Yang berjalan bersama hanyalah jejak-jejak perbuatan. Kata-kata yang pernah diucapkan. Air mata yang pernah dihapus. Luka yang pernah disembuhkan. Kebaikan yang pernah ditanam. Atau sebaliknya, keburukan yang pernah ditebarkan
DI TIDORE, nasihat tidak dibangun dari dinding-dinding sekolah. Nasihat tumbuh dari usia. Dari keriput yang menyimpan pengalaman. Dari mata yang telah lama menyaksikan manusia berganti wajah, berganti kuasa, berganti zaman. Nasihat mengalir bersama angin yang melintasi gunung, menyusuri laut, lalu berdiam di dalam hati mereka yang bersedia mendengarnya.
Orang-orang tua menyebutnya bukan sekadar petuah. Tetapi sebagai penuntun hidup: Ahu se gogahu ngone fo eli -Jagalah hidup. Jagalah kehidupan.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di dalamnya tersimpan amanah yang nyaris tak berbatas. Menjaga kehidupan bukan hanya memastikan tubuh tetap bernapas. Lebih dari itu, menjaga agar kemanusiaan tidak kehilangan wajahnya. Agar kasih sayang tidak dikalahkan kebencian. Agar alam tetap menjadi rumah, bukan sekadar sesuatu yang dihabiskan.
Lalu nasihat itu berjalan lebih jauh: Loa se banari ngone fo jaga – Jagalah jalan kebenaran.
Sebab hidup tanpa kebenaran, hanyalah langkah-langkah yang kehilangan tujuan. Manusia boleh memiliki kecerdasan setinggi langit, kekuasaan seluas bumi, dan harta sebanyak lautan. Namun ketika kebenaran ditinggalkan, semua itu hanya akan menjadi bayang-bayang yang akhirnya lenyap ditelan waktu.
Karena itu para leluhur mengajarkan keberanian: Nohoda banari no waje banari -Jika engkau melihat yang benar, katakanlah benar.
Kebenaran tidak menjadi lebih mulia karena banyak yang memujinya. Kebenaran tetap benar meski berdiri sendirian. Yang sering hilang bukanlah kebenaran itu sendiri, melainkan keberanian manusia untuk mengucapkannya.
Lalu mereka mengingatkan dengan ketegasan yang sama: No baso yo sala no waje sala – Jika yang salah memang salah, katakanlah salah.
Sebab kebohongan tidak menjadi kebenaran hanya karena diulang berkali-kali. Kesalahan tidak berubah menjadi kebajikan, hanya karena dilakukan oleh banyak orang. Dan diam di hadapan ketidakadilan, sering kali menjadikan seseorang bagian dari ketidakadilan itu sendiri.
Hidup, kata orang-orang tua Tidore, memiliki hukum yang tak pernah lalai mencatat: E jira e ma bang jira – Keburukan akan kembali kepada pelakunya. E laha e ma bang laha – Kebaikan pun akan pulang kepada mereka yang menanamnya.
Barangkali tidak hari ini. Mungkin juga tidak esok.
Tetapi waktu adalah saksi yang tidak pernah berkhianat. Kehidupan selalu menemukan jalannya untuk mengembalikan apa yang pernah dititipkan manusia kepadanya. Sebab semesta memiliki ingatan yang jauh lebih panjang daripada usia kita.
Lalu petuah itu berhenti pada sebuah kalimat yang sunyi. Kalimat yang membuat setiap manusia menundukkan kepala: Sone duga gosa bulo – Pada akhirnya, kita pulang hanya dengan kafan.
Kita diadakan dari yang tiada, akan kembali pada ketiadaan. Di antara ada dan tiada itulah ketiadaan.
Kita diciptakan dari tanah, akan kembali pada tanah. Di antara tanah dan tanah itu adalah tanah jua.
Begitulah hidup dipulangkan. Tanpa rumah yang megah. Tanpa gelar yang panjang. Tanpa jabatan yang pernah diperebutkan. Tanpa harta yang selama ini dikumpulkan dengan segala cara. Semuanya tertinggal di belakang.
Yang berjalan bersama hanyalah jejak-jejak perbuatan. Kata-kata yang pernah diucapkan. Air mata yang pernah dihapus. Luka yang pernah disembuhkan. Kebaikan yang pernah ditanam. Atau sebaliknya, keburukan yang pernah ditebarkan.
Di situlah manusia akhirnya diukur. Bukan oleh apa yang dimiliki. Melainkan oleh apa yang telah diberikan kepada kehidupan.
Petuah orang-orang tua Tidore tidak sedang berbicara tentang satu agama, satu suku, atau satu bangsa. Petuah itu sedang berbicara tentang manusia. Tentang nurani yang seharusnya tetap menyala ketika dunia mulai gelap. Tentang keberanian menjaga kebenaran ketika kebohongan terasa lebih menguntungkan. Tentang keikhlasan menanam kebaikan meski tak selalu mendapat tepuk tangan.
Zaman boleh berganti. Kekuasaan boleh berpindah. Peradaban boleh berubah wajah. Namun nasihat itu tetap berdiri, seteguh Gunung Kie Matubu yang memeluk Tidore dan setabah laut yang mengelilinginya.
Jagalah kehidupan. Peliharalah kebenaran. Katakan yang benar adalah benar. Katakan yang salah adalah salah. Berbuatlah baik, karena kebaikan tidak pernah benar-benar hilang.
Sebab ketika seluruh perjalanan ini usai, ketika nama perlahan dilupakan dan dunia kembali berjalan tanpa kita, tidak ada lagi yang tersisa selain selembar kafan dan seluruh cerita yang pernah kita tuliskan melalui perbuatan.
Itulah warisan terbesar yang ditinggalkan para leluhur Tidore. Warisan yang tak pernah lapuk oleh waktu. Warisan yang akan selalu menemukan maknanya, selama manusia masih menghargai kebenaran, mencintai kebaikan, dan menyadari bahwa hidup hanyalah persinggahan menuju kepulangan.
Sone duga gosa bulo. (*)
(Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan