Oleh: Ruslan Sangadji / Kaidah.ID
Tulisan ini saya dedikasikan untuk mereka yang sedang berada di kursi kekuasaan. Berhentilah sejenak sebelum merasa paling tinggi. Sebelum suara orang lain tak lagi terdengar karena kita terlalu sibuk mendengar diri sendiri.
Jadilah pemimpin yang rendah hati. Rendah hati bukan berarti lemah, melainkan sadar batas. Sadar bahwa apa pun yang kita capai hari ini, bukan semata hasil kecerdasan atau kehebatan pribadi.
Ada waktu yang berpihak, ada keadaan yang membuka jalan, ada orang-orang kecil yang bekerja dalam diam. Dan ada yang diam-diam mendoakan.
Pemimpin yang rendah hati tidak sibuk memamerkan keberhasilan, sebab ia tahu: keberhasilan sejati tak perlu diteriakkan.
Jadilah pemimpin yang tahu diri. Tahu dari mana ia berasal, tahu bagaimana ia bisa sampai di titik itu, dan tahu ke mana kelak ia akan kembali. Jabatan bukan identitas, hanya peran sementara.
Hari ini komiu dipanggil “pak” atau “ibu”, besok bisa kembali menjadi warga biasa. Pemimpin yang tahu diri tak pernah memperlakukan orang lain seolah derajat kemanusiaan bisa naik turun mengikuti jabatan.
Jadilah pemimpin yang tahu berterima kasih. Yang mengingat nama-nama yang dulu berjalan bersamanya saat belum ada sorotan. Yang tidak lupa pada mereka yang tetap setia ketika keadaan sulit, ketika kemenangan belum tampak, ketika kekalahan terasa dekat.
Ucapan terima kasih yang jujur, adalah tanda kematangan batin seorang pemimpin. Sebab hanya jiwa yang lapang yang mampu mengakui peran orang lain.
Dan jangan serakah. Jangan rakus pada kekuasaan, jangan tamak pada pujian, jangan lapar akan kepentingan pribadi. Kekuasaan yang digenggam terlalu erat justru sering berakhir jatuh lebih cepat.
Pemimpin yang serakah akan sulit berbagi ruang, enggan memberi kesempatan, dan takut kehilangan. Padahal kepemimpinan bukan soal menguasai segalanya, melainkan soal memberi sebanyak-banyaknya.
Jangan mentang-mentang berkuasa lalu merasa paling benar. Jangan mentang-mentang punya kewenangan lalu menutup telinga dari kritik. Kritik bukan ancaman, ia justru penanda bahwa masih ada yang peduli. Pemimpin yang alergi kritik sejatinya sedang takut pada bayangannya sendiri.
Jangan mentang-mentang duduk di kursi empuk lalu lupa bagaimana rasanya berdiri lama menunggu keadilan. Jangan mentang-mentang dikelilingi pengawal lalu lupa menyapa rakyat dengan mata yang sejajar. Kekuasaan yang tidak disertai empati hanya akan menciptakan jarak. Dan jarak itu pelan-pelan berubah menjadi ketidakpercayaan.
Ingatlah, kekuasaan tidak mengubah seseorang, ia hanya memperlihatkan siapa dirinya yang sebenarnya. Saat tidak berkuasa, kita bisa berpura-pura sederhana. Saat berkuasa, topeng mudah terlepas. Maka jagalah diri sebelum dijaga oleh aturan. Kendalikan hati sebelum dikendalikan oleh keadaan.
Pemimpin sejati adalah mereka yang saat berada di puncak tetap membungkuk untuk mendengar. Yang saat dipuji tetap tenang, dan saat dicela tetap waras. Yang berani berkata, “Saya salah,” dan tidak malu mengucapkan, “Terima kasih.”
Dan kelak, ketika jabatan berakhir, ketika protokol berhenti, ketika lampu sorot padam, yang tersisa hanyalah jejak. Jejak tentang bagaimana ia memperlakukan orang lain. Apakah ia meninggalkan luka, atau meninggalkan teladan.
Sebab pemimpin yang besar tidak diukur dari lamanya berkuasa, tetapi dari kerendahan hati, kelapangan jiwa, dan ketidaksediaannya untuk serakah, demi kemanusiaan yang lebih adil.
Dan ingatlah pesan orang-orang tua yang lahir dari pengalaman panjang hidup: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Ke mana pun kaki melangkah, hormatilah adat, manusia, dan nilai yang hidup di sana.
Jangan datang dengan kesombongan seolah-olah langit hanya milik sendiri. Pemimpin yang bijak tahu cara menunduk tanpa kehilangan wibawa, tahu cara menghormati tanpa kehilangan arah. Karena siapa pun yang mengabaikan bumi tempat ia berpijak, cepat atau lambat akan kehilangan langit yang menaunginya. (*)
Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan