Sepak bola memang punya cara unik menyatukan semua orang. Di lapangan, para pemain bertarung memperebutkan tiket semifinal. Di luar lapangan, para pendukung ikut bertanding melawan rasa cemas
SERATUS DUA PULUH MENIT. Itulah waktu yang cukup untuk membuat jutaan pendukung Argentina menahan napas. Di Sulawesi Tengah, salah satunya adalah Gubernur Anwar Hafid. Dikenal dengan PROGRAM BERANI, tapi Ahad, 12 Juli 2026 pagi, ia tak berani berkomentar.
Gubernur Anwar Hafid tegang. Ia gugup.
Kick-off dimulai. Argentina langsung menekan. Swiss memberikan perlawanan sengit. Peluang demi peluang tercipta. Ketegangan naik turun seperti gelombang di laut.
Namun, di grup WhatsApp Tuaka untuk Negeri, suasana justru berbeda. Biasanya ramai dengan komentar, kali ini nyaris tanpa suara dari sang gubernur.
Bukan karena sibuk. Bukan pula karena meninggalkan layar. Ia memilih menikmati setiap detik pertandingan dalam diam.
Menit demi menit berlalu. Detak jantung Gubernur Anwar Hafid semakin cepat. Nyaris tak bernapas. Hingga akhirnya…
Priiiittt!
Peluit panjang dibunyikan. Pertandingan selesai. Argentina keluar sebagai pemenang setelah melewati laga yang penuh drama.
Dan tepat setelah itulah, Anwar Hafid akhirnya mulai posting di grup WhatsApp Tuaka untuk Negeri.
“Saya tegang. Tidak sanggup komen.”
Hanya satu kalimat. Namun kalimat itu mewakili perasaan jutaan pendukung Albiceleste malam itu (pagi waktu Indonesia Barat).
Sepak bola memang punya cara unik menyatukan semua orang. Di lapangan, para pemain bertarung memperebutkan tiket semifinal. Di luar lapangan, para pendukung ikut bertanding melawan rasa cemas.
Bahkan Gubernur Sulawesi Tengah pun tak kebal dari drama sepak bola. Selama bola masih bergulir, jabatan seolah tak berarti. Yang ada hanyalah seorang suporter yang berharap tim kesayangannya bertahan hingga peluit akhir.
Dan ketika peluit itu akhirnya benar-benar berbunyi, satu hal yang paling terdengar bukan lagi sorak kemenangan, melainkan helaan napas lega.

Argentina Taklukan Swiss 3-1, Lolos ke Semifinal
Argentina memastikan satu tempat di semifinal Piala Dunia 2026, setelah menundukkan Swiss 3-1 dalam laga penuh drama di Stadion Kansas City, Sabtu, 11 Juli 2026 waktu setempat atau Ahad 12 Juli 2026 WIB.
Sejak peluit awal dibunyikan, Albiceleste langsung mengambil inisiatif serangan. Hasilnya datang cepat. Pada menit ke-10, Lionel Messi melepaskan umpan matang yang disambut Alexis Mac Allister dengan sundulan terarah. Bola meluncur mulus ke gawang Swiss dan membawa Argentina unggul 1-0.
Keunggulan itu bertahan hingga turun minum. Namun, Swiss bangkit pada babak kedua. Tepat di menit ke-67, Dam Dnoye berhasil memanfaatkan kelengahan lini belakang Argentina untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
Gol tersebut membuat pertandingan semakin panas. Kedua tim saling menyerang, tetapi tidak mampu mencetak gol tambahan hingga waktu normal berakhir. Laga pun harus berlanjut ke babak perpanjangan waktu.
Meski terlihat mulai kelelahan dan lebih banyak bertahan, pasukan Murat Yakin tetap memberikan perlawanan sengit. Mereka seolah siap bertarung hingga adu penalti. Namun, ketangguhan pertahanan Swiss akhirnya runtuh.
Julian Alvarez menjadi pahlawan Argentina. Dari luar kotak penalti, penyerang Manchester City itu melepaskan tembakan kaki kanan yang meluncur deras ke pojok kiri gawang. Kiper Swiss tak mampu menjangkaunya. Gol indah itu membawa Argentina kembali memimpin 2-1.
Saat Swiss berusaha habis-habisan mengejar ketertinggalan, Argentina justru memastikan kemenangan pada masa injury time babak tambahan. Lautaro Martinez memanfaatkan ruang di lini belakang lawan untuk mencetak gol ketiga sekaligus mengunci kemenangan 3-1.
Kemenangan ini mengantarkan Argentina melangkah ke semifinal Piala Dunia 2026. Albiceleste menjaga asa mempertahankan dominasi mereka di panggung sepak bola dunia setelah melewati salah satu pertandingan paling menegangkan di turnamen ini. (*)
(Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan