PALU, KAIDAH.ID – Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah (Sulteng), KH. Zainal Abidin, memaparkan sejarah dan dinamika hubungan harmonis antara umat Islam dan Kristen di Kota Palu, dalam seminar memperingati 100 tahun Gereja Bala Keselamatan (BK) Korps 1 Palu, Rabu, 24 Juni 2026.
Seminar bertema relasi antarumat beragama tersebut digelar, sebagai bagian dari rangkaian peringatan satu abad kehadiran Gereja Bala Keselamatan di Kota Palu sejak 1926.
Dalam pemaparannya, Guru Besar UIN Datokarama Palu ini mengatakan, perjalanan satu abad Gereja Bala Keselamatan merupakan bukti kuatnya tradisi toleransi dan kerukunan, yang telah lama tumbuh di tengah masyarakat Kota Palu.
“Momentum 100 tahun ini bukan sekadar perayaan internal gereja, tetapi juga refleksi atas kedewasaan beragama dan ketahanan budaya masyarakat Palu yang mampu menjadikan perbedaan sebagai harmoni sosial,” kata Prof. Zainal Abidin di hadapan para perwira, opsir (pendeta), dan jemaat BK.
Ia menjelaskan, fondasi hubungan baik antara umat Islam dan Bala Keselamatan, telah dibangun sejak masa awal pelayanan gereja tersebut di Palu. Saat perintis Bala Keselamatan, Ensign Charles Jensen dan istrinya Nathalie Jensen, tiba di Palu pada 1913, mereka mendapat sambutan terbuka dari Raja Palu, Paduka Raja Parampasi, yang beragama Islam.
Menurut Prof. Zainal, sikap Raja Parampasi yang menghibahkan tanah bagi pelayanan Bala Keselamatan, menunjukkan adanya keterbukaan dan semangat persaudaraan yang kemudian diwariskan kepada masyarakat hingga saat ini.
Selain faktor sejarah, Prof. Zainal menilai budaya lokal Suku Kaili, ikut berperan besar dalam menjaga kerukunan. Nilai-nilai Nosarara Nosabatutu (Kita Bersaudara, Kita Bersatu) dan Sintuvu (kebersamaan dan gotong royong) menjadi perekat sosial yang mampu melampaui perbedaan agama.
Ia mengatakan, dalam kehidupan masyarakat Kaili, hubungan kekerabatan sering kali lebih dominan dibandingkan perbedaan keyakinan. Tidak jarang dalam satu keluarga besar terdapat anggota yang beragama Islam dan aktif di Alkhairaat, sementara anggota lainnya menjadi jemaat aktif BK.
“Dalam berbagai kegiatan adat, pernikahan maupun kedukaan, masyarakat Muslim dan Kristiani tetap bergotong royong bersama dengan saling menghormati keyakinan masing-masing, termasuk dalam penyediaan konsumsi halal,” ujarnya.
Prof. Zainal juga menyoroti pendekatan pelayanan Bala Keselamatan yang mengusung moto Heart to God, Hand to Man (Hati kepada Allah, Tangan kepada Manusia). Melalui berbagai layanan sosial, pendidikan, dan kesehatan tanpa diskriminasi, Bala Keselamatan dinilai telah menjadi mitra penting dalam pembangunan Kota Palu.
Menurutnya, keberadaan Rumah Sakit Woodward dan jaringan sekolah Bala Keselamatan selama ini, juga telah memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk umat Islam.
Ia menambahkan, hubungan harmonis tersebut juga teruji dalam berbagai situasi sulit, mulai dari dampak konflik Poso pada awal 2000-an hingga bencana gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi yang melanda Palu pada 28 September 2018.
“RS Woodward menjadi salah satu fasilitas kesehatan yang merawat ribuan korban bencana, sementara berbagai elemen masyarakat, baik dari kalangan gereja maupun organisasi Islam, bekerja bersama dalam upaya pemulihan,” katanya.
Menutup pemaparannya, Prof. Zainal menegaskan bahwa hubungan antara umat Islam dan jemaat Bala Keselamatan di Kota Palu, telah berkembang dari sekadar hidup berdampingan secara damai menjadi hidup bersama dalam kerja sama yang nyata.
“Menatap abad kedua, warisan harmoni yang berlandaskan nilai Nosarara Nosabatutu menjadi modal sosial yang sangat berharga untuk mewujudkan Kota Palu yang inklusif, maju, dan damai,” tutupnya. (*)
(Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan