Muhd Sangadji mengatakan, dirinya bersama sejumlah ilmuwan geologi dari berbagai universitas di Indonesia dan mancanegara, pernah melakukan eksplorasi ke sejumlah kawasan lembah yang menyimpan kekayaan warisan dunia tersebut pada 1-2 November 2025
PALU, KAIDAH.ID – Akademisi dan pemerhati lingkungan, Prof Muhd Nur Sangadji, menilai, Danau Poso memiliki potensi sebagai destinasi berkelas dunia, karena kekayaan biodiversitas, warisan geologi, ekologi, serta jejak peradaban manusia yang dimilikinya.
Menurutnya, status Danau Poso sebagai objek berkelas dunia, sudah terlihat dari karakter dan kekayaan yang dimilikinya. Tantangannya adalah, kesungguhan dalam mengelola potensi tersebut menjadi destinasi wisata dan kawasan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pandangan itu disampaikan Muhd. Nur Sangadji merespons tekad Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Anwar Hafid, yang mendorong Festival Danau Poso dan menjadi destinasi berkelas dunia.
Menurut dia, ketika mengevaluasi pelaksanaan Festival Danau Poso 2025, Gubernur Anwar Hafid telah menunjukkan kemauan untuk membawa danau tersebut ke level dunia.
“Boleh jadi, saat ini programnya belum berkelas dunia. Tapi sesungguhnya, objeknya telah berkelas dunia. Karena itu, kesungguhan mengelola objek inilah yang bisa membuat destinasinya menjadi berkelas dunia,” kata Muhd. Nur Sangadji.
Tiga Hal yang Menentukan
Guru Besar Universitas Tadulako ini menilai, pernyataan Gubernur tersebut merupakan political will atau kemauan politik. Namun, kemauan politik perlu diikuti dengan political budgeting berupa alokasi anggaran yang terukur dan political implementation berupa kesungguhan dalam pelaksanaannya.
“Kalau ketiga-tiganya tidak terlihat, maka satu-satunya harapan tersisa adalah community initiative atau inisiatif masyarakat, dan community participation atau partisipasi masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, apabila partisipasi masyarakat bertemu dengan kesungguhan pemerintah, energi yang dihasilkan akan sangat besar untuk mendorong pengembangan Danau Poso.
Ia mencontohkan, sejumlah inisiatif masyarakat yang selama ini telah bergerak menjaga dan mengembangkan potensi lingkungan.
Geopark Danau Poso
Salah satu contoh berada di lingkaran Danau Poso, melalui masyarakat penjaga danau yang didukung Yayasan Mosintuvu di bawah kepemimpinan Lian Gogali.
Prof Muhd. Nur Sangadji mengaku, ia pernah terlibat bersama kelompok tersebut dalam menginisiasi *Geopark* Danau Poso sebagai danau purba.
Menurutnya, danau purba dengan karakter seperti Danau Poso merupakan objek yang langka di dunia. Perjuangan masyarakat tersebut, telah berlangsung bertahun-tahun dan dapat menjadi salah satu pintu masuk, untuk mewujudkan Danau Poso sebagai destinasi berkelas dunia.
Contoh lainnya berada di Kota Palu melalui Yayasan Sekolah Mombine yang dipimpin Mumainah Korona.
Prof. Muhd. Nur Sangadji mengatakan, kelompok tersebut juga telah melakukan perjuangan selama bertahun-tahun dalam mendorong pembangunan berbasis ekologi.
Ia bahkan hadir sebagai host dalam talk show Sekolah Mombine dengan topik TAPE (Transfer Dana Pembangunan Berbasis Ekologi).
Menurutnya, konsep tersebut mendorong pengarusutamaan ekologi, sebagai pertimbangan dalam alokasi anggaran pembangunan, sehingga penggunaan keuangan dapat lebih efisien dan efektif, dengan tetap menjaga iklim investasi yang bermutu serta ramah terhadap aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup.
Danau Poso dan Warisan Peradaban
Dia juga menilai, pengenalan Danau Poso sebagai danau purba, tidak cukup hanya melalui aspek geologi. Potensi tersebut harus dikembangkan bersama warisan ekologi dan sosial yang berada di kawasan danau dan daerah tangkapan airnya.
Menurutnya, aglomerasi Danau Poso mencakup daerah tangkapan air atau catchment area yang kaya biodiversitas, sekaligus kawasan yang menyimpan benda purbakala dan situs peradaban manusia, termasuk tinggalan megalit.
“Memperkenalkan Danau Poso sebagai Danau Purba dengan Warisan Geologi, Ekologi dan Sosial akan mencakup aglomerasinya,” ujarnya.
Muhd Sangadji mengatakan, dirinya bersama sejumlah ilmuwan geologi dari berbagai universitas di Indonesia dan mancanegara, pernah melakukan eksplorasi ke sejumlah kawasan lembah yang menyimpan kekayaan warisan dunia tersebut pada 1-2 November 2025.
Eksplorasi itu dilakukan, katanya, untuk melihat keunikan dan rahasia di balik jejak peradaban manusia yang terdapat di kawasan tersebut.
“Objek yang ditemukan memiliki nilai berkelas dunia. Namun, persoalannya terletak pada akses dan fasilitas menuju kawasan yang masih relatif memprihatinkan,” tuturnya.
Jangan Berhenti di Pidato
Karena itu, Prof Muhd Nur Sangadji menilai, tidak keliru jika Gubernur Anwar Hafid menyebut upaya mewujudkan Danau Poso sebagai destinasi kelas dunia.
Namun, tekad tersebut harus diterjemahkan dalam langkah konkret dan tidak berhenti pada pidato.
“Beliau tentu saja tidak mulai dari nol. Maka, perlu menghimpun energi dari para stakeholder yang telah bergerak selama ini. Dan bergerak bersama. Kalau tidak demikian, kuatir hanya selesai di pidato,” katanya.
Ia menilai, momentum Gubernur Anwar Hafid tampil dalam Forum World Lake Day 2026, sebuah forum bergengsi tingkat dunia di ruang akademik Universitas Indonesia beberapa waktu lalu, menjadi peluang untuk memperkuat agenda tersebut.
Dalam forum tersebut, Gubernur Anwar Hafid tampil mewakili pemerintah Indonesia bersama lima narasumber dari berbagai negara.
Menurutnya, apabila Gubernur serius membawa Danau Poso menjadi destinasi dunia, peluang untuk mewujudkannya terbuka lebar dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan.
Danau Poso Adalah Kehidupan
Muhd Nur Sangadji menegaskan, danau yang terletak di Tentena itu, bukan sekadar kawasan perairan dengan keindahan alam. Danau Poso merupakan ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat, sekaligus memiliki kekayaan biodiversitas dan nilai ekologis yang penting.
Danau yang disebut sebagai danau tektonik terbesar ketiga di Indonesia, memiliki luas sekitar 365 kilometer persegi dengan kedalaman lebih dari 400 meter. Kawasan ini menopang kehidupan masyarakat di sekitar danau serta memiliki peran dalam menjaga iklim mikro dan keanekaragaman hayati Sulawesi Tengah.
Dalam presentasi Gubernur Anwar Hafid dalam forum dunia di UI tersebut, kata Muhd Nur Sangadji, presentasi ditutup dengan pesan yang menekankan pentingnya menjaga danau sebagai sumber kehidupan.
“Danau bukan sekadar air, kekayaan biodiversitas dan keindahan semata. Dia adalah kehidupan. Mari kita jaga bersama. Lake is life, keep it,” kata dia mengutip pesan yang disampaikan Gubernur Anwar Hafid dalam forum di UI tersebut. (*)
(Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan