SENYAP MENYELIMUTI ruang redaksi Al Jazeera di Doha, Senin, 11 Agustus 2025. Puluhan jurnalis berdiri berjejer, sebagian menggenggam foto-foto rekan mereka yang kini tinggal nama.
Foto-foto itu, dengan senyum yang terekam selamanya, menjadi pengingat pahit: lima jurnalis Al Jazeera gugur dalam serangan Israel pada Ahad, 10 Agustus 2025.
Acara peringatan itu bukan sekadar prosesi. Itu adalah janji. Janji untuk tidak berhenti menyalakan suara dari Gaza, meski setiap kata dan gambar dibayar dengan nyawa.
Di tengah kerumunan, terlihat Wael al-Dahdouh, kepala biro Al Jazeera di Gaza. Wajahnya menyimpan luka yang jauh lebih dalam dari sekadar kehilangan kolega.
Ia telah kehilangan istri dan anak-anaknya dalam serangan Israel, namun tetap berdiri di garis depan peliputan.
“Setiap kali kita kehilangan orang terkasih dan kolega, kita kehilangan sebagian dari keluarga jurnalis. Ini sangat sulit dan menyakitkan,” ucapnya pelan, matanya menerawang.
Tak jauh darinya, Fadi Al Wahidi, juru kamera yang kini lumpuh akibat tembakan di leher saat meliput, hadir dengan kursi roda.
Ia menatap layar di studio yang menayangkan potret lima rekan sejawatnya: Anas al-Sharif, jurnalis yang dikenal publik luas; koresponden Mohammed Qreiqeh; serta tiga juru kamera, Ibrahim Zaher, Mohammed Noufal, dan Moamen Aliwa.
Mereka semua gugur di tenda liputan di Kota Gaza, di wilayah utara Palestina. Serangan itu merenggut nyawa, tapi tidak bisa membungkam suara.
Dari Doha, para staf Al Jazeera mengirim pesan lantang: liputan akan terus berjalan, perang 22 bulan Israel-Hamas di Gaza, akan terus disiarkan, dan kisah rakyat Palestina akan terus sampai ke dunia.
Di akhir acara, tidak ada tepuk tangan. Hanya keheningan panjang, sesekali terputus oleh isak. Di ruang redaksi itu, kamera dan pena menjadi simbol perlawanan, senjata terakhir melawan upaya membungkam kebenaran. (*)

Tinggalkan Balasan