STQ dan MTQ, Berikut Sejarah, Perbedaan dan Jumlah Cabang Lomba

  • Bagikan
STQ NASIONAL - Logo STQ Nasional XXVI di Sofifi, Provinsi Maluku Utara | Foto; Kemenag RI

PALU, KAIDAH.ID  – Tahun ini, Seleksi Tilawatil Quran (STQ) Tingkat Nasional yang ke 26 digelar di Sofifi, Ibu Kota Provinsi Maluku Utara. Menurut jadwal, opening ceremony even keagamaan itu dibuka Presiden Joko Widodo pada 14 Oktober 2021 di Masjid Raya Shaful Khairaat.

Banyak pihak bertanya, apa perbedaan antara Seleksi Tilawatil Quran dan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Padahal, substansinya adalah sama-sama syiar agama Islam melalui seni membaca Al Quran.

Dari penelusuran kaidah.id dari berbagai sumber ditemukan, MTQ mulai diselenggarakan di Nusantara sejak 1940-an, yang ditandai dengan berdirinya Jami’iyyatul Qurro wal Huffadz yang didirikan oleh Nahdlatul Ulama (NU), ormas Islam terbesar di Indonesia.

Setelah itu, pada 1968,  MTQ mulai dilembagakan dan menjadi agenda tetap secara Nasional. Penetapan itu dilakukan ketika Menteri Agama RI dijabat oleh K.H. Muhammad Dahlan, salah seorang Ketua Pengurus Besar NU.

Setelah dilembagakan, MTQ Tingkat Nasional yang pertama diselenggarakan di Makassar, Sulawesi Selatan pada bulan Ramadhan tahun 1968 dengan satu bidang lomba, yaitu  tilawah dewasa. Dari MTQ pertama di Makassar itu lahirlah Qari bernama Ahmad Syahid dari Jawa Barat dan Muhammadong dari Sulawesi Selatan.

Setelah itu, secara berturut-turut MTQ kedua dilaksanakan di Banjarmasin pada 1969, kemudian 1970 di Jakarta. Pada MTQ Nasional yang kega di Jakarta itulah acara dilaksanakan dengan sangat meriah dan mengundang perhatian dunia.

Selanjutnya, MTQ dilaksanakan setiap tiga tahun sekali, kemudian berubah dan menjadi setiap dua tahun sekali.

  • Bagikan