Dan mungkin, bagi seorang anak Poso yang telah berjalan sejauh ini, kalimat itu bukan sekadar slogan. Itu adalah cara untuk menjelaskan mengapa ia berani melangkah. Karena ia tahu dari mana ia datang. Dan ia sedang mencoba menawarkan ke mana ia ingin membawa HMI

INI TENTANG bakal calon Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), yang akan bertarung pada Kongres XXXIII di Lampung November 2026 mendatang. Ia datang dari tempat yang jauh dari pusat kekuasaan, menempuh jalan panjang pendidikan dan kaderisasi, lalu menawarkan satu gagasan: HMI harus menyiapkan kader untuk dunia yang sedang berubah.

Ada masa ketika sebuah mimpi terasa terlalu besar untuk ukuran tempat seseorang memulainya.

Bagi Ahmad Rifai, mungkin masa itu terjadi ketika ia masih berada di Poso, Sulawesi Tengah. Di sebuah daerah yang jauh dari Jakarta, ia memulai perjalanan sebagai mahasiswa sekaligus kader Himpunan Mahasiswa Islam.

Ia berkuliah di Universitas Sintuwu Maroso, sebuah kampus yang namanya barangkali tidak banyak terdengar dalam percakapan tentang perguruan tinggi nasional. Namun dari kampus itulah perjalanan panjang Rifai bermula.

Ia tidak tahu, ketika pertama kali menapaki jalan kaderisasi HMI di Poso, bahwa kelak langkahnya akan membawanya ke Bogor, ke Institut Pertanian Bogor, ke lingkungan Pengurus Besar HMI, dan kemudian ke sebuah panggung yang jauh lebih besar: kontestasi menuju kursi Ketua Umum PB HMI.

Kini, menjelang Kongres ke-33 HMI yang akan digelar di Lampung pada November 2026, nama Ahmad Rifai berada di antara sejumlah kader yang menyatakan diri maju.

Kongres selalu menghadirkan banyak cerita. Ada pertemuan antarcabang, konsolidasi badko, silaturahmi dengan senior, percakapan panjang di ruang-ruang organisasi, hingga pertemuan dengan berbagai kalangan di luar organisasi.

Di tengah suasana seperti itu, Rifai datang dengan sesuatu yang ingin ia jadikan pembeda: gagasan.

Bukan sekadar gagasan tentang siapa yang layak memimpin HMI, tetapi tentang ke mana kader HMI harus dibawa ketika dunia berubah begitu cepat. Ia menyebutnya HMI Technopreneur.

Sebuah gagasan yang ingin menggabungkan keislaman, teknologi, dan kewirausahaan untuk membangun kader yang unggul, produktif, inovatif, serta mampu bersaing secara global.

Namun untuk memahami mengapa gagasan itu muncul dari seorang Ahmad Rifai, mungkin kita perlu kembali sejenak ke tempat ia memulai semuanya.

Anak Poso

Poso bukan Jakarta. Tidak ada pusat kekuasaan organisasi di sana. Tidak ada hiruk-pikuk politik nasional yang setiap hari menjadi tontonan. Tetapi di sanalah Rifai belajar, bahwa perjalanan besar tidak selalu dimulai dari tempat yang besar.

Ia menyelesaikan pendidikan S-1 di Universitas Sintuwu Maroso. Setelah itu, ia meninggalkan Poso dan melanjutkan pendidikan ke IPB University di Bogor, mengambil konsentrasi Bisnis Manajemen. Perjalanan akademiknya tidak berhenti pada jenjang magister. Kini ia masih melanjutkan pendidikan S-3 di kampus yang sama.

Di HMI, perjalanannya juga tidak berlangsung secara instan. Ia melewati jenjang kaderisasi dari LK-I, LK-II hingga LK-III. Dalam organisasi, ia pernah menjadi Ketua Komisariat Ekonomi, kemudian Ketua Umum HMI Cabang Poso, dan selanjutnya masuk dalam jajaran Pengurus Besar HMI. Profilnya juga mencatat pengalaman sebagai Wakil Bendahara Umum PB HMI.

Jika pendidikan formalnya bergerak dari S-1 menuju S-2 dan kemudian S-3, perjalanan kaderisasinya pun bergerak dari komisariat menuju cabang dan kemudian tingkat nasional. Ada kesinambungan di sana. Paripurna dalam jenjang kekaderan HMI.

Ia tumbuh dari daerah, tetapi tidak berhenti sebagai kader daerah. Ia datang ke pusat bukan dengan meninggalkan akar, tetapi membawa pengalaman dari tempat ia tumbuh. Mungkin karena itulah Rifai melihat kader HMI dengan cara yang sedikit berbeda.

Menurutnya, persoalan HMI bukan semata-mata bagaimana melahirkan kader yang mampu memimpin organisasi. Persoalan yang lebih besar adalah bagaimana memastikan kader memiliki kemampuan, untuk menjalani kehidupan setelah mereka selesai berproses di dalam organisasi. Sebab dunia di luar sana terus bergerak. Dan gerakannya semakin cepat.

Ketika Dunia Tidak Lagi Sama

Bayangkan seorang mahasiswa yang hari ini belajar satu keterampilan, lalu beberapa tahun kemudian mendapati keterampilan itu telah berubah karena teknologi.

Artificial Intelligence berkembang. Dunia industri bergerak menuju ekonomi digital. Pekerjaan yang dahulu membutuhkan banyak tenaga manusia mulai berubah bentuk. Model bisnis baru bermunculan. Cara orang belajar, bekerja, berkomunikasi, bahkan menciptakan sesuatu tidak lagi sama seperti satu dekade lalu.

Di tengah perubahan itu, Rifai melihat ada pertanyaan yang tidak bisa dihindari HMI. Apa yang akan dilakukan organisasi ini terhadap perubahan tersebut? Apakah kader hanya akan menjadi pengguna teknologi? Apakah mereka hanya akan menjadi orang yang menggunakan aplikasi, menikmati layanan digital, lalu menjadi konsumen dari inovasi yang diciptakan orang lain?

Ataukah HMI dapat melahirkan kader yang menguasai teknologi, menciptakan inovasi, membangun usaha, membuka lapangan pekerjaan, dan menggunakan teknologi untuk menjawab persoalan masyarakat? Dan Rifai memilih pilihan terakhir.

“Saya percaya, HMI harus mengambil posisi sebagai bagian dari perubahan itu,” katanya.

Dari sanalah HMI Technopreneur ia tawarkan sebagai paradigma. Bukan sekadar program teknologi. Bukan pula sekadar program kewirausahaan. Tetapi sebuah upaya membangun ekosistem kader yang menghubungkan kemampuan manusia, teknologi, bisnis, riset, jaringan, dan pengabdian. Dalam rancangan tersebut, enam unsur menjadi perhatian: human capital, digital, business, research, distribution, dan network.

Kader yang Tidak Berhenti pada Gelar

Rifai tampaknya ingin mengubah satu kebiasaan dalam cara organisasi memandang kader. Selama ini, seorang kader mungkin dikenal karena posisi organisasinya: pernah menjadi ketua komisariat, ketua cabang, pengurus badko, atau pengurus PB. Namun setelah semua jabatan itu selesai, pertanyaan berikutnya adalah: apa yang benar-benar ia kuasai?

Di dunia yang semakin kompetitif, pengalaman organisasi saja tidak selalu cukup. Kader membutuhkan keterampilan. Mereka membutuhkan sertifikasi. Mereka membutuhkan pengalaman profesional. Mereka membutuhkan jaringan. Dan yang tidak kalah penting, mereka membutuhkan kemampuan untuk membaca ke mana dunia bergerak.

Karena itu, Ahmad Rifai menawarkan pemetaan skill kader secara nasional, pelatihan AI, data dan coding, sertifikasi profesi, serta pembangunan talent database. Ia ingin HMI memiliki gambaran yang lebih jelas tentang potensi kader-kadernya.

“Saya ingin setiap kader mengetahui kemampuan dirinya, harus berkembang ke arah mana, dan bagaimana kemampuan itu dapat memberikan manfaat dan kemaslahatan bagi umat dan bangsa,” ujarnya.

Gagasan itu terdengar sederhana, tetapi jika dijalankan secara konsisten, konsekuensinya cukup besar. HMI tidak lagi hanya mengetahui berapa banyak kader yang dimiliki. HMI juga mengetahui siapa mereka, apa keahliannya, dan di mana mereka dapat berkontribusi.

Dari Mencari Kerja ke Menciptakan Kerja

Ada satu bagian lain dari gagasan Rifai, yang tidak bisa dipisahkan dari latar belakang pendidikannya di bidang bisnis dan manajemen: kewirausahaan. Ia melihat semangat insan pencipta dalam tujuan HMI harus diterjemahkan secara lebih konkret.

Kader, menurutnya, tidak boleh hanya memiliki cita-cita mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah. Lebih jauh dari itu, kader harus memiliki keberanian untuk menciptakan pekerjaan.

Bukan karena semua kader harus menjadi pengusaha, melainkan karena kemampuan menciptakan nilai ekonomi merupakan salah satu bentuk kontribusi yang dapat diberikan kader kepada masyarakat.

Maka muncul gagasan tentang inkubasi bisnis, pengembangan startup kader, mentorship, funding dan business matching, Venture Builder, hingga kemitraan dengan BUMN dan industri.

Rifai ingin HMI membangun jalur yang memungkinkan sebuah ide tidak mati sebagai proposal. Seseorang yang memiliki gagasan bisnis harus mendapatkan mentor. Ide yang memiliki potensi harus mendapatkan ruang pengembangan. Bisnis yang mulai tumbuh harus dipertemukan dengan jaringan dan pendanaan.

Dan kader yang memiliki kemampuan harus memiliki jalan untuk bertemu dengan dunia industri. Di situlah, bagi Rifai, HMI bukan hanya organisasi kaderisasi, tetapi juga sebuah ekosistem yang dapat membantu kader menemukan ruang kontribusinya.

Teknologi di Tangan Kader

Ada alasan lain mengapa Rifai menempatkan teknologi begitu penting dalam gagasannya. Ia tidak ingin kader HMI hanya menjadi penonton dari revolusi teknologi. Hari ini AI sudah berada di tangan manusia. Data menjadi sumber daya penting. Software telah mengubah hampir seluruh sektor kehidupan. Dunia usaha bergerak menuju model digital.

Tetapi teknologi itu sendiri tidak otomatis menyelesaikan masalah. Teknologi baru berarti ketika ada manusia yang menggunakannya untuk menciptakan sesuatu yang berguna.

Karena itu, Rifai ingin kader HMI mampu menggunakan teknologi untuk menyelesaikan persoalan UMKM, pendidikan, desa, ekonomi, pelayanan publik, dan berbagai persoalan sosial lainnya.

Di situlah ia menggunakan satu ungkapan yang menjadi salah satu inti gagasannya: mengubah kader dari konsumen teknologi menjadi pengembang solusi bangsa.

Jika gagasan itu berhasil diwujudkan, maka teknologi tidak lagi menjadi sesuatu yang berada di luar kaderisasi HMI. Ia menjadi salah satu instrumen pengabdian.

Bukan Program, tetapi Ekosistem

Rifai menyadari bahwa membuat program relatif mudah. Yang sulit adalah memastikan program itu saling terhubung dan bertahan. Karena itu, ia lebih memilih berbicara tentang ekosistem.

Ia membayangkan kader yang sedang belajar AI dapat bertemu dengan mentor yang berpengalaman. Kader yang memiliki ide bisnis dapat bertemu dengan orang yang memahami bisnis. Talenta yang sudah memiliki kompetensi dapat terhubung dengan industri. Startup yang memiliki potensi dapat memperoleh akses terhadap pendanaan.

Semua itu kemudian dirangkai dalam beberapa program, seperti HMI Talent Database, Digital & Entrepreneur Academy, mentorship dan sertifikasi, internship dan job matching, serta Venture Builder.

Dalam gagasan tersebut, HMI tidak hanya menjadi tempat kader bertemu dan berdiskusi. Ia menjadi semacam jembatan yang menghubungkan kader dengan dunia nyata.

Tahun Pertama Membangun, Tahun Kedua Memperbesar

Rifai juga membawa peta jalan yang cukup jelas. Pada tahun pertama, fokus diarahkan pada pembangunan fondasi. Talent database mulai dibangun, Digital & Entrepreneur Academy dikembangkan, mentorship dan sertifikasi dijalankan, sementara internship dan job matching dipersiapkan sebagai jembatan menuju dunia kerja.

Setelah fondasi itu terbentuk, tahun kedua diarahkan untuk memperbesar skala. Startup kader dikembangkan melalui Venture Builder, akses funding dan business matching diperluas, kemitraan dengan BUMN dan sektor industri dibangun, dan HMI Innovation Summit Nasional diproyeksikan sebagai ruang bertemunya inovasi serta jejaring kader HMI.

Rifai ingin ada ukuran yang lebih konkret dari kerja organisasi. Bukan hanya berapa banyak seminar yang diselenggarakan. Bukan hanya berapa banyak sertifikat yang dibagikan. Tetapi berapa banyak kader yang benar-benar berubah setelah mengikuti proses tersebut. Berapa banyak yang mendapatkan pekerjaan. Berapa banyak yang mampu membangun usaha. Berapa banyak lapangan kerja yang tercipta. Dan seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat.

Pertarungan Gagasan

Di sinilah perjalanan seorang anak Poso bertemu dengan dinamika Kongres HMI. Kongres akan selalu memiliki kontestasi. Akan selalu ada kandidat, pendukung, jaringan, dan strategi. Silaturahmi dengan cabang, badko, alumni, dan berbagai unsur organisasi merupakan bagian dari dinamika menjelang forum besar tersebut.

Berbagai persepsi mengenai hubungan antara kepentingan politik dan kongres juga akan terus muncul. Namun bagi Rifai, barangkali pertanyaan paling penting bukan siapa yang berada di belakang calon ketua umum, melainkan apa yang dibawa calon ketua umum ke hadapan kader. Dan Ahmad Rifai memilih menawarkan gagasan.

Ia ingin membuktikan, bahwa kontestasi kepemimpinan juga dapat menjadi kompetisi tentang bagaimana melihat masa depan HMI. Dan masa depan itu, dalam pikirannya, adalah kader yang mampu beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan akar keislamannya; kader yang mampu memasuki dunia profesional tanpa meninggalkan semangat pengabdian; serta kader yang memiliki keberanian untuk menciptakan lapangan kerja dan membangun solusi.

Jalan Panjang Anak Daerah

Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan Ahmad Rifai. Ia berasal dari daerah. Memulai pendidikan di kampus daerah. Menjadi kader dari komisariat. Kemudian memimpin cabang. Beranjak ke tingkat nasional menjadi Pengurus Harian PB HMI. Melanjutkan pendidikan hingga doktoral. Dan sekarang menawarkan diri untuk memimpin organisasi yang memiliki jaringan kader di seluruh Indonesia.

Perjalanan itu seperti sebuah pesan diam-diam, bahwa pusat tidak selalu menjadi tempat lahirnya gagasan. Kadang-kadang gagasan justru tumbuh jauh dari pusat perhatian. Di tempat yang tidak banyak dilihat. Di ruang-ruang komisariat. Di kampus-kampus daerah.

Dan di antara kader-kader yang mungkin tidak pernah membayangkan dirinya suatu hari berdiri di panggung nasional. Ahmad Rifai adalah salah satu dari mereka. Dan mungkin karena itu pula, ia ingin membangun sistem yang membuat kader-kader dari berbagai daerah memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka.

Talent database yang ia gagas bukan sekadar soal data. Di baliknya ada sebuah cara pandang: bahwa potensi kader tidak boleh hilang hanya karena ia berasal dari daerah yang jauh dari pusat.

Masa Depan yang Harus Dipersiapkan

Pada akhirnya, HMI Technopreneur bukan semata-mata cerita tentang AI, coding, startup, sertifikasi atau dunia industri. Di balik semua itu ada satu pertanyaan yang jauh lebih mendasar: kader seperti apa yang ingin dilahirkan HMI untuk Indonesia yang akan datang?

Rifai menawarkan jawabannya melalui gagasan tentang kader yang memiliki kompetensi, mampu beradaptasi, berani mencipta, dan menggunakan pengetahuan serta teknologi untuk memberikan manfaat.

Ia ingin keberhasilan HMI dapat dilihat dari empat arah sekaligus: kader yang memiliki skill dan jejaring karier; masyarakat yang mendapatkan manfaat melalui lapangan kerja dan penguatan UMKM; organisasi yang memiliki database talenta serta kemandirian; dan negara yang memperoleh kontribusi sumber daya manusia unggul serta penguatan kewirausahaan.

Maka kisah Ahmad Rifai sesungguhnya bukan hanya kisah tentang seorang kandidat yang ingin menjadi Ketua Umum PB HMI. Tetapi kisah tentang seorang anak daerah yang membawa pengalaman panjangnya ke sebuah persimpangan organisasi.

Di satu sisi, ada dinamika kongres dengan segala pertemuan, konsolidasi, jaringan dan dukungan yang menyertainya. Di sisi lain, ada pertanyaan yang lebih panjang umurnya daripada sebuah kongres: apa yang harus dilakukan HMI agar kader-kadernya tidak tertinggal oleh zaman? Rifai memilih menjawab pertanyaan itu dengan HMI Technopreneur.

Ia ingin HMI menjadi organisasi yang tidak takut terhadap perubahan, tetapi belajar menguasainya. Ia ingin kader tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi mampu menggunakannya untuk menciptakan manfaat.

Ia ingin kader tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi memiliki keberanian menciptakan pekerjaan. Dan ia ingin HMI tidak hanya menjadi konsumen solusi, melainkan menjadi tempat lahirnya orang-orang yang mampu mengembangkan solusi untuk bangsa.

Dari Poso ia berangkat. Ke Bogor ia melanjutkan pendidikan. Di HMI ia ditempa. Dan kini, di tengah perjalanan menuju Kongres XXXIII HMI, ia datang membawa satu keyakinan: bahwa masa depan organisasi, tidak semestinya hanya ditentukan oleh siapa yang paling kuat jejaringnya, tetapi juga oleh seberapa kuat gagasan yang ditawarkan untuk menjawab tantangan zaman.

Selebihnya, kongreslah yang akan menjadi ruang bagi seluruh kader untuk menilai, membandingkan, dan menentukan arah organisasi.

Dan Rifai sendiri memilih menutup gagasannya dengan sebuah kalimat yang sederhana, tetapi sangat dekat dengan semangat yang membesarkan dirinya sebagai kader HMI: “Masa depan tidak cukup hanya kita tunggu. Masa depan harus kita persiapkan.”

Dan mungkin, bagi seorang anak Poso yang telah berjalan sejauh ini, kalimat itu bukan sekadar slogan. Itu adalah cara untuk menjelaskan mengapa ia berani melangkah. Karena ia tahu dari mana ia datang. Dan ia sedang mencoba menawarkan ke mana ia ingin membawa HMI. (*)

(Ruslan Sangadji)