Senin, 22 April 2024

Sejarah Hamas dan Sekelumit Perjuangannya

Pasukan Hamas Palestina | Foto: ist

TULISAN INI tentang sejarah Hamas. Singkatan dari Harakat al-Muqawwamatul Islamiyyah yang berarti Gerakan Perlawanan Islam. Ini adalah gerakan Islam Sunni dan nasionalis Palestina, yang berjuang untuk membebaskan Palestina dari pencaplokan dan penjajahan Israel dan sekutunya.

Hamas ini berdiri pada 14 Desember 1987 oleh Sheikh Ahmed Yassin, selama Intifadhah Pertama, sebagai cabang dari Ikhwanul Muslimin Mesir. Oleh Israel dan negara-negara barat, memvonis Hamas sebagai kelompok teroris. tetapi oleh muslim Palestina, Hamas adalah pembela muslim Palestina.

Sheikh Ahmed Yassin menyatakan, bahwa Hamas didirikan untuk membebaskan Palestina dari pendudukan Israel, dan mendirikan negara Islam di wilayah yang sekarang menjadi Israel, Tepi Barat, dan Jalur Gaza.

Hamas menguasai Jalur Gaza sejak tahun 2007 lalu, setelah memenangkan mayoritas kursi di Parlemen Palestina 2006. Partai inimengalahkan organisasi politik Fatah.

Tapi bila ditarik lebih jauh, kebencian Hamas kepada Israel terjadi kala Israel terbentuk setelah Perang Dunia Kedua. Negara itu sebagian besar didukung oleh negara-negara Barat.

Hamas percaya, wilayah Israel merupakan hasil curian dan penjajahan yang sah pada rakyat Palestina. Tetapi, para pendukung Israel mengatakan, wilayah tersebut adalah tanah leluhur orang-orang Yahudi yang diasingkan setelah invasi Kekaisaran Babilonia 2.500 tahun yang lalu.

Pada tahun 2005, Israel menarik diri dari Gaza setelah Hamas berkuasa. Namun mereka tetap mendirikan banyak pemukiman Yahudi di seluruh daerah tepi barat, atau sebelah barat Sungai Jornal.

Pendudukan oleh Israel itu mendapat kritik dari Dewan Keamanan PBB. Menurut PBB pencaplokan sebagai “Pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional”.

Hingga saat ini Hamas aktif bertempur dengan Israel dengan berbagai cara. Meski sebelumnya, Hamas pernah mengumumkan gencatan senjata pada 21 Mei 2021, yang disambut sukacita oleh penduduk Gaza dan Tepi Barat.

Pada tahun 2023 ketegangan kembali meningkat dan disebut menjadi serangan yang paling mematikan dalam beberapa dekade antara keduanya. Serangan itu bernama sandi Operasi Badai Al Aqsha. Menurut laporan, sekira 1.000 dari pihak Zionis Israel tewas dalam serangan mengejutkan tersebut.

SEJARAH KONFLIK PALESTINA-ISRAEL

Konflik kedua negara ini dimulai pada zaman Kesultanan Utsmaniyah. Saat itu, Inggris mendirikan “Rumah Nasionalis” bagi Yahudi di Palestina.

Keyakinan Inggris soal pengambilan wilayah itu, diperkuat oleh mandat dari Liga Bangsa-Bangsa. Sejak saat itulah ratusan ribu warga Yahudi berpindah tempat tinggal ke wilayah tersebut.

Para pemimpin Yahudi menyambut baik hasil keputusan dari PBB tentang pembagian wilayah Palestina menjadi dua, yakni bagi warga Arab Palestina dan Yahudi. Namun, warga Arab Yahudi tak menerimanya sehingga. Dari situlah mulai muncul konflik.

Konflik itu memuncak saat adanya deklarasi pendirian negara Israel pada 15 Mei 1948. Warga Palestina menolak, dan akhirnya pecah perang Al-Nakhba atau perang yang diartikan sebagai ‘malapetaka’.

Buntut dari perang tersebut, ratusan ribu warga Arab Palestina melarikan diri meninggalkan rumah mereka. Selang satu tahun, Israel pun berhasil menguasai beberapa wilayah Palestina. Di wilayah Barat dikuasi Israel, dan di Timur dikuasi Yordania.

PERANG BESAR

Sejarah Hamas dalam perang malawan Israel, dimulai dengan adanya penyerangan pangkalan udara Mesir oleh Israel pada 1967. Pasukan Israel juga memasuki Semenanjung Sinai untuk mengambil alih Jalur Gaza, Tepi Barat, Dataran Tinggi Golan, dan Yerusalem Timur.

Israel kemudian mengakui Yerusalem sebagai ibu kota negaranya, begitupun Palestina meyakini bahwa Yerusalem Timur sebagai ibu kota di masa depan. Perundingan demi perundingan berlangsung untuk membicarakan itu.

Namun, Palestina tetap menolak wilayah Yahudi di Tepi Barat sebagai pemukiman Yahudi. Meski demikian, selama 50 tahun terakhir, telah ada lebih dari 600.000 warga Yahudi yang membangun tempat tinggal di wilayah tersebut.

Pada 10 Mei 2021 silam, Israel meluncurkan serangan ke Masjid Al-Aqsa, karena dipicu oleh perebutan wilayah Yerusalem Timur, atau tepatnya di Sheikh Jarrah. Pasukan Hamas dan Israel saling melancarkan serangan udaranya.

Perang ini berlangsung selama 11 hari, kemudian Palestina dan Israel sepakat gencatan senjata, karena banyak negara yang mengecam. Pada Jumat, 21 Mei 2021, gencatan senjata pun dimulai.

Meski adanya gencatan senjata, tetapi Zionis Israel kerap bertindak brutal terhadap warga muslim Palestina. Warga muslim yang sedang shalat jamaah di Masjid Al Aqsha, kerap diusir, dipukul dan ditembak oleh polisi Zionis Israel. Gencatan senjata setengah hati oleh Israel.

Ditambah lagi dengan adanya blokade bagi warga muslim di Masjid Al Aqsha, membuat Hamas semakin marah. Akhirnya, terjadilah serangan mendadak pada Sabtu, 7 Oktober 2023 dini hari.

Serangan itu dianggap berhasil. Di pihak Israel, ratusan rakyatnya tewas, dan ditawan Hamas. Puluhan tentara Israel juga tewas di ujung bedil pasukan Hamas. Ada yang ditangkap dan ditawan.

Kemudian Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendeklarasikan perang dengan Hamas. Aksi itu bernama Operasi Pedang Besi.

Israel menyerang Jalur Gaza, korban berjatuhan, termasuk di kalangan anak-anak. Rumah sakit Indonesia di Jalur Gaza juga ikut terkena bom yang dilepaskan oleh tentara Zionis Israel.

Begitulah sejarah Hamas. Kesimpulannya, yang menyebut mereka sebagai teroris adalah Israel dan sekutu-sekutunya. Propaganda itu berjalan terus hingga kini sehingga banyak kalangan ikut-ikutan menyebut sebutan teroris itu. Tapi bagi muslim Palestina, Hamas adalah pembela mereka. (*)

Penulis: Ruslan Sangadji