PAGI ITU, suasana duka menyelimuti Kelurahan Nalu, Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah. Bukan hanya karena kepergian almarhumah Ny. Farida, tetapi juga karena cara jenazahnya harus diantarkan ke peristirahatan terakhir. Di tengah kesedihan, warga dihadapkan pada kenyataan pahit: akses satu-satunya menuju permukiman mereka tak lagi layak dilalui.
Jembatan titian di kompleks belakang Rumah Adat, Jalan Hanjala, yang selama ini menjadi urat nadi bagi sekitar 15 kepala keluarga, telah rapuh dimakan usia. Panjangnya lebih kurang 100 meter, namun kondisinya tak lagi mampu menahan beban, apalagi untuk dilalui usungan jenazah.
Tak ada pilihan lain. Demi melanjutkan prosesi pemakaman, warga bergotong royong menyeberangkan jenazah melalui alur sungai dengan kedalaman air yang cukup berisiko.
Peristiwa itu menjadi potret getir, tentang keterbatasan infrastruktur yang bersentuhan langsung dengan nilai kemanusiaan. Kabar tersebut pun menyita perhatian publik dan mendorong Anggota DPRD Kabupaten Tolitoli Dapil Baolan, Jemi Yusuf, turun langsung ke lokasi.
Pada Rabu pagi, 11 Februari 2026, sekitar pukul 09.00 WITA, ia bersama Lurah Nalu, Ahyar Tauhid, meninjau kondisi jembatan titian sekaligus mengunjungi rumah duka.
Di hadapan warga, Jemi Yusuf tak menutupi keprihatinannya. Baginya, kejadian ini bukan sekadar soal jembatan rusak, melainkan alarm kemanusiaan yang tak boleh diabaikan.
“Ini sangat memprihatinkan. Akses jembatan yang tidak layak membuat warga bahkan tidak bisa mengantarkan jenazah dengan cara yang semestinya. Ini bukan hanya soal infrastruktur, tapi soal kemanusiaan,” katanya dengan nada serius.
Ia menegaskan, kondisi tersebut tidak boleh terulang. Jemi Yusuf menyatakan komitmennya untuk mendorong perbaikan melalui jalur kebijakan dan penganggaran daerah agar warga Kelurahan Nalu dapat menikmati akses yang aman dan layak.
“Insya Allah tahun 2026 melalui APBD Perubahan, akan kita usulkan pembangunan jembatan yang layak untuk aksesibilitas masyarakat. Kita tidak ingin lagi ada jenazah yang harus diusung dengan menyeberangi sungai atau laut,” tegasnya.
Harapan kini menggantung pada keseriusan Pemerintah Kabupaten Tolitoli dan pihak terkait. Warga Kelurahan Nalu berharap, peristiwa pilu ini menjadi titik balik, agar pembangunan jembatan segera direalisasikan, demi keselamatan, kelancaran aktivitas sehari-hari, dan yang terpenting, menjaga martabat serta nilai kemanusiaan masyarakat. (*)

Tinggalkan Balasan