JAKARTA, KAIDAH.ID – Indonesia punya segalanya, tanah yang menyimpan emas, nikel, batu bara, hingga tembaga. Tapi di tengah gegap gempita ekspor dan gelar sebagai raja nikel dunia, satu pertanyaan mendasar terlontar: sampai kapan cadangan itu bertahan? Tanpa eksplorasi yang serius, kekayaan alam yang selama ini dibanggakan perlahan menuju batas akhirnya.

Di ruang rapat yang dingin namun tegang di Senayan, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, berbicara blak-blakan. Tak ada anggaran khusus eksplorasi di Indonesia. Bahkan, pemerintah nyaris hanya bergantung pada data yang disetor perusahaan tambang melalui RKAB mereka. Selebihnya, hanya harapan.

“Jujur saja, Pak, kita ini ingin tambahan cadangan tapi kita sendiri tidak mengeluarkan kapital untuk itu. Mestinya, eksplorasi di daerah green field harusnya kita dorong,” ucap Tri, dalam rapat bersama Komisi VII DPR RI beberapa waktu lalu.

Tri menyebutkan, negara-negara maju, termasuk Mesir, justru sudah lebih visioner. Mereka tak hanya menambang, tapi juga membiayai eksplorasi secara agresif. Hasilnya pun tak main-main. Cadangan sumber daya alam Mesir melonjak dari 1,5 miliar Dola Amerika menjadi 3,5 miliar Dolar Amerika, hanya karena satu kata: eksplorasi.

Indonesia? Masih bergantung pada angka-angka dari laporan tahunan, tanpa kebijakan eksplorasi yang masif dari negara.

Di forum berbeda, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia berbicara lantang. Ia memamerkan data dari Badan Geologi Amerika: 43 persen cadangan nikel dunia ada di Indonesia.

Negeri ini tak hanya penguasa sumber daya, tapi juga jawara hilirisasi. Ekspor produk olahan nikel pada 2023, mencetak rekor 34 miliar Dolar Amerika. Angka yang fantastis, mengingat pada 2017 Indonesia hanya menjual bijih mentah.

“Kita setop ekspor bijih, bangun industri, dan sekarang kita jadi eksportir turunan nikel terbesar. Banyak yang protes, katanya nikel Indonesia kotor. Saya bilang, mana ada nikel tidur di kasur empuk? Nikel pasti ada tanahnya!,” tegas Bahlil, dalam Human Capital Summit 2025, Selasa, 3 Juni 2025 lalu.

Sarkasme Bahlil menyentil dunia industri global, yang mengkritik soal dampak lingkungan tambang Indonesia. Tapi di balik kebanggaan itu, data dari Badan Geologi justru mengirim sinyal bahaya.

Berdasarkan Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral dan Batu Bara Indonesia Tahun 2025 yang dirilis Badan Geologi Kementerian ESDM, potret kekayaan tambang Indonesia justru menunjukkan peringatan serius.

Jika tak ada tambahan cadangan melalui eksplorasi, maka dalam hitungan dekade, beberapa tambang strategis bisa kehabisan napas.

CADANGAN MENIPIS, WAKTU MEPET

Berdasarkan Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral dan Batu Bara Indonesia Tahun 2025, berikut gambaran nyata umur cadangan tambang kita:

  • Batu Bara: Total cadangan 31,95 miliar ton. Jika produksi 700 juta ton per tahun, maka umur cadangan tinggal 45 tahun.
  • Nikel: Total cadangan 5,913 miliar ton. Dengan produksi 173 juta ton per tahun, tinggal 34 tahun lagi.
  • Tembaga: Cadangan 2,857 miliar ton. Dengan produksi 108 juta ton per tahun, hanya cukup untuk 26 tahun.

Bauksit: Cadangan 2,865 miliar ton. Dengan produksi 8,3 juta ton per tahun, bertahan hingga 343 tahun.

Hanya bauksit yang masih memiliki umur panjang. Tapi apakah kita akan menunggu, sampai krisis datang pada komoditas strategis lainnya baru bertindak?

Kita punya ekspor. Kita punya status dunia. Tapi tanpa investasi eksplorasi yang dibiayai negara, masa depan sektor tambang hanya akan bergantung pada keberuntungan atau laporan perusahaan.

PETA KEKAYAAN NIKEL INDONESIA

Sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia memiliki kawasan pertambangan nikel yang luas. Berikut adalah wilayah-wilayah penghasil nikel utama:

  • Sulawesi Tenggara: Luas tambang 198.624,66 hektare. Kabupaten Kolaka jadi pusat produksi, mencakup kecamatan Wundukalo, Wolo, Baula, Tanggetada, Pomalaa, Watubangga, dan Latambaga.
  • Sulawesi Selatan: Wilayah tambang 70.984 hektare/ Desa Magani, Kecamatan Nuha, Luwu Timur, dikelola oleh PT Vale Indonesia.
  • Sulawesi Tengah: Luas tambang 61.841,29 km². Kabupaten Morowali jadi sentra, dengan PT IMIP mengelola area sebesar 115.397,37 hektare.
  • Maluku Utara: Luas tambang 156.197,04 hektare. Wilayah produksi meliputi Kecamatan Maba, Wasile, dan Kabupaten Halmahera Timur. Saat ini beroperasi 12 perusahaan tambang.
  • Maluku: Luas lahan tambang 4.389 hektare. Dikelilingi pegunungan vulkanik, kaya akan tembaga, emas, nikel, batubara, hingga batu gamping.
  • Papua: Luas tambang 16.470 hektare. Dikenal pula sebagai lumbung emas dan tembaga, Papua menyimpan potensi besar untuk pertambangan nikel.
  • Papua Barat: Luas tambang 22.636 hektare. Pulau Gag jadi lokasi eksplorasi potensial, meski sebagian besar masih dalam tahap observasi.

Indonesia sedang duduk di singgasana mineral dunia. Tapi tanah yang menopang singgasana itu mulai goyah. Jika negara tak mulai menyusun strategi eksplorasi nasional, tak berani mendanai pencarian cadangan baru, maka kejayaan ini hanya akan menjadi catatan sejarah. Bukan warisan.

Kita sedang menulis babak besar dalam kisah sumber daya dunia. Tapi, apakah kisah itu akan berjudul “Kemakmuran yang Tumbuh” atau justru “Keserakahan yang Membakar Cadangan Terakhir”?

Waktu masih ada. Tapi tak banyak. Dan negeri ini tak bisa terus menunda pilihan. (*)

(Ruslan Sangadji)