ANGIN MALAM PALU membawa kembali kenangan lama ketika Radio Nebula merayakan ulang tahunnya yang ke-39 pada Rabu, 19 November 2025. Di halaman sederhana atau disebut sebagai lapangan basket, yang dipenuhi lampu-lampu panggung, suara tawa, dan denting musik, Radio Nebula seakan membuka pintu masa lalu, mengundang kembali para pendiri, mantan penyiar, musisi, dan sosok-sosok yang pernah menjadikannya rumah kreativitas sejak puluhan tahun silam.

Sejak pukul 19.00 Wita, suasana di studio dan halaman Nebula 101 FM tampak hidup. Para pendengar lintas generasi, baik yang hadir langsung maupun melalui udara, menyaksikan bagaimana radio yang telah menemani 39 tahun perjalanan anak muda Palu itu masih bersinar, seperti ritme malam yang tidak pernah berhenti.

Perayaan tahun ini sejatinya sudah dimulai sejak 11 November. Nebula mengawali rangkaian acara dengan Coaching Clinic Gitar bersama Edo Widiz, gitaris band rock nasional Voodoo. Sejumlah anak muda Palu dan Sigi berdatangan, menyerap ilmu, teknik, dan cerita bermusik langsung dari sosok yang mereka kagumi.

Dari mata mereka, semangat musik yang pernah meramaikan Kota Palu di era 90-an seperti menyala kembali.

Di malam puncak, suasana dibuat hening untuk pembacaan Doa Syukur, sebuah penanda bahwa perjalanan Nebula bukan hanya tentang musik, tetapi tentang syukur, kebersamaan, dan daya tahan sebuah mimpi panjang.

Seusai doa, Owner Radio Nebula, Tasdiky Lasahido, naik ke panggung, ia mengingatkan kembali ruh yang sejak dulu dipegang Nebula.

“Radio Nebula tidak berubah sejak dulu sampai sekarang. Ritmenya tetap sama, semangatnya tetap, dan komitmennya untuk menjadi ruang ekspresi anak muda terus kami jaga,” ujarnya, membawa kehangatan bagi siapa saja yang pernah tumbuh bersama suara Nebula.

Gelombang nostalgia berlanjut ketika Idham Lapasere dan Rony Rotty mengisi panggung, membuka jalan bagi penampilan musisi muda. Dari musik rock, pop, akustik hingga beat yang lebih modern, semuanya mengalir silih berganti. Generasi baru menunjukkan, kreativitas anak muda Palu tidak pernah kehabisan bahan bakar.

Namun malam itu bukan hanya milik anak muda. Kehadiran para legenda membuat suasana menjadi lebih hangat. Bupati Sigi, Moh. Rizal Intjenae, salah satu pendiri Radio Nebula, telah lebih dulu hadir sejak malam 15 November. Ia kembali naik ke panggung, memainkan musik, menyambung kenangan ketika dirinya dan kawan-kawan menjadi motor penggerak komunitas kreatif di era 90-an.

Reuni sesungguhnya terjadi ketika para mantan penyiar dan tokoh yang pernah menjadi bagian dari perjalanan Nebula berdatangan. Imelda Sormin, kini salah satu Direktur di Kemendagri, hadir membawa kebanggaan tersendiri. Ada juga Ermast Cintawan, Hary Aziz, Mujib Karim, serta aktivis Agus Salim Faisal dan Neni Muhidin. Tidak ketinggalan mantan Bupati Sigi, Irwan Lapatta, yang juga pernah menjadi bagian dari keluarga besar Nebula.

Sorak kecil dan tepuk tangan hangat terdengar ketika para legenda penyapa malam dari era 90-an muncul: Ges Nasar, Farid Nasar, Gamal Hakim, dan Rudy Permesta. Kehadiran mereka seakan memutar ulang masa ketika suara-suara mereka menjadi teman setia anak muda Palu yang sedang mencari jati diri.

Namun di tengah kebahagiaan reuni itu, ulang tahun kali ini juga menjadi ruang sunyi yang lembut, sebuah momen untuk mengingat mereka yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan Radio Nebula, tetapi kini telah mendahului kita: mendiang Tahmidy Lasahido, M. Ichsan Loulembah, Kaka, dan Jaya Rantetasik.

Nama-nama itu tidak pernah hilang dalam ingatan Nebula. Mereka adalah bagian dari fondasi kreativitas yang menghidupkan radio ini sejak awal. Malam itu, doa dipanjatkan agar Allah merahmati mereka semua, menempatkan mereka pada tempat terbaik di sisi-Nya.

Di berbagai sudut, percakapan lama disambung tawa baru. Para tokoh itu mengenang bagaimana Nebula pernah menjadi pusat pertemuan aktivis, seniman, musisi, jurnalis dan remaja penuh energi. Nebula pada masa itu bukan sekadar radio; ia adalah ruang aman tempat ide-ide tumbuh, tawa dibagi, musik dirayakan, dan mimpi dirawat.

Malam itu, Nebula membuktikan bahwa usia 39 tahun bukanlah tanda melemahnya semangat. Justru menjadi pengingat bahwa radio ini mempunyai tempat yang kuat di hati banyak orang.

Dengan dukungan para pendiri, generasi penyiar baru, dan anak-anak muda yang terus berkarya, Radio Nebula tetap berdiri sebagai salah satu simbol kreativitas yang tak pernah padam di Kota Palu.

Dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan—Nebula tetap menjadi “The Hits Music Station”. (*)

(Ruslan Sangadji)

Farid Nasar ikut berkontribusi dalam artikel ini