Ternyata tingkah buruk Letexier sudah lama. Dan salah satu korban adalah Timnas Garuda, kala itu diasuh oleh Shin Tae-yong. Saat Garuda Muda lawan Guinea jelang Olimpiade Paris 2024.

APA JADINYA jika seorang pengadil (wasit) bertindak tak adil saat memimpin sebuah pertandingan besar di iven Piala Dunia Sepak Bola?

Nah! Itu yang terjadi. Nyata. Miliaran pasang mata warga dunia saksikan keculasannya. Saat laga penting antara Argentina vs Mesir di babak knock-out 16 besar.

Stadion Marcedez- Bens, Atlanta, Georgia, Amerika Serikat menjadi saksi aksi brutal sang wasit pada Selasa, 7 Juli 2026 siang di tengah cuaca terik. Rabu dini hari waktu Indonesia.

Wasit itu bernama Francois Letexier. Lahir di Bedee, Prancis, 23 April 1989. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga Yahudi Ortodoks yang fanatik.

Tak heran jika tim Mesir langsung protes keras saat FIFA umumkan namanya sebagai wasit. Tapi itulah FIFA.

Saat Belgia protes atas dianulirnya kartu merah pada stricker Amerika Serikat Falorin Balogun. Organisasi pengayom sepak bola dunia itu tak gubris. Malahan balik gertak Setan Merah, julukan Timnas Belgia. Akhirnya, karma bagi Timnas Abang Sam 1-4.

Sejak awal laga tampak Letexier sudah “berat sebelah”. Ketika pemain Mesir dikasari, peluitnya tak berbunyi. Lain halnya jika Messi dan kawan- kawan pura-pura jatuh saja, langsung disemprit.

Puncak kecurangannya ketika Mustafa Zico membobol gawang Argentina hasil build-up dari garis tengah dan menghempas asa Argentina menjadi 3-1. Namun lagi-lagi dibatalkan dengan argumen tak jelas.

Sebelum itu, gol balasan Argentina pada menit 79 sarat dengan dugaan offside Romero. Namun lucunya VAR tak perlihatkan adegan itu dalam info grafisnya. Benar-benar aneh! Akhirnya, Timnas Mesir “dikalahkan” dengan angka tipis 2-3 oleh Anak Emas FIFA.

Awalnya Timnas Argentina “diuntungkan” pada fase grup. Mereka berada di grup J bersama tim-tim lemah. Aljazair, Austria, serta Yordania. Pada babak gugur Argentina bertemu pendatang baru Tanjung Verde. La Albiceleste nyaris dipermalukan, walau akhirnya dengan susah payah menangkan fase gugur.

Nah! Pada babak 16 besar saat kontra Mesir, Messi dan kawan-kawan “dibantu” wasit yang juga mantan petugas pengadilan pada menit-menit krusial jelang berakhir pertandingan. Kini Tim Tango bukan siapa-siapa. Namun, mereka “dipelihara” untuk kepentingan sesaat.

Ternyata tingkah buruk Francois Letexier sudah lama. Dan salah satu korban adalah Timnas Garuda, kala itu diasuh oleh Shin Tae-yong. Saat Garuda Muda lawan Guinea jelang Olimpiade Paris 2024.

Olahraga sebagai tonggak peradaban umat manusia yang menjunjung tinggi sportivas telah dicederai oleh ego para pecundang yang lebih mengutamakan nafsu angkara murka.

Apakah salah jika saya berprasangka? Presiden Argentina saat ini Javier Gerardo Milei adalah pendukung setia Israel. Ia bahkan menyebut dirinya sebagai presiden paling Zionis di dunia.

Sejak terpilih pada 2023, ia menjadikan Israel negara pertama yang dikunjungi. Menerima medali kehormatan di sana dan berjanji memindahkan Kedubes Argentina di Yerusalem.

Dunia sepak bola sejak lama sudah masuk dalam lingkungan kejahatan. Konspirasi. Mafia. Atur skor, hingga ke jagat politik penuh intrik.

Miris. Ternyata quite popular yang diungkapkan Juvenal “Mens sana in corpore sano”, dalam karyanya berjudul Satire X sekitar abad kedua masehi, telah jauh melenceng.

Semangat sportivitas itu kini telah ternoda! (*)

Penulis: Alfa Lima
Editor: Ruslan Sangadji