DI GRAHA HUNTAP TONDO DUA, Selasa 10 Februari 2026, kursi-kursi terisi penuh. Wajah-wajah warga Kelurahan Tondo dan Layana Indah tampak antusias menyambut kehadiran Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Mohammad Arus Abdul Karim. Sekitar 250 orang berkumpul, bukan sekadar mengikuti reses, tetapi juga merasakan suasana kebersamaan yang jarang terjadi di gedung pertemuan kawasan huntap tersebut.

Bagi Mohammad Arus Abdul Karim, pertemuan ini memang ingin dibuat berbeda. Reses masa persidangan II tahun anggaran 2026 itu dipadukan dengan kegiatan Golkar Berbagi, dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadhan. Ia sengaja meminta timnya menghadirkan lebih banyak masyarakat, agar momen silaturahmi itu terasa lebih hangat dan bermakna.

“Alhamdulillah, di Kelurahan Tondo ada gedung yang bisa menampung sekitar 250 orang. Ini patut kita syukuri,” kata Mohammad Arus Abdul Karim, membuka sambutannya di hadapan warga yang memadati Graha Huntap Tondo 2.

Rasa syukur itulah yang menurut Ketua MPW Pemuda Pancasila Sulteng ini, Arus harus dijaga bersama. Ia menilai, keberadaan gedung pertemuan di kawasan huntap bukan hanya bangunan fisik, melainkan ruang harapan bagi warga. Karena itu, ia berkomitmen membantu melengkapi fasilitas gedung agar benar-benar dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai keperluan, mulai dari hajatan hingga kegiatan sosial.

“Tolong dicatat apa saja keperluan gedung ini. Kipas angin, kursi, atau meja. Tidak perlu masyarakat minta, ini langsung saya kasih,” katanya lugas, disambut tepuk tangan warga.

Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Tengah itu juga mengingatkan pentingnya pengelolaan. Ia meminta masyarakat membentuk lembaga yang khusus mengurus Graha Huntap Tondo 2, agar fasilitas yang ada dapat dirawat dan digunakan secara berkelanjutan.

“Bentuk dulu lembaganya. Soal kekurangan fasilitas, kasih tahu saya. Nanti saya bantu,” ujarnya.

Tak hanya gedung pertemuan, perhatian Mohamma Arus Abdul Karim, juga menyentuh kebutuhan dasar layanan kesehatan. Ketika seorang kader posyandu menyampaikan kondisi Posyandu Huntap Tondo 2 yang masih minim fasilitas, Arus langsung merespons tanpa banyak birokrasi.

“Untuk keperluan posyandu seperti kanopi, meja, dan kursi, tidak perlu proposal. Habis acara ini, langsung tinjau lokasinya supaya secepatnya kita bangun,” katanya, yang kembali disambut tepuk tangan meriah.

Di sela-sela pertemuan, Arus juga menyempatkan diri memberi penghargaan kepada para Ketua RT dan Ketua RW yang hadir. Menurutnya, merekalah garda terdepan yang selama ini bekerja senyap membantu masyarakat di lingkungan masing-masing.

“Tolong catat semua nama Ketua RT dan Ketua RW yang hadir. Mereka harus kita beri apresiasi, apalagi tinggal seminggu lagi kita mau puasa,” ucapnya, membuat suasana ruangan semakin hangat.

Arus mengingatkan warga, pada tahun 2025, sejumlah aspirasi masyarakat Kelurahan Tondo telah berhasil direalisasikan. Namun, ia merasa bantuan tersebut masih perlu ditingkatkan pada tahun 2026.

“Bantuan tahun lalu menurut saya masih sedikit. Tahun ini saya ingin lebih banyak. Kendalanya kemarin, banyak proposal yang tidak lengkap. Jadi tolong nanti dilengkapi,” pesannya.

Menjelang akhir acara, Mohammad Arus Abdul Karim menutup sambutannya dengan nada rendah hati. Ia mengakui, semua yang dapat ia lakukan tak lepas dari dukungan dan doa masyarakat.

“Saya bisa hadir di sini karena dukungan bapak ibu semua. Tetap doakan saya, supaya saya bisa lebih banyak membantu,” tuturnya.

Apresiasi pun datang dari pemerintah setempat. Sekretaris Lurah Tondo, Fitriani, menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian dan bantuan yang selama ini diberikan Ketua DPRD Sulteng kepada warganya.

“Atas nama pemerintah kelurahan, kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Arus Abdul Karim yang selama ini telah membantu masyarakat Kelurahan Tondo,” ujarnya.

Selasa itu, Graha Huntap Tondo 2 bukan hanya menjadi lokasi reses, tetapi menjelma ruang perjumpaan antara harapan warga dan komitmen seorang wakil rakyat—ruang kecil yang menyimpan cerita tentang kepedulian, kebersamaan, dan harapan akan hari esok yang lebih baik. (*)

(Ruslan Sangadji)