DI UJUNG HALMAHERA SELATAN, tepatnya di Gane Barat, berdiri sebuah kampung bernama Posi-Posi. Kampung kecil yang jauh dari gemerlap kota, jauh dari sorotan media, dan jauh dari fasilitas pendidikan modern.
Tapi dari tanah sederhana ini, lahirlah seorang anak yang kelak menapaki panggung kepemimpinan akademik nasional, Dr. Adnan Mahmud, S.Ag., M.A.
Lahir pada 2 Maret 1975, Adnan bukan anak pejabat, bukan pula keturunan pembesar. Sejak kecil, ia sudah mengenal arti keterbatasan. Buku-buku pelajaran sulit didapat, listrik sering padam, dan jarak sekolah harus ditempuh dengan kaki yang belum pernah mengenal sepatu mahal. Namun, justru di situlah tekadnya dibentuk.
Tahun 1990, di usia 15 tahun, ia meninggalkan Posi-Posi untuk merantau ke Ternate. Di kota itu, ia tidak tinggal di rumah sendiri. Ia menumpang di rumah orang di Toboko. Setiap pagi, sebelum berangkat ke MTs Alkhairaat Kalumpang, Adnan sudah harus menyapu halaman, mencuci piring, dan membantu pekerjaan rumah lainnya.
Sore harinya, ia kembali ke rumah dengan sisa tenaga untuk mengulang pelajaran. Hidup di rantau mengajarinya disiplin, kerendahan hati, dan arti perjuangan yang sesungguhnya.
Lulus dari Madrasah Aliyah Alkhairaat Ternate, ia merantau lagi, kali ini ke Palu. Di STAIN Datokarama, jurusan Ushuluddin, ia menghabiskan empat tahun belajar sambil bertahan hidup dengan segala keterbatasan. Tahun 1998, ia berhasil meraih gelar sarjana. Namun, mimpi besarnya tak berhenti di situ.
Langkah berikutnya membawanya ke Jakarta. Sebagai mahasiswa pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, ia harus mengatur uang pas-pasan, menahan lapar, dan sesekali bekerja sambilan demi bertahan.
Tahun 2008 ia meraih gelar Magister, dan empat tahun kemudian menyelesaikan program Doktor di bidang Pemikiran Islam. Perjalanan panjang yang ditempuh bukan dengan kemewahan, melainkan keteguhan hati.
“Ilmu bukan hanya untuk diri sendiri. Ilmu harus jadi cahaya bagi orang lain,” katanya. Prinsip itu pula yang membawanya kembali ke Ternate, bukan untuk mencari kenyamanan, tapi untuk mengabdi.
Kariernya di dunia akademik dimulai di STAI Alkhairaat Labuha, Bacan sebagai Pembantu Ketua III (2012–2016). Lalu, ia dipercaya menjadi Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama IAIN Ternate (2018–2020), sebelum menjabat Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga (2020 – sekarang).
Kini, ia tengah berikhtiar menuju posisi puncak, Rektor IAIN Ternate, sebuah jabatan yang dulu terasa mustahil bagi anak kampung dari Posi-Posi seperti Adnan Mahmud.
Di luar kampus, kiprahnya mengalir di berbagai organisasi keagamaan dan kepemudaan. Ia pernah memimpin GP Ansor Kota Ternate, menjadi Ketua Wilayah Himpunan Pemuda Alkhairaat (HPA) Maluku Utara, dan menjabat Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Maluku Utara selama dua periode. Dalam setiap perannya, ia selalu membawa misi yang sama: merawat kerukunan di tengah keberagaman.
Kesibukan tidak menghalanginya menulis. Buku Islam Progresif: Anak Muda NU Membongkar Tradisi (2013) dan Membentang Nalar Gus Dur (2016) menjadi bagian dari sumbangan pemikirannya.
Ia juga menggagas Mazhab Dufa-Dufa, sebuah upaya intelektual membaca moderasi Islam Indonesia melalui perspektif al-Qur’an.
Di balik semua capaian itu, ada keluarga yang menjadi sumber kekuatan. Bersama istrinya, Nuraen Ahmad, ia membesarkan dua anak, Rufaidatul Mutmainnah dan Fikri Yathir El-Sagiv, dengan nilai yang sama yang ia bawa sejak kampung: keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Dari Posi-Posi yang jauh di pelosok, melewati tahun-tahun penuh ujian di rantau, hingga ke ruang-ruang sidang akademik, Adnan Mahmud telah membuktikan bahwa garis awal bukanlah penentu garis akhir.
Ia memang bukan anak pejabat, bukan anak pembesar. Tapi kerja keras, doa, dan keyakinan membawanya menembus batas yang dulu terlihat mustahil, dan kini ia berdiri sebagai bukti hidup, bahwa anak kampung pun bisa mengubah takdirnya dan memberi arti bagi banyak orang. (*)
Editor: Ruslan Sangadji

Tinggalkan Balasan