JAKARTA, KAIDAH.ID – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menegaskan, puasa Ramadhan tidak hanya berdimensi ibadah spiritual, tetapi juga memiliki landasan ilmiah yang berdampak positif bagi kesehatan tubuh dan otak.
Hal itu disampaikannya dalam kajian menyambut Ramadan 1447 Hijriah yang digelar pada Kamis, 12 Februari 2026 siang, di Gedung Bhineka Tunggal Ika BPOM, Jakarta, dan diikuti jajaran pegawai secara luring maupun daring di seluruh Indonesia.
Menurut Taruna Ikrar, perintah puasa dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183, mengandung hikmah yang selaras dengan temuan sains modern, khususnya di bidang kesehatan dan neurosains.
“Saat kita berpuasa kurang lebih 16 jam, ada tiga proses fisiologis penting yang terjadi di dalam tubuh,” katanya.
TIGA PROSES PENTING SAAT PUASA
Ia menjelaskan, saat seseorang berpuasa sekitar 16 jam, terdapat tiga proses fisiologis penting yang terjadi di dalam tubuh. Proses pertama adalah glikolisis, yaitu pemecahan glukosa sebagai sumber energi.
“Dalam sekitar delapan jam pertama, tubuh menggunakan cadangan energi dari makanan sahur. Setelah itu, karena tidak ada lagi asupan makanan, tubuh mulai memanfaatkan cadangan lemak sebagai sumber energi alternatif,” jelasnya.
Menurutnya, peralihan metabolisme ini membantu membersihkan pembuluh darah dari timbunan lemak yang berpotensi menjadi sumber penyakit.
Proses kedua adalah autofagi, yakni mekanisme alami tubuh untuk membuang sel-sel rusak dan menggantinya dengan sel baru melalui regenerasi. Proses ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan sel dan mencegah berbagai penyakit metabolik.
“Autofagi berkontribusi dalam pencegahan obesitas, diabetes, penyakit degeneratif, bahkan kanker dan penyakit jantung koroner,” jelasnya.
Dari sisi neurosains, puasa juga dinilai mampu mendukung kesehatan otak melalui peningkatan efisiensi metabolisme dan peremajaan sel. Mekanisme ini diyakini membantu menjaga fungsi kognitif dan ketahanan sel saraf.
Sebagai lembaga pengawas obat dan makanan, Taruna Ikrar menegaskan komitmen BPOM, untuk terus mengedukasi masyarakat mengenai pola konsumsi sehat selama Ramadan, termasuk pentingnya menjaga keseimbangan nutrisi saat sahur dan berbuka.
RAMADHAN SEBAGAI MOMENTUM EMPATI SOSIAL
Selain kajian ilmiah, BPOM juga memanfaatkan momen jelang Ramadhan untuk memperkuat kepedulian sosial. Sebanyak 300 pekerja senyap yang terdiri dari petugas kebersihan, satpam, sopir, dan pramusaji menerima santunan dan paket kebutuhan Ramadhan.
“BPOM berdiri bukan hanya oleh pejabat dan tenaga profesional, tetapi juga oleh orang-orang yang setiap hari memastikan kantor tetap bersih, aman, dan berjalan. Ramadhan adalah waktu terbaik untuk menghormati dan berbagi kepada mereka,” kata Taruna Ikrar.
Ia berharap kegiatan tersebut menjadi budaya lembaga yang tidak hanya kuat dalam sains dan regulasi, tetapi juga dalam nilai kemanusiaan.
“Ramadhan bukan hanya datangnya bulan suci, tetapi datangnya kesempatan. Kita siapkan hati sebelum tubuh berpuasa,” tutupnya.
Dalam kesempatan yang sama, kajian jelang Ramadhan turut menghadirkan Ustadz Nur Maulana yang menyampaikan tausiyah tentang pentingnya mempersiapkan hati sebelum memasuki bulan suci.
Ia mengingatkan jamaah untuk menyambut Ramadhan dengan rasa syukur, memperbarui niat, dan memperbanyak doa agar diberi kekuatan menjalankan ibadah hingga meraih keutamaan Lailatul Qadar. (*)
(Ruslan Sangadji)
Kepala BPOM: Puasa Ramadhan Sehatkan Tubuh dan Otak
Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Tinggalkan Balasan