Selama Januari hingga Mei 2026 terjadi ekspor sebanyak 6.615 ton, lalu terus meningkat dan tercatat Januari hingga Juli 2026, ekspor durian beku ke China mencapai 7.344 ton
PALU, KAIDAH.ID – Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Anwar Hafid, mendorong provinsi tersebut menjadi salah satu sentra durian terbesar dunia melalui penguatan produksi, hilirisasi, dan perluasan pasar ekspor.
Dorongan itu disampaikan Anwar saat membuka kegiatan “Berani Merdeka Ekspor Durian” yang digelar Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tengah, Rabu, 12 Agustus 2026.
Anwar mengatakan, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat posisi durian Sulawesi Tengah di pasar nasional sekaligus membuka akses yang lebih luas ke pasar internasional.
“Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi starting point bagi kita untuk benar-benar menjadikan Sulawesi Tengah sebagai raja durian dunia,” kata Anwar.
Menurut Anwar, Sulawesi Tengah telah memiliki identitas produk melalui branding “Durian Vulcano Indonesia”. Branding tersebut diharapkan menjadi ciri khas durian asal Sulawesi Tengah di pasar domestik maupun mancanegara.
Ia mengatakan, upaya menembus pasar ekspor telah dilakukan sejak sebelum dirinya menjabat sebagai gubernur. Ekspor perdana durian Sulawesi Tengah terealisasi pada 2025 dan terus dikembangkan hingga saat ini.
Dalam dua kunjungannya ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Anwar juga membawa misi memperkenalkan durian Sulawesi Tengah. Menurutnya, China merupakan salah satu pasar potensial karena letaknya relatif dekat serta semakin terbukanya konektivitas transportasi antara Sulawesi Tengah dan China.
“Dari sisi rasa, durian kita tidak kalah. Ini peluang besar bagi Sulawesi Tengah,” ujarnya.
Ekspor Durian Beku Melonjak
Peluang tersebut mulai terlihat dari meningkatnya ekspor durian beku asal Sulawesi Tengah ke China sepanjang 2026.
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sulawesi Tengah/Barantin, Ahmad Mansur Alfian, mengatakan volume ekspor durian beku Sulteng ke China mencapai 7.344 ton hingga Juli 2026.
“Jika selama Januari hingga Mei 2026 terjadi ekspor sebanyak 6.615 ton, lalu terus meningkat dan tercatat Januari hingga Juli 2026 ekspor durian beku ke China mencapai 7.344 ton,” kata Alfian di Palu, Selasa, 11 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, ekspor durian beku asal Sulawesi Tengah ke China baru dilakukan pada 2026. Hingga Juli, sebanyak 272 kontainer durian beku telah dikirim melalui Pelabuhan Pantoloan Palu.
Setiap kontainer memuat sekitar 27 ton durian beku, dengan nilai komoditas berkisar Rp2,5 miliar hingga Rp2,8 miliar per kontainer.
Dengan jumlah tersebut, potensi nilai ekspor durian beku Sulawesi Tengah diperkirakan mencapai sekitar Rp680 miliar hingga Rp762 miliar hingga Juli 2026.
“Kalau dihitung dari jumlah kontainer, potensi nilai ekspor durian beku Sulteng cukup besar. Sampai saat ini juga belum ada komplain dari pihak China terkait komoditas yang dikirim,” ujarnya.
Saat ini terdapat tujuh perusahaan packing house di Sulawesi Tengah yang telah melakukan ekspor durian beku ke China.
Menurut Alfian, tingginya permintaan pasar China menjadi peluang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan produksi sekaligus memperluas pasar ekspor komoditas hortikultura daerah.
Balai Karantina, kata dia, terus melakukan pengawasan dan memastikan pemenuhan persyaratan karantina terhadap komoditas yang diekspor guna menjaga kualitas dan keamanan pangan.
“Ini menjadi peluang bagi komoditas durian untuk semakin dikenal dan diterima di pasar internasional,” ucap Alfian.
Ia menambahkan, peningkatan ekspor harus diikuti dengan konsistensi kualitas produk dan pemenuhan standar internasional. Dengan demikian, pertumbuhan volume ekspor dapat membuka peluang investasi, memperkuat hilirisasi, serta meningkatkan kesejahteraan petani.
Pemerintah dan Dunia Usaha Harus Berkolaborasi
Gubernur Anwar menegaskan, target menjadikan Sulawesi Tengah sebagai “raja durian dunia” tidak dapat dicapai pemerintah seorang diri.
Kolaborasi antara pemerintah, petani, dan dunia usaha diperlukan untuk membangun ekosistem durian dari sektor hulu hingga hilir.
Pemerintah, katanya, harus berperan sebagai regulator dengan menghadirkan regulasi dan pelayanan yang memudahkan investasi serta pengembangan usaha. Sementara dunia usaha menjadi operator yang menggerakkan produksi dan ekspor.
“Kalau kita mau sukses, tidak boleh ada ego sektoral. Kuncinya adalah kolaborasi. Pemerintah memberi ruang dan dukungan, dunia usaha bergerak di depan,” tegas Gubernur.
Ia juga meminta pemerintah kabupaten dan kota mendukung pembangunan packing house, rumah durian, kemudahan perizinan, serta pembinaan petani.
Menurut Anwar, pengembangan durian tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi pertanian, tetapi juga berpotensi memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
“Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan masyarakat. Multiplier effect dari proses hilirisasi durian ini luar biasa,” kata Gubernur Anwar.
Anwar meminta pengembangan komoditas durian dilakukan secara berkelanjutan dengan memperhatikan kualitas dan kontinuitas produksi. Kemampuan memenuhi kebutuhan pasar secara konsisten menjadi salah satu kunci agar durian Sulawesi Tengah mampu bersaing di pasar internasional.
Kegiatan “Berani Merdeka Ekspor Durian” tersebut juga dirangkaikan dengan peluncuran dashboard potensi komoditas pertanian.
Hadir dalam kegiatan itu Direktur Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian Fausiah T. Ladja, Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae, Wakil Wali Kota Palu Imelda Liliana Muhidin, Wakil Bupati Morowali Irine Ilyas, Ketua TP-PKK Sulawesi Tengah Sry Nirwanti Bahasoan, serta sejumlah kepala OPD lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.
Dengan produksi yang terus diperkuat, hilirisasi yang berkembang, serta akses ekspor yang semakin terbuka, Sulawesi Tengah kini memiliki peluang besar menjadikan durian bukan sekadar komoditas unggulan daerah, tetapi juga salah satu penggerak baru perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. (*)
(Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan