Jalan Poros Poso Napu Putus Diterjang Longsor

  • Bagikan
Longsor di jalan poros Poso - Napu, mengakibatkan arus lalulintas terhambat | Foto: Kaidah/Wisnu

POSO – Jalan poros  Poso – Napu di Sulawesi Tengah (Sulteng) putus karena diterjang longsor. Badan jalan dipenuhi material longsor. Kendaraan yang melintas harus bersusah payah untuk sampai tujuan. Ada alat berat yang terparkir, tapi tak berani bekerja, karena longsor masih terus terjadi.

Wisnu Pratala kepada kaidah.id mengatakan, biasanya perjalanan dari Poso Napu hanya ditempuh selama tiga jam, tetapi karena longsor, Wisnu yang berangkat pagi dari Poso, baru tiba di Napu petang harinya.

“Mobil saya harus ditarik, karena terhalang lumpur akibat longsor,” kata Wisnu Pratala, salah seorang anggota KPU Poso yang sedang bertugas ke Napu.

Ada beberapa titik longsor di wilayah itu. Mulai dari Desa Tangkura dan Desa Sanginora. Tetapi yang paling parah berada di titik setelah Sanginora. Warga baru bisa menikmati perjalanan dengan aman setelah melewati Desa Hai.

Longsor itu terjadi, karena intensitas hijan wilayah Sulteng dalam beberapa hari ini meningkat. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir/kilat dan angina kencang pada siang dan malam hari.

Peringatan dini itu berlaku di wilayah Kota Palu, Donggala, Sigi, Parigi Moutong, Poso, Tojo Una-Una, Tolitoli, Buol, Morowali, Morowali Utara, Banggai, Bangai Laut dan Banggai Kepulauan.

Sementara itu, anggota DPRD Parigi Moutong, Lely Pariani melalui pesan singkatnya kepada kaidah.id mengatakan, jembatan di Desa Suli, di Torue, Parigi Moutong terputus akibat diterjang banjir pada Jumat 19 Juni 2020 malam sehingga semua kendaraan tidak dapat melintas.

“Tidak ada jalan alternatif sehingga harus putar balik,” kata Lely Pariani yang saat itu sedang berada di lokasi.

Wilayah itu memang menjadi daerah sirkulasi siklonik yang terjadi di Maluku, secara tidak langsung mendorong terbentuknya daerah pertemuan angin dan pola belokan angin (shearline) di wilayah Sulteng, yang memberikan potensi pertumbuhan awan hujan di daerah tersebut. Akhirnya, intensitas hujan begitu tinggi yang mengakibatkan terjadi banjir. *

  • Bagikan