MATAHARI MULAI MERUNDUK di ufuk barat. Langit menggantungkan awan kelabu, seolah turut bersedih. Di Desa Wombo Kalonggo, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng), air bah datang tak diundang pada sore Selasa, 27 Mei 2025. Derasnya hujan mengguyur tanpa ampun, memaksa sungai meluap dan menyeret apapun di depannya, rumah, jembatan, bahkan kenangan.
Sebanyak 193 rumah menjadi saksi bisu amukan alam, 228 kepala keluarga atau lebih dari 700 jiwa kehilangan tempat berpulang. Lumpur menyelimuti halaman, kamar, dan ruang tamu. Fasilitas umum pun tak luput, sekolah-sekolah yang selama ini menjadi tumpuan harapan, kini rusak dan senyap.
Di Desa Wombo Kalonggo, lumpur bekas banjir itu belum kering, datanglah seorang laki-laki muda. Wajahnya sederhana, tapi langkahnya mantap. Namanya Abcandra Muhammad Akbar Supratman, anggota DPD RI dapil Sulawesi Tengah, sekaligus Wakil Ketua MPR RI.
Bagi warga yang pertama kali melihat, mungkin ia tampak seperti pejabat pada umumnya. Tapi perlahan, keraguan itu rontok oleh peluk hangatnya, oleh caranya memanggil warga dengan sapaan om dan tante, dan oleh tangannya yang tak segan menyentuh lumpur untuk menyerahkan bantuan.
JANJI YANG NYATA
Akhir tahun 2023, di sebuah tempat di Jakarta Pusat dipenuhi semangat besar, Akbar — sapaan akrabnya — berdiri berhadapan dengan penulis. Ia bertanya, bukan karena ketidaktahuan, tapi karena ia sudah punya rencana yang tersimpan rapi di benaknya: “Kalau Akbar terpilih jadi anggota DPD, bagaimana seharusnya bekerja untuk Sulawesi Tengah?”
Kami berbincang panjang. Tentang keterbatasan DPD, tentang makna representasi, dan tentang hati yang harus tetap menyala.
“Dengarkan rakyatmu. Rasakan denyut nadi mereka. Sampaikan kepada dunia bahwa Sulteng tak sendiri. Akbar akan selalu ada Bersama mereka, merasakan denyut nadi mereka dan sampaikan itu ke pemerintah pusat. Manfaatkan jaringan yang sudah Akbar punya di Jakarta untuk kepentingan rakyat Sulawesi Tengah”.
Saran itu mungkin sederhana, tapi diskusi singkat malam itu pun tercipta sekarang: bahwa politik, bagi Akbar, bukan panggung, tapi panggilan.
KETIKA JANJI ITU MENJELMA
Dan ia menepati. Bukan hanya sekali, bukan pula basa-basi. Saat banjir mengoyak Wombo, ia datang. Tidak hanya membawa logistik, tapi membawa peluk dan penguatan. Ia duduk di balai-balai kayu bersama warga, mendengarkan cerita dengan mata berkaca.
Di Desa Wombo Kalonggo itu, Akbar menyapa anak-anak, mengusap kepala mereka, mencium kening kecil yang ketakutan. Ia hadir bukan sebagai pejabat, tapi sebagai kakak, sebagai anak, sebagai sesama manusia yang tak tahan melihat derita berlarut.
Hal serupa juga ia lakukan ketika banjir menghantam Desa Pebuonang, Kecamatan Palasa, Parigi Moutong pada 14 April 2025 lalu. Tujuh rumah hanyut, dua jembatan desa putus. Dan di tengah derasnya air dan derasnya kesedihan, Akbar hadir membawa harapan dalam bentuk sembako, tenda, dan air mata yang diseka.
Ia pun tak lupa kampung halaman ayahnya: Tolitoli. Ketika banjir menerjang, ia kembali hadir. Membawa pesan negara dan dirinya, bahwa meskipun seorang diri tak mampu menahan hujan, tapi setidaknya ia bisa menjadi payung bagi yang basah kuyup.
Langkah cepat dan tulus itu pun mendapat apresiasi. Wakil Bupati Tolitoli, Mohammad Besar Bantilan, menyampaikan rasa terima kasih atas respon cepat dan tanggap Akbar.
“Ini bukti bahwa negara tidak lalai. Ada sinergi, ada empati. Dan anak muda seperti Akbar membawa napas baru dalam politik kita. Terima kasih Pak Wakil Ketua MPR RI,” kata Wakil Bupati Tolitoli saat itu.
MENYALAKAN ASA, MENGOBATI LUKA
Sepanjang tahun 2024, sudah puuhan ton bantuan logistik telah ia salurkan. Dari bahan pangan, perlengkapan sekolah, hingga keperluan bayi dan perempuan. Telah ratusan juta bahkan miliaran uang dipersembahkan kepada korban banjir. Tapi lebih dari itu, ia membuka ruang dialog, menyambung silaturahmi dari Luwuk hingga Buol, dari Morowali hingga Poso. Dari Palu, Donggala hingga Sigi.
Tokoh senior Sulteng, Andi Mulhanan Tombolotutu, tak kuasa menyembunyikan kekagumannya. “Anak ini dulu saya masih menyaksikannya masa-masa kecilnya. Tapi kini… ia membuktikan bahwa politik bisa dijalani dengan hati. Akbar bukan hanya mewakili Sulteng, tapi juga menunjukkan wajah baru pemuda yang tulus melayani,” tutur Mulhanan.
LEGACY DARI HATI
Bagi Akbar, jabatan bukan mahkota, tapi amanah. Ia tak mengejar sorot kamera. Ia mengejar senyum yang perlahan kembali ke wajah para korban. Di pundaknya, ia memikul amanah dari malam sunyi tahun 2023 itu, kini menjelma menjadi jejak-jejak kecil penuh arti di desa-desa yang tersapu banjir.
Ia bukan malaikat. Ia pun bukan pahlawan. Tapi kehadirannya telah menjadi pelukan bagi yang rapuh, menjadi jawaban bagi mereka yang merasa ditinggal. Di tengah politik yang kerap dingin dan penuh kalkulasi, Akbar menyalakan bara hangat: bahwa masih ada yang peduli, masih ada yang hadir, bukan hanya saat mencalonkan diri, tapi untuk menemani.
Dan barangkali, inilah makna terdalam dari politik: bukan tentang siapa yang paling tinggi bicara, tapi siapa yang paling rendah hati untuk mendengar dan hadir.
Dan akhirnya, di tengah derasnya air dan derasnya duka, Abcandra Muhammad Akbar Supratman memilih untuk hadir, bukan sebagai pejabat negara yang berjarak, tapi sebagai pelipur lara yang merangkul luka. Anak muda itu tidak membawa janji, melainkan langkah nyata.
Dalam lumpur bekas banjir, ia menanam harapan. Dan kelak, ketika generasi baru menoleh ke belakang, mereka akan tahu, pernah ada seorang Akbar, yang menjadikan politik bukan sekadar kekuasaan, melainkan pelukan hangat di tengah derita. Sebab bagi Akbar, melayani bukan pilihan… itu adalah panggilan jiwa. (*)
Editor: Ruslan Sangadji

Tinggalkan Balasan