“Hati nurani saya terpanggil secara pribadi. Jadi spontanitas saja setelah membaca berita di media dan melihat foto anak-anak sekolah yang menyeberang sungai saat banjir”.
SETIAP PAGI, anak-anak di Desa Masungkang, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai, memulai perjalanan menuju sekolah dengan tantangan yang seharusnya tidak menjadi bagian dari masa kecil mereka.
Sebelum bertemu guru dan ruang kelas, mereka lebih dahulu harus menantang derasnya arus sungai.
Tidak ada jembatan yang menghubungkan kedua tepian. Yang ada hanyalah keberanian, kewaspadaan, serta doa yang mengiringi setiap langkah kecil mereka di tengah arus yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi ancaman.
Bagi warga Masungkang, sungai bukan sekadar bentang alam yang membelah desa. Sungai adalah batas yang setiap hari harus ditaklukkan.
Para petani melintasinya untuk menuju kebun. Orang tua menyeberang demi mencari nafkah. Anak-anak menjadikannya bagian dari perjalanan menuju sekolah, meski rasa cemas selalu hadir setiap kali debit air meningkat.
Harapan memiliki jembatan sebenarnya telah lama tumbuh di tengah masyarakat.
Namun selama bertahun-tahun, harapan itu hanya berpindah dari satu musim ke musim berikutnya tanpa pernah benar-benar menjadi kenyataan.
Kini, penantian panjang itu mulai menemukan ujungnya.
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, memutuskan membangun jembatan gantung di Desa Masungkang menggunakan dana pribadinya. Keputusan tersebut lahir bukan dari pertimbangan politik ataupun seremonial, melainkan dari panggilan hati setelah melihat kenyataan yang dihadapi masyarakat setiap hari.
“Hati nurani saya terpanggil secara pribadi. Jadi spontanitas saja setelah membaca berita di media dan melihat foto anak-anak sekolah yang menyeberang sungai saat banjir,” kata Anwar Hafid.
Baginya, persoalan itu bukan semata tentang membangun sebuah infrastruktur.
Yang dipertaruhkan adalah keselamatan anak-anak yang sedang memperjuangkan masa depan mereka melalui pendidikan.
“Karena kepentingan anak-anak untuk sekolah jadi yang paling utama buat saya,” ujarnya.
Keputusan itu juga membangkitkan kembali kenangan masa kecilnya. Ia teringat perjuangan ketika masih duduk di bangku SMP di Morowali sekitar 40 tahun silam, ketika keterbatasan akses juga menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Langkah tersebut kemudian menjadi jawaban atas kebutuhan paling mendasar masyarakat Masungkang: hadirnya akses yang aman.
Tanda-tanda pembangunan pun mulai terlihat.
Beberapa orang tampak menyusuri tepian sungai sambil membawa alat ukur. Mereka bukan sekadar melakukan survei teknis, tetapi sedang menentukan titik lahirnya sebuah penghubung yang selama ini hanya hidup dalam harapan warga.
Tim teknis kini menyusun desain dan spesifikasi jembatan agar sesuai dengan kondisi lapangan.
Tri Harsono Sibay, yang dipercaya mengawal pembangunan tersebut, mengatakan proses pengukuran diperkirakan berlangsung sekitar satu pekan sebelum pekerjaan fisik dimulai.
“Pengukuran dilakukan terlebih dahulu untuk memastikan spesifikasi teknis jembatan. Jika semua berjalan sesuai rencana, paling cepat dalam waktu satu minggu pekerjaan sudah bisa dieksekusi,” ujarnya.
Menurut Tri, setiap tahapan harus dilakukan secara cermat agar jembatan nantinya benar-benar aman digunakan masyarakat dalam jangka panjang.
Ia menjelaskan, penggunaan dana pribadi dipilih karena kondisi APBD Provinsi Sulawesi Tengah masih terdampak kebijakan efisiensi anggaran. Jika harus menunggu seluruh proses penganggaran pemerintah, masyarakat harus menunggu lebih lama, sementara risiko yang mereka hadapi terjadi setiap hari.
Waktu, bagi warga Masungkang, tidak pernah benar-benar berhenti.
Setiap pagi, anak-anak tetap harus menyeberangi sungai. Setiap sore, orang tua masih menunggu dengan rasa cemas hingga anak-anak mereka kembali ke rumah dengan selamat.
Karena itulah, bagi Anwar Hafid, pembangunan jembatan ini bukan sekadar menghadirkan konstruksi baja, kabel, dan lantai pijakan.
Ini adalah upaya menghadirkan rasa aman.
“Tidak ada waktu lagi untuk saling menyalahkan. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana ada yang peduli terhadap rakyatnya dan segera menghadirkan solusi atas persoalan yang mereka hadapi,” kata Tri menjelaskan semangat yang mendasari keputusan tersebut.
Pembangunan jembatan ini juga diharapkan menjadi ruang bagi tumbuhnya kembali semangat gotong royong.
Tri mengajak masyarakat yang ingin berpartisipasi untuk menjadi relawan agar proses pembangunan dapat berlangsung lebih cepat.
“Insyaallah tidak ada hambatan dalam pembangunan jembatan ini. Bagi masyarakat yang ingin membantu sebagai relawan, mari bersama-sama bergotong royong membangun jembatan untuk saudara-saudara kita di Desa Masungkang. Semoga jembatan ini dapat segera dimanfaatkan dan memberikan rasa aman bagi seluruh warga,” ujarnya.
Langkah Anwar Hafid juga mendapat apresiasi dari Pemerhati dan Praktisi Pendidikan, Indra Charismadji.
Menurutnya, keputusan membangun Jembatan Masungkang dengan dana pribadi mencerminkan kepekaan seorang pemimpin terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
“Langkah Gubernur Anwar Hafid patut diapresiasi sebagai wujud kepekaan, keberanian, dan respons cepat seorang pemimpin terhadap penderitaan konkret masyarakat,” kata Indra.
Bagi banyak orang, jembatan hanyalah sebuah bangunan yang menghubungkan dua tepian sungai.
Namun bagi warga Masungkang, jembatan itu akan menjadi lebih dari sekadar konstruksi.
Ia akan menjadi jalan yang menghubungkan anak-anak dengan pendidikan, petani dengan penghidupan, keluarga dengan ketenangan, dan sebuah desa dengan harapan yang selama ini terpisahkan oleh derasnya aliran sungai.
Ketika suatu hari jembatan gantung itu benar-benar berdiri membentang di atas sungai, mungkin tak banyak yang akan mengingat panjang bentangnya atau berapa besar biaya yang telah dikeluarkan.
Yang akan tinggal dalam ingatan masyarakat adalah kenyataan bahwa ketika harapan terasa semakin jauh, ada seseorang yang memilih bergerak lebih dulu.
Dan dari Desa Masungkang, sebuah jembatan tidak hanya menghubungkan dua tepi sungai.
Ia juga menghubungkan kepedulian dengan harapan. (*)

Tinggalkan Balasan