Untuk pertama kalinya, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menggelar ziarah dan zikir bersama di makam Pahlawan Nasional Tombolotutu pada momentum HUT Kemerdekaan RI. Gubernur Anwar Hafid ingin menjadikannya sebagai agenda rutin setiap 17 Agustus

Ruslan Sangadji | Kaidah.ID

ADA YANG BERBEDA pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Sulawesi Tengah.

Bukan hanya upacara. Bukan pula sekadar perayaan.

Pada Senin, 17 Agustus 2026, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah membawa suasana kemerdekaan ke Toribulu, Kabupaten Parigi Moutong.

Ke makam seorang pejuang. Ke pusara Pahlawan Nasional Tombolotutu.

Ziarah dan zikir bersama digelar di tempat itu. Langkah ini menjadi sesuatu yang baru.

Selama ini, ziarah ke makam pahlawan lebih lekat dengan peringatan Hari Pahlawan setiap 10 November.

Namun Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid memilih cara berbeda. Ia membawa tradisi ziarah dan zikir ke dalam peringatan kemerdekaan.

Bukan sekadar seremoni. Tetapi sebagai cara untuk kembali mengingat dari mana kemerdekaan itu diperjuangkan.

Menjadikan 17 Agustus sebagai Momentum Mengenang Perjuangan

Gubernur Anwar Hafid ingin ziarah ke makam Tombolotutu, tidak berhenti sebagai kegiatan sekali jalan.

Ia ingin menjadikannya tradisi.
Agenda resmi daerah.

Setiap 17 Agustus, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah akan datang ke Toribulu untuk berziarah.

“Di sini ada pahlawan nasional. Makanya saya datang. Setiap tahun nanti pemerintah provinsi setiap tanggal 17 Agustus akan datang berkunjung di Toribulu untuk berziarah,” kata Gubernur Anwar Hafid.

Bagi Gubernur Anwar Hafid, kemerdekaan bukan hanya tentang upacara.

Bukan hanya tentang bendera yang berkibar.

Kemerdekaan juga tentang mengingat orang-orang yang pernah berdiri di garis depan perjuangan.

Mereka yang melawan penjajahan.
Mereka yang mempertaruhkan hidup.
Dan mereka yang gugur tanpa pernah menikmati kemerdekaan yang diperjuangkannya.

Di Toribulu, di Parigi Moutong, di Sulawesi Tengah, di Indonesia, nama itu adalah Tombolotutu.

Dari Makam, Menelusuri Jejak Perjuangan

Gubernur Anwar Hafid juga segera mengagendakan napak tilas perjalanan perjuangan Tombolotutu.

Langkah itu diawali dari makamnya di Toribulu. Dibuat dalam lima etape perjalanan.

Ada pesan yang ingin disampaikan.
Bahwa sejarah tidak boleh berhenti sebagai cerita di buku.

Sejarah harus didekatkan kepada masyarakat.
Terutama kepada generasi muda.

Makam Tombolotutu menjadi salah satu penanda penting perjalanan sejarah perjuangan rakyat Sulawesi Tengah.

Dari tempat inilah ingatan tentang perjuangan itu terus dirawat.
Ziarah menjadi pintu masuknya.
Zikir menjadi ruang untuk mendoakan para pejuang.

Dan napak tilas menjadi cara untuk mengenalkan kembali jejak perjuangan kepada generasi berikutnya.

**“Kemerdekaan Tidak Diberikan Secara Percuma”

Andi Mulhanan Tombolotutu, generasi ketiga Tombolotutu, menyambut baik langkah tersebut.

Ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Gubernur Anwar Hafid.

“Terima kasih Pak Gubernur, sudah mengagendakan acara yang luar biasa ini,” kata Mulhanan kepada kaidah.ID, Selasa, 18 Agustus 2026 di Jakarta.

Menurut Mulhanan, perjuangan Tombolotutu tidak bisa dipisahkan dari perjuangan rakyat Sulawesi Tengah.

Tombolotutu, kata dia, merupakan representasi perjuangan rakyat.

Simbol gerakan rakyat.

“Perjuangan Tombolotutu adalah representasi perjuangan rakyat Sulteng. Sebagai simbol gerakan rakyat. Bahwa kemerdekaan yang dinikmati rakyat Sulteng, tidak diberikan secara percuma, tapi diperjuangkan, direbut dengan darah dan air mata,” ujarnya.

Kalimat itu menjadi penting.

Sebab kemerdekaan selalu memiliki harga.

Ada pengorbanan di belakangnya.

Ada darah.

Ada air mata.

Dan ada nama-nama yang kemudian dikenang sebagai pahlawan.

Salah satunya Tombolotutu.

Gugur pada 17 Agustus 1901

Tombolotutu lahir pada 1857.

Ia kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh penting, dalam perlawanan terhadap penjajahan Belanda di Sulawesi Tengah.

Tanggal 17 Agustus 1901 menjadi hari terakhir perjuangannya.

Tombolotutu gugur setelah ditembak Belanda dalam pertempuran di Ujulari, Toribulu, Parigi Moutong.

Ironis sekaligus simbolis.
Tombolotutu gugur pada tanggal yang kelak menjadi hari kemerdekaan Indonesia.

Puluhan tahun kemudian, tanggal 17 Agustus justru menjadi momentum bangsa Indonesia merayakan kemerdekaan.

Kini, setiap 17 Agustus, Pemprov Sulawesi Tengah ingin kembali datang ke salah satu tempat Tombolotutu berjuang dan gugur.

Bukan untuk sekadar mengenang kematian atau yang biasa dikenal dengan istilah Haul.
Tetapi untuk merawat ingatan tentang perjuangan.

Pahlawan yang Harus Terus Dikenalkan

Tombolotutu resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, melalui Keputusan Presiden Nomor 109/TK/2021 tentang Penganugerahan Pahlawan Nasional.

Gelar itu bukan sekadar penghormatan.
Gelar itu menjadi pengingat, bahwa perjuangan melawan penjajahan juga terjadi di daerah-daerah.

Termasuk di Sulawesi Tengah.

Lantarah itu, agenda ziarah dan zikir 17 Agustus yang digagas Gubernur Anwar Hafid, memiliki makna lebih luas.

Gubernur mencoba menggeser cara memaknai hari kemerdekaan.

Dari sekadar merayakan. Menjadi juga mengenang.

Dari sekadar seremoni. Menjadi pembelajaran sejarah.

Dan dari satu kegiatan. Menjadi sebuah tradisi.

Toribulu kini bukan hanya tempat makam seorang pahlawan, yang juga akan dipugar oleh Gubernur Anwar Hafid.

Toribulu sedang diproyeksikan menjadi salah satu ruang, untuk merawat ingatan kolektif masyarakat Sulawesi Tengah.

Setiap 17 Agustus.

Bendera berkibar.

Doa dipanjatkan.

Nama Tombolotutu kembali disebut.

Dan jejak perjuangannya diharapkan tidak pernah hilang dari ingatan generasi setelahnya. (*)