FAKTA PANDEMI COVID-19
Bicara #LawanResah, berarti soal fakta pandemi pandemi Covid-19. Dampaknya, negara memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan nantinya dunia menerapkan hidup lama dengan kelaziman yang baru atau yang diisitilahkan new normal. Kondisi itu juga,bakal dialami warga Sulawesi Tengah (Sulteng).
Lantaran itu, semua yang sudah menjadi kebiasaan dan telah direncanakan, bakal delay untuk sesaat. Bagi warga Sulteng yang mulai bangkit dari keterpurukan akibat gempa, tsunami dan likuefaksi 2018, harus mengurungkan banyak mimpinya. Silaturahmi lebaran 1441/2020, harus dirayakan di tempat-tempat pengungsian.
Pun halnya warga Lembah Palu di perantauan, yang berencana merayakan Idul Fitri bersama sanak saudara di kampung halamannya harus tertunda, karena pandemic covid-19.
“Bagi pekerja non formal seperti para pelaku seni, harus kehilangan pendapatan reguler, karena tempat mengais rezeki itu tutup sementara akibat aturan yang berlaku. Semuanya harus bertahan hidup, namun kreativitas tidak boleh berhenti,” jelas Erick Tamalagi.
Minggu kedua April ketika Pemerintah DKI Jakarta mengumumkan pemberlakuan PSBB, para pekerja seni asal Sulawesi Tengah di Jakarta bertemu, tukar cerita dan mencari cara agar bisa tetap beraktivitas. Mereka berpikir, tidak tidak terbelenggu dalam suasana duka akibat covid-19.
“Diskusi Kreatif Palu Community, begitu nama yang disepakati untuk wadah berkumpulnya para pekerja seni asal Sulteng di salah satu sudut Kota Jakarta. Akhirnya, para musisi itu menghasilkan kesepakatan menggarap lagu #Lawan Resah,” kata Erick Tamalagi.
Garapan itu melibatkan para pekerja seni yang bukan saja berada di Jakarta, namun juga dari berbagai tempat di Sulawesi Tengah dan kota kota lainnya di Jakarta. *

Tinggalkan Balasan