Oleh: Ruslan Sangadji / MN KAHMI

Saya mengenal Arief Rosyid karena dia adinda di HMI. Usia kami terpaut jauh, begitu pula usia kekaderan. Tentu saja saya lebih senior dari Arief. Ia adalah mantan Ketua Umum PB HMI. Kami juga tergabung dalam satu grup WhatsApp bernama KF Jurnalis, grup yang dibentuk oleh almarhum M. Ichsan Loulembah, tokoh HMI yang dikenal sebagai perajut silaturahmi.

Beberapa kali kami juga bertemu dalam sejumlah agenda KAHMI di Jalan Turi, Kebayoran Baru. Meski demikian, kami jarang bertegur sapa. Itulah yang membuat saya mengenal Arief Rosyid, sementara dia boleh jadi tidak mengenal saya. Tidak masalah. Bagi saya, itu hal biasa.

Tulisan ini bukan soal relasi personal tersebut. Juga bukan bermaksud mengundang pembaca untuk mengaminkan. Saya menulis karena untuk membaca pernyataan Arif Rosyid dengan kacamata politik. Saya menulis ini, karena Arief Rosyid belakangan menjadi viral akibat pernyataannya yang mendukung dan membela Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia.

Sebagai Wakil Ketua DPP AMPI (organisasi kepemudaan sayap Partai Golkar) pernyataan itu membuatnya babak belur dihajar netizen. Seperti biasa, netizen merasa paling benar dengan segala komentarnya.

Namun saya ingin mengatakan begini. Dalam politik, loyalitas sering kali dibaca secara hitam-putih: dipuji ketika sejalan, dicibir ketika terdengar berlebihan. Pernyataan Arief Rosyid yang menegaskan sikap “tegak lurus” kepada Ketua Umum Partai Golkar berada tepat di wilayah abu-abu itu. Banyak yang terkejut, sebagian mencibir, seolah-olah Arif telah melanggar etika nalar publik. Padahal, jika dibaca secara jujur dan utuh, pernyataan itu justru mencerminkan logika dasar dalam kehidupan berpartai.

Arief Rosyid tidak sedang berbicara sebagai pengamat netral atau akademisi yang berdiri di menara gading. Ia berbicara sebagai kader.

Dalam struktur partai politik, loyalitas bukan sekadar pilihan emosional, melainkan fondasi organisasi. Tanpa loyalitas, partai akan berubah menjadi kerumunan kepentingan yang rapuh. Maka ketika adinda Arief mengatakan akan membela ketua umumnya, bahkan dalam posisi yang sulit sekalipun, itu adalah ekspresi kesadaran struktural, bukan kebutaan moral.

Yang sering luput disadari, politik bukan ruang steril yang hanya diisi oleh logika benar dan salah versi warganet. Politik adalah arena pertarungan gagasan, kekuasaan, dan kepentingan. Dalam arena seperti itu, ketua umum bukan sekadar individu, melainkan simbol partai. Membela ketua umum sama artinya dengan menjaga marwah dan stabilitas partai. Serangan terhadap ketua umum, apalagi yang bernuansa delegitimasi, kerap kali bukan kritik tulus, melainkan upaya mengguncang rumah besar bernama organisasi. Karena sejatinya, serangan kepada Bahlil Lahadalia belakangan ini lebih bersifat cynical daripada critical.

Pernyataan Arief Rosyid menjadi ribut, justru karena publik sering menuntut kader partai bersikap seperti orang luar. Ini tuntutan yang tidak adil. Jika Arief bukan kader Golkar, barangkali ia akan berbicara lain. Tetapi justru karena ia kader, maka keberpihakannya menjadi wajar. Loyalitasnya bukan pada individu semata, melainkan pada garis komando dan disiplin organisasi yang ia pilih secara sadar sejak awal.

Tentu saja, loyalitas tidak berarti menihilkan akal sehat atau menutup ruang koreksi internal. Kritik tetap penting, tetapi tempatnya ada di ruang-ruang yang tepat, bukan di panggung terbuka yang justru memberi karpet merah bagi pihak-pihak yang ingin merusak dari luar. Dalam konteks itu, sikap Arief dapat dibaca sebagai benteng pertama: menutup pintu gangguan eksternal, sembari memastikan urusan internal diselesaikan secara internal.

Maka, alih-alih menghakimi, pernyataan Arief Rosyid seharusnya dipahami sebagai potret kejujuran politik. Ia tidak berpura-pura netral, tidak bersilat lidah demi tepuk tangan publik. Ia berdiri di posisinya, dengan segala konsekuensi. Dalam dunia politik yang kerap dipenuhi sikap abu-abu dan loyalitas semu, keberanian untuk terang-terangan berpihak justru menjadi sesuatu yang langka.

Pada akhirnya, yang perlu diuji bukanlah keberpihakan Arif Rosyid, melainkan kematangan kita dalam membaca politik apa adanya. Bahwa dalam partai, loyalitas bukan dosa. Ia adalah prasyarat. Dan Arief Rosyid, suka atau tidak, hanya sedang menjalankan perannya secara konsisten. (*)

Wallahu A’lam
Yakusa