Kamis, 29 Februari 2024

Tampar dan Cekik, Perilaku Buzzer Rp Tak Tuman

Oleh: Ruslan Sangadji

BEBERAPA HARI KEMARIN, kita disuguhi informasi dengan dua kata perilaku negatif. Dua kata yang menggambarkan kekerasan. Keduanya adalah tampar dan cekik.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tampar berarti memukul dengan telapak tangan. Sedangkan cekik berarti memegang dan mencekam leher (merih) sehingga yang dipegang dan dicekam tidak dapat bernapas.

Kata ini sengaja diembuskan oleh pihak tertentu, yang boleh kita sebut dengan buzzer (boleh juga buzzer Rp), dengan membuat cerita ngarang.

Buzzer adalah mereka yang memanfaatkan akun media sosialnya, untuk mendapatkan penghasilan dengan cara mempromosikan, mengkampanyekan, atau mendengungkan suatu topik.

Buzzer Rp bilang, ada seorang menteri menampar dan mencekik wakil menteri. Celakanya, peristiwa itu terjadi dalam rapat di istana negara.

Bahkan, dengan narasi yang penuh bumbu itu, disiarkan melalui akun YouTube, sampai membuat publik percaya. Bagaimana tidak dipercaya, bezzer Rp menambah narasinya dengan kalimat informasi A1.

Dalam dunia intelijen yang dikenal sejak zaman perang dunia pertama, yang digunakan para angkatan laut. A1 digunakan untuk merujuk pada informasi dengan kualifikasi sangat bisa dipercaya.

Embusan tampar dan cekik itu akhirnya beredar liar. Publik akhirnya menyematkan peristiwa itu dengan perilaku Prabowo Subianto. Kasihan, dalam tiga hari, Menhan RI terdzalimi dengan informasi liar tak bertanggung jawab itu.

Kemudian para jurnalis berburu informasi tersebut, langsung kepada yang menempati istana negara saat ini, Presiden Joko Widodo.

Ya Tuhaaaaan, ternyata yang menempati istana sampai kaget. “Setahu saya, tidak ada peristiwa itu. Masa nyekik?,” kata Presiden Jokowi membantah.

Prabowo, yang menurut Presiden Jokowi sebagai sosok yang sudah menjadi penyabar itu, pun menampik isu liar tersebut. “Jangankan nampar dan cekik, bertemu wakil menteri itu saja belum pernah,” bantah Prabowo saat mendampingi Presiden di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Dalam acara para Bacapres Bicara Gagasan di UGM, Najwa Shihab juga ikut bertanya informasi itu.

“Pak Prabowo, saya mau konfirmasi langsung ke Bapak. Katanya, dalam rapat kabinet, Pak Prabowo sempat emosional, kemudian menampar dan mencekik Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi?,” tanya Najwa.

“Saya juga kaget. Jelas itu tidak benar ya. Tidak ada rapat seperti itu. Saya juga jarang berhubungan dengan Wakil Menteri Pertanian, mungkin pernah sekali, itupun sepintas. Saya gak ngerti, ulah-ulah macam apa itu,” jawab Bacapres dari Koalisi Indonesia Maju itu.

Akhirnya, video YouTube yang menceritakan tampar dan cekik itu, pun diturunkan (ditake down) oleh si empunya akun. Bahkan sampai minta maaf, menyesali sikapnya yang telah termakan kabar hoaks.

Yaaaaah, begitulah sirkuit informasi di era post-truth saat ini. Orang dengan mudahnya menyebar kabar bohong, tetapi karena dibumbui dengan kalimat Informasi A1, akhirnya orang lain gampang percaya.

Adakah tujuan para penyebar kabar sesat itu? Jelas. Entah apa pun itu tujuannya. Tapi satu hal adalah, mau merusak karakter seseorang dengan cara-cara kotor, dengan defamasi. Karena yang diserang adalah bebuyutan politik dia.

Padahal, merusak karakter seperti itu adalah cara-carakotor, tidak bertanggung jawab dan sangat menjijikan. Bodoh!

Siapapun buzzer Rp itu, entah pendukung capres Prabowo, Anies atau Ganjar, yang jelas melakukan cara-cara yang merusak karakter seseorang di tengah kompetisi politik saat ini, sangatlah tak pantas.

Maka, mari menjaga lisan untuk membicarakan kabar bohong, dan jaga jemari kita dari menulis dan mengirim kabar seperti ini, karena sebetulnya itu tak tuman dalam adat ketimuran kita. (*)

Wallahu a’lam.