakmur, mengubah dedaunan menjadi produk bernilai ekonomi.
Kelompok yang dibentuk pada Februari 2024 melalui program pemberdayaan masyarakat PT IMIP tersebut, beranggotakan sekitar 15 orang yang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari ibu rumah tangga, anggota PKK, guru hingga penjahit.
Ketua kelompok, Wa Ode Amanah, mengatakan kerajinan ecoprint memanfaatkan dedaunan alami yang banyak ditemukan di sekitar desa.
“Kami memanfaatkan dedaunan alami sebagai sumber warna dan motif. Daun-daun disusun di atas kain setelah melalui proses pengolahan warna menggunakan bahan alami,” katanya.
Produk yang dihasilkan berupa kain katun, sutra, linen, pashmina, tas, topi hingga tumbler dengan harga jual antara Rp150 ribu hingga Rp700 ribu.
Program ini menjadi salah satu contoh, bagaimana keberadaan industri dapat mendorong lahirnya sumber ekonomi alternatif bagi masyarakat lokal.
Motor Ekonomi Sulawesi Tengah
Dampak hilirisasi di IMIP, tidak hanya dirasakan di Bahodopi dan Morowali. Dalam dua tahun terakhir, kontribusi kawasan industri ini semakin terlihat terhadap perekonomian Sulawesi Tengah. Pada 2025, ekonomi Sulawesi Tengah mencapai Rp415,48 triliun dengan pertumbuhan sebesar 8,47 persen, jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang berada pada level 5,11 persen.
Industri pengolahan menjadi kontributor utama, dengan sumbangan sekitar 41 persen terhadap struktur ekonomi provinsi.
Kabupaten Morowali sendiri mencatatkan PDRB sekitar Rp197,77 triliun pada 2025 atau berkontribusi sekitar 47,6 persen terhadap total ekonomi Sulawesi Tengah.
Kepala Badan Pendapatan Daerah Sulawesi Tengah, Andi Irman, menilai hilirisasi nikel telah mengubah wajah ekonomi daerah.
“Dari sisi perdagangan luar negeri, Sulawesi Tengah mencatatkan kinerja yang solid dengan dominasi ekspor produk hasil hilirisasi industri. Nilai ekspor tinggi, terutama berasal dari kawasan industri di Morowali dan Morowali Utara sebagai pusat produksi logam berbasis nikel untuk pasar global,” ujarnya.
Sepanjang 2025, nilai ekspor Sulawesi Tengah mencapai USD22,32 miliar, tumbuh 5,14 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebanyak 81 persen ekspor tersebut, berasal dari aktivitas di Bahodopi dan Morowali, dengan dominasi produk besi dan baja sebesar 61,31 persen serta nikel 16,59 persen.
Investasi Raksasa dan Serapan Tenaga Kerja
Besarnya aktivitas ekonomi di Morowali, tidak terlepas dari arus investasi yang terus mengalir. Hingga Desember 2025, total investasi di kawasan IMIP mencapai USD41,48 miliar atau setara Rp696,91 triliun. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun 2022 yang sebesar USD29,6 miliar.
Deputi Direktur Operasional PT IMIP, Yulius Susanto, mengatakan pertumbuhan investasi tersebut berjalan beriringan dengan peningkatan aktivitas industri.
“Investasi di kawasan IMIP terus meningkat secara konsisten. Pertumbuhan ini juga berdampak langsung pada peningkatan serapan tenaga kerja,” katanya.
Data Departemen Human Resources PT IMIP menunjukkan, jumlah pekerja Indonesia di kawasan tersebut mencapai 89.849 orang hingga Januari 2026.
Sebanyak 82.637 pekerja atau sekitar 92 persen berasal dari Sulawesi. Dari jumlah itu, 26.935 orang berasal dari Sulawesi Tengah dan 14.613 merupakan warga lokal Morowali.
Data tersebut menunjukkan, bahwa manfaat ekonomi kawasan industri tidak hanya datang melalui investasi, tetapi juga melalui penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
Pengakuan Nasional dan Internasional
Sejumlah program sosial dan pemberdayaan masyarakat yang dijalankan IMIP, juga mendapat pengakuan nasional maupun internasional.
Pada Global CSR & ESG Awards 2026 di Bangkok, Thailand, IMIP meraih empat penghargaan, termasuk Gold Award kategori Best Country Excellence melalui program Healthy Community Initiative di Bahodopi.
Perusahaan juga meraih penghargaan untuk program Rumah Literasi IMIP, pelestarian mangrove dan terumbu karang, serta pengembangan hortikultura berbasis komunitas.
Head of CSR Department PT IMIP, Tommy Adi Prayogo, mengatakan penghargaan tersebut menjadi bukti komitmen perusahaan terhadap pembangunan berkelanjutan.
“Pencapaian ini menjadi bukti komitmen PT IMIP dalam menjalankan program CSR dan ESG yang berkelanjutan, memberikan dampak sosial yang nyata serta selaras dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan di sekitar wilayah operasional,” ujarnya.
Pada Nusantara CSR Awards 2026, IMIP kembali meraih penghargaan melalui program kesehatan masyarakat, pemberdayaan perempuan melalui ecoprint, serta pengembangan hortikultura komunitas.
Menjaga Pertumbuhan Tetap Berkelanjutan
Meski demikian, pertumbuhan ekonomi yang pesat juga menghadirkan tantangan.
Kepadatan lalu lintas meningkat. Kebutuhan air bersih bertambah. Pengelolaan sampah dan lingkungan menjadi isu yang harus terus diperhatikan. Kebutuhan hunian pekerja semakin besar. Keselamatan kerja juga harus menjadi prioritas.
Morowali kini menjadi salah satu contoh paling nyata, bagaimana hilirisasi mampu mengubah daerah pinggiran menjadi pusat pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun keberhasilan sesungguhnya, bukan hanya soal nilai investasi yang mencapai ratusan triliun rupiah atau ekspor miliaran dolar Amerika Serikat.
Keberhasilan itu tercermin dari semakin banyak warga yang memperoleh pekerjaan, lahirnya ribuan UMKM, berkembangnya usaha-usaha lokal, hingga tumbuhnya peluang ekonomi baru bagi perempuan dan generasi muda.
Dari secangkir kopi di Keurea hingga kain ecoprint di Bahomakmur, jejak perubahan itu terlihat jelas.
Di Morowali, hilirisasi tidak hanya mengolah nikel menjadi produk bernilai tambah, namun juga sedang mengubah kehidupan masyarakat di sekitarnya. (*)

Tinggalkan Balasan