Ramadhan akhirnya tiba. Setelah sebelas bulan berlalu dengan segala kesibukan, kelalaian, tawa, dan mungkin juga air mata, hari ini kita kembali dipertemukan dengan bulan suci. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Seolah Allah masih memberi kesempatan untuk memperbaiki diri.
Pagi ini terasa berbeda. Lapar yang mulai terasa bukan sekadar tanda menahan makan dan minum, tetapi pengingat bahwa kita sedang belajar mengendalikan diri. Setiap detik puasa adalah latihan kesabaran. Setiap rasa haus adalah bisikan agar kita lebih peka pada mereka yang hidup dalam kekurangan.
Di hari pertama ini, semangat masih menyala. Masjid lebih ramai, doa lebih panjang, dan hati lebih lembut. Namun Ramadhan bukan tentang awal yang menggebu, melainkan tentang keteguhan menjaga api itu tetap hidup hingga akhir.
Ramadhan datang bukan hanya untuk mengubah jadwal makan kita, tetapi untuk mengubah hati kita. Ia mengetuk pelan, mengajak kita merenung: sudah sejauh mana kita berjalan dan merasakan keberadaan dalam diri kita? Sudah seberapa sering kita kembali setelah tersesat?
Hari pertama ini adalah titik mula. Mungkin ini saatnya memaafkan, memperbaiki hubungan, memperbanyak sujud, dan memperhalus lisan. Karena kita tidak pernah tahu, apakah kita akan bertemu Ramadhan berikutnya atau tidak.
Maka jalani hari pertama ini dengan kesungguhan. Biarkan ia menjadi awal perubahan, bukan sekadar rutinitas tahunan. Semoga Ramadhan kali ini benar-benar meninggalkan jejak dalam jiwa kita. (*)
Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan