Alkhairaat tumbuh bukan semata-mata karena luasnya wilayah yang dijangkau, melainkan karena adanya keyakinan yang terus dirawat: bahwa dakwah dan pendidikan merupakan dua jalan pengabdian yang saling menguatkan. Dakwah memberi arah bagi kehidupan, sementara pendidikan menyediakan bekal agar masyarakat mampu memahami, mengembangkan, dan meneruskan nilai-nilai yang diyakini

Oleh: Muzakkir Muhsin Thaha, Lc., M.A., Ph.D | Dosen Ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh Institut SEBI

SERATUS tahun bukan sekadar hitungan waktu. Itu merupakan jejak panjang pengabdian, perjalanan ilmu yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, serta kesetiaan pada cita-cita yang tidak lekang oleh perubahan zaman. Bagi Alkhairaat, satu abad adalah kisah tentang cahaya ilmu yang mula-mula dinyalakan di sebuah sudut Kota Palu, kemudian menjalar menembus batas kampung, pulau, dan provinsi, menerangi kehidupan masyarakat di kawasan Indonesia Timur.

Cahaya itu berawal dari langkah seorang ulama besar, Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, yang lebih dikenal dengan sapaan Guru Tua. Dengan kesederhanaan dan keteguhan hati, beliau meletakkan fondasi pendidikan Islam, yang kelak tumbuh menjadi jaringan lembaga pendidikan dan dakwah yang berpengaruh. Dari Kampung Baru, Palu, pada 11 Juni 1930, Alkhairaat memulai perjalanan panjangnya, membawa harapan bahwa ilmu pengetahuan dan akhlak mulia, merupakan jalan untuk mengangkat martabat umat.

Pada masa ketika akses pendidikan masih terbatas, terutama di wilayah Indonesia Timur, dakwah Guru Tua tidak selalu berlangsung di ruang kelas dengan bangku-bangku tersusun rapi. Beliau hadir melalui perjumpaan, percakapan, dan pengajaran yang sederhana, bahkan dari rumah ke rumah. Di tengah keterbatasan fasilitas dan jauhnya jangkauan pelayanan pendidikan, Guru Tua menanamkan keyakinan bahwa setiap anak berhak mengenal ilmu, setiap masyarakat berhak memperoleh pencerahan, dan setiap generasi memikul tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai kebaikan.

Dari ikhtiar yang tampak sederhana itulah, sebuah gerakan besar bertumbuh. Alkhairaat tidak sekadar menjadi tempat orang belajar membaca kitab dan memahami ajaran agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter, tempat akal diasah, adab ditanamkan, dan kesadaran sosial dipupuk. Pendidikan tidak berhenti pada kemampuan menguasai pengetahuan, melainkan menemukan maknanya ketika ilmu menjelma menjadi pengabdian bagi sesama.

Dari Palu, Cahaya Itu Menjelajah Nusantara

Perjalanan Guru Tua menuju Palu, merupakan bagian penting dari sejarah dakwah dan pendidikan Islam di Indonesia Timur. Beliau berasal dari Tarim, Hadramaut, Yaman, dan tiba di wilayah Sulawesi Tengah sekitar 1929. Kedatangannya membawa tradisi keilmuan Islam yang kuat, sekaligus semangat untuk membangun masyarakat melalui pendidikan. Di Palu dan wilayah sekitarnya, beliau mulai mengajar, membimbing masyarakat, dan merintis sebuah lembaga yang kelak dikenal luas dengan nama Alkhairaat.

Pada 11 Juni 1930, Alkhairaat berdiri di Palu. Tanggal itu kemudian menjadi penanda lahirnya sebuah ikhtiar yang melampaui kepentingan satu generasi. Apa yang dirintis dari lingkungan sederhana, perlahan berkembang menjadi jaringan madrasah yang menjangkau berbagai wilayah. Pada periode 1930-1956, penyebaran lembaga pendidikan Al-Khairaat mulai meluas ke Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara. Menjelang wafatnya Guru Tua pada 1969, jumlah cabang madrasah bahkan telah mencapai sekitar 420.

