BOGOR, KAIDAH.ID – Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya kewaspadaan nasional, pemahaman sejarah, serta persatuan bangsa saat memberikan taklimat pada Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Senin, 2 Februari 2026.

Dalam taklimatnya, Presiden menyebut Indonesia selama ini kerap dipandang sebagai negara yang mustahil Bersatu, karena keragamannya. Namun ia menilai anggapan itu keliru.

“Kita dianggap negara yang tidak mungkin. The impossible country, the impossible nation. Tapi kita juga harus jadi pemimpin yang tidak lugu. Kita harus waspada, mengerti sejarah kita, mengerti latar belakang bangsa kita, dari Sabang sampai Merauke,” kata Presiden.

Ia mengingatkan, bangsa Indonesia memiliki pengalaman panjang dijajah, diintervensi, dan diganggu kekuatan asing selama ratusan tahun.

“Mereka yang melupakan sejarah akan dihukum oleh sejarah. Kalau kita tidak paham sejarah, kita akan mengulangi kesalahan masa lalu,” tegas Presiden.

Presiden juga menyinggung kondisi global saat ini. Menurutnya, Indonesia kini bisa melihat kenyataan dunia yang sesungguhnya, termasuk sikap negara-negara besar.

“Kita melihat negara-negara besar yang mengajarkan demokrasi, hak asasi manusia, dan rule of law, justru melanggar apa yang mereka ajarkan. Puluhan ribu wanita, orang tua, anak-anak tidak berdosa dibantai, banyak negara diam. Di mana hak asasi manusia?” ucapnya.

Ia menekankan, kemerdekaan Indonesia diraih melalui perjuangan panjang dan pengorbanan besar rakyat di seluruh daerah.

“Negara ini dibangun atas pengorbanan rakyat yang sangat besar. Karena itu kita ada untuk berbakti kepada rakyat, bukan untuk kepentingan diri sendiri,” katanya.

Presiden mengingatkan, Indonesia pernah mengalami penjajahan yang bersifat imperialis dan rasialis.

“Kita pernah dianggap lebih rendah dari anjing. Anak muda sekarang mungkin tidak merasakan, tapi itu sejarah kita,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga situs-situs sejarah nasional.

“Kadang kita tidak menghormati sejarah. Situs-situs bersejarah dibongkar. Ini harus dipikirkan para kepala daerah,” kata Presiden, seraya menyinggung keberadaan situs perjuangan seperti stasiun RRI yang digunakan Bung Tomo dan peninggalan Majapahit.

Presiden mengajak semua pihak menghormati jasa para pemimpin terdahulu.

“Semua presiden, semua pemerintahan terdahulu, para gubernur, para bupati, semuanya telah berkontribusi terhadap kehadiran kita hari ini,” ujarnya.

Menurut Presiden, perbedaan suku, agama, ras, dan pandangan politik tidak boleh memecah belah bangsa.

“Kita berbeda-beda, tapi kita satu keluarga besar Indonesia,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa sejak awal kemerdekaan, Indonesia menghadapi pemberontakan, percobaan kudeta, hingga ancaman terhadap pimpinan negara.

“Konsep Indonesia ini tidak disukai oleh banyak kekuatan di dunia. Kita harus sadar kita tidak hidup sendiri. Perang di Ukraina berpengaruh ke kita, peristiwa di Gaza berpengaruh ke kita,” ujar Presiden.

Dalam forum internasional yang ia hadiri, banyak pemimpin dunia disebut khawatir akan potensi perang besar.

“Hampir semua merisaukan pecahnya perang dunia ketiga. Kalau perang nuklir terjadi, kita yang tidak terlibat pun akan kena dampaknya,” katanya.

Presiden menegaskan politik luar negeri Indonesia tetap bebas aktif dan nonblok.

“Kita tidak ikut pakta militer mana pun. Filosofi saya, seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak,” ujarnya.

Namun ia menekankan bahwa kemandirian tetap menjadi kunci.

“Kalau kita diserang, tidak akan ada yang bantu kita. Nobody is going to help us. Karena itu kita harus berdiri di atas kaki kita sendiri,” kata Presiden, mengutip ajaran Bung Karno dan Panglima Besar Sudirman.

Menurut Presiden, realitas dunia menunjukkan yang kuat menentukan arah, sedangkan yang lemah menderita.

“Dunia ini bukan keadaan ideal, tapi keadaan nyata,” ujarnya.

Karena itu, ia menegaskan tugasnya sebagai presiden adalah menjaga bangsa dan rakyat.

“Kita tidak bisa emosional, tidak bisa terlalu idealis. Kita tidak mau perang, tapi kalau tidak mau perang, kita harus siap perang,” tegasnya.

Presiden juga menyinggung kekayaan sumber daya alam Indonesia yang menjadi daya tarik kekuatan asing sejak ratusan tahun lalu.

“Mereka datang ke sini bukan untuk wisata. Tapi bangsa kita tetap dikenal ramah. Walaupun miskin, tamu datang tetap diberi makan, meski hanya nasi dan garam,” kata Presiden Prabowo Subianto.

Di akhir bagian ini, Presiden kembali menegaskan bahwa seluruh jajaran pemerintahan harus waspada, memahami sejarah, dan menjaga persatuan demi melindungi rakyat serta masa depan Indonesia. (*)

(Ruslan Sangadji)