Senin, 22 April 2024

Patung Sepe dan Nenek Moyong Bangsa Kita

Gubernur Sulawesi Tengah Rusdy Mastura, Bupati Poso Verna Gladis Inkiriwang, Wakil Ketua DPRD Sulteng Muharram Nurdin | Foto: ist

Oleh: Muharram Nurdin
Wakil Keta DPRD Sulteng

GAGASAN Rusdy Mastura yang hari ini mendeklarasikan Sulawesi Tengah Negeri Seribu Megalit, sejatinya adalah lompatan besar dalam merekonstruksi kembali sejarah peradaban dunia.

Patut diapresiasi, pencanangan itu sesungguhnya adalah semangat Rusdy Mastura, untuk menyampaikan kepada dunia, bahwa sebetulnya Sulteng memiliki sejarah peradaban tertua.

Bahkan menurut hasil penelitian, memperkirakan sejarah peradaban Sulteng se usia dengan jaman Nabi Musa atau sekitar 3.000 tahun sebelum Masehi.

Diperkirakan, pada zaman Nabi Musa, telah hidup komunitas manusia yang membentuk peradaban di Napu dan Bada, hal tersebut dibuktikan dengan hasil penelitian arkeologi dan genetik.

Konon ada temuan kerangka manusia purba, yang tingginya dua meter, dan berdasarkan hasil uji DNA gen manusia purba tersebut, identik dengan gen penduduk Mongolia.

Bahkan sampai hari ini, masih dipelihara dengan baik pakaian adat orang Bada, sama desainnya dengan mode pakaian orang Mongolia. Itu artinya, sejarah asal muasal nenek moyang bangsa Indonesia yang disebut berasal dari Mongolia perlu ditinjau kembali.

Berdasarkan tinggalan benda budaya Megalitikum, membuktikan bahwa jauh sebelum migrasi orang-orang Mongolia ke Indonesia, sudah ada peradaban yang berkembang. Hasil penelitian juga mengungkap, sejarah pertanian purba ditemukan di Lembah Napu dan Bada dengan adanya padi yang diberi label Indonesia Rise (IR).

Berpijak pada dokumen dokumen hasil penelitian tersebut, aman untuk mengatakan bahwa gagasan Rusdy Mastura tentang Sulteng Negeri 1000 megalit, sebetulnya sebagai lompatan pikiran untuk menjungkirbalikkan sejarah yang jamak dipahami manusia sekarang ini.

Termasuk lontaran-lontaran yang sering disampaikan Rusdy Mastura tentang teori evolusi Darwin, yang konon kabarnya terinspirasi dari siklus evolusi yang terjadi di Wallcea.

Menurut Rusdy Mastura,Wallace itu tidak lain adalah Walea yang ada di Kabupaten Tojo Unauna Sulteng.

Masih tentang sejarah peradaban 3.000 tahun Sebelum Masehi, yang ditandai dengan adanya prasasti megalit berupa patung raksasa di Bada dan Napu, termasuk soal teori evolusi yang terinspirasi dari Walea, maka tidak tertutup kemungkinan, satu dari 12 kota yang hilang, satu di antaranya ada di bumi Sulawesi Tengah.

Konon, dari penuturan masyarakat dan diyakini kebenarannya, disekitar pegunungan kebun kopi, ada kehidupan modern yang mencerminkan ciri-ciri kota masa lampau, atau kata orang sangat identik dengan kota Atlantik. Wallahu a’lam. (*)