Angka tersebut bukan sekadar catatan statistik. Di balik setiap madrasah, ada guru yang mengabdikan waktu dan pengetahuannya, ada anak-anak yang menemukan jalan menuju masa depan, serta ada keluarga yang menggantungkan harapan pada pendidikan. Di tempat-tempat yang jauh dari pusat keramaian, kehadiran lembaga pendidikan menjadi penanda, bahwa masyarakat tidak dibiarkan berjalan sendirian dalam menghadapi keterbatasan.

Alkhairaat tumbuh bukan semata-mata karena luasnya wilayah yang dijangkau, melainkan karena adanya keyakinan yang terus dirawat: bahwa dakwah dan pendidikan merupakan dua jalan pengabdian yang saling menguatkan. Dakwah memberi arah bagi kehidupan, sementara pendidikan menyediakan bekal agar masyarakat mampu memahami, mengembangkan, dan meneruskan nilai-nilai yang diyakini.

Warisan Guru Tua kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya, termasuk Habib Muhammad bin Idrus Aljufri, Habib Saggaf, dan keluarga besar Alkhairaat. Tantangan zaman berubah, kebutuhan masyarakat berkembang, dan dunia pendidikan terus bergerak, tetapi tanggung jawab untuk menjaga kesinambungan perjuangan tetap berada di tangan mereka yang mewarisi amanah tersebut.

Sebab, sebuah lembaga yang dibangun dengan cita-cita besar tidak cukup bertahan hanya dengan mengenang pendirinya. Ia harus terus menghidupkan nilai yang ditanamkan, memperbarui cara kerja, dan memastikan bahwa semangat awalnya tetap menemukan tempat dalam kehidupan generasi yang berbeda.

Menyemai Ilmu di Tengah Keragaman Indonesia Timur

Kini, Alkhairaat telah menjangkau 26 provinsi di Indonesia, dengan sekitar 1.550 madrasah atau sekolah dan 36 pondok pesantren. Jangkauan tersebut menunjukkan betapa luasnya peran lembaga ini dalam menyediakan akses pendidikan, membina tenaga pendidik, dan memperkuat kehidupan sosial-keagamaan masyarakat.

Namun, arti penting Alkhairaat tidak sepenuhnya dapat diukur melalui jumlah sekolah, pesantren, atau wilayah yang tercakup dalam jaringannya. Ada warisan yang lebih dalam dan tidak selalu dapat dihitung dengan angka: guru yang tetap mengajar di tengah keterbatasan, dai yang menyampaikan pesan agama dengan keteduhan, ulama yang membimbing masyarakat, serta alumni yang kembali ke lingkungannya untuk mengambil bagian dalam kehidupan bersama.

Dari ruang-ruang kelas Madrasah Alkhairaat, lahir orang-orang yang membawa bekal ilmu ke berbagai bidang pengabdian. Mereka hadir di tengah masyarakat sebagai pendidik, ulama, dai, dan tokoh sosial. Di tangan merekalah nilai-nilai yang diwariskan melalui pendidikan menemukan bentuk nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Indonesia Timur sendiri merupakan kawasan dengan bentang geografis yang luas, masyarakat yang beragam, dan tradisi lokal yang kaya. Dalam ruang kehidupan seperti itu, dakwah membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menyampaikan ajaran. Dakwah menuntut kebijaksanaan untuk memahami masyarakat, kesediaan mendengarkan, serta kecakapan membangun hubungan yang saling menghormati.

Di sinilah pendekatan dakwah Alkhairaat memiliki arti penting. Tradisi keilmuan, penghormatan terhadap adab, sikap yang meneduhkan, dan kemampuan berinteraksi dengan kebudayaan setempat menjadi modal untuk menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi kehidupan. Selama tetap berada dalam koridor prinsip-prinsip syariat, kearifan lokal dapat menjadi ruang perjumpaan yang memperkaya cara masyarakat memahami dan mengamalkan nilai-nilai keagamaan.

Dakwah yang demikian, tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk menciptakan jarak. Sebaliknya, perbedaan dirawat sebagai kenyataan sosial yang membutuhkan kebijaksanaan. Pendidikan pun tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan manusia yang cakap secara intelektual, tetapi juga pribadi yang mampu hidup bersama, menghormati sesama, dan menggunakan ilmunya untuk menghadirkan kemaslahatan.

Dengan demikian, Al-Khairaat memiliki peran yang tidak terbatas pada pengembangan pendidikan Islam. Ia juga berkontribusi dalam merawat ikatan sosial, memperkuat kehidupan keagamaan yang damai, dan menumbuhkan kesadaran bahwa kemajuan masyarakat harus berjalan beriringan dengan kemuliaan akhlak.

Memasuki Abad Kedua: Antara Amanah Sejarah dan Tantangan Zaman

Seratus tahun perjalanan tentu bukan akhir dari sebuah pengabdian. Justru, usia satu abad menghadirkan pertanyaan yang lebih besar: bagaimana menjaga warisan masa lalu agar tetap bermakna bagi masa depan?

Tantangan yang dihadapi lembaga pendidikan saat ini, berbeda dengan keadaan ketika Guru Tua mulai merintis Alkhairaat. Perubahan teknologi, perkembangan ilmu pengetahuan, pergeseran pola komunikasi, serta tuntutan peningkatan mutu pendidikan mengharuskan setiap lembaga untuk terus berbenah.

Tradisi keilmuan perlu dipertahankan, tetapi metode pembelajaran harus mampu mengikuti kebutuhan zaman. Nilai-nilai lama perlu dirawat, tetapi penyampaiannya harus dapat dipahami oleh generasi, yang hidup di tengah dunia yang semakin terbuka dan terdigitalisasi.

Dalam konteks tersebut, penguatan kaderisasi ulama dan pendidik menjadi agenda yang mendasar. Sebuah lembaga pendidikan tidak akan memiliki kesinambungan apabila kekurangan generasi penerus yang menguasai ilmu, memahami tradisi, dan memiliki integritas dalam pengabdian. Kaderisasi bukan hanya soal menyiapkan orang untuk mengisi jabatan, melainkan membentuk manusia yang mampu memikul amanah keilmuan dengan tanggung jawab dan keteladanan.

Peningkatan mutu pendidikan juga perlu menjadi perhatian. Luasnya jaringan kelembagaan, harus diimbangi dengan kualitas pembelajaran, penguatan kapasitas guru, ketersediaan sumber belajar, dan pengembangan kurikulum yang relevan.

Di tengah perkembangan teknologi, pemanfaatan sarana digital dapat membuka peluang bagi pemerataan pengetahuan, memperluas komunikasi antarlembaga, dan memperkuat hubungan antara pusat pendidikan, cabang, pesantren, serta jaringan alumni.

Alumni pun memiliki posisi strategis dalam perjalanan abad kedua Alkhairaat. Mereka bukan hanya bagian dari catatan sejarah lembaga, melainkan sumber daya sosial yang dapat menghubungkan tradisi pendidikan dengan berbagai kebutuhan masyarakat. Jika jaringan alumni dikelola secara produktif, Alkhairaat dapat memperkuat kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, pemberdayaan ekonomi, dan pelayanan sosial.

Semua ikhtiar tersebut, pada akhirnya harus berpijak pada satu hal: menjaga ruh perjuangan Guru Tua. Modernisasi tidak seharusnya membuat lembaga kehilangan jati diri, sebagaimana kesetiaan pada tradisi tidak semestinya menjadikan lembaga tertutup terhadap perubahan. Keduanya perlu dipertemukan dalam kebijaksanaan, agar Alkhairaat tetap berakar kuat pada tradisi keilmuannya, sekaligus mampu menjawab persoalan masyarakat kontemporer.

Sebab, warisan yang hidup bukanlah warisan yang sekadar disimpan dalam ingatan. Ia adalah warisan yang terus dikerjakan, diuji oleh zaman, dan dibuktikan manfaatnya melalui tindakan nyata.

Merawat Cahaya, Melanjutkan Pengabdian

Milad satu abad Alkhairaat, semestinya tidak berhenti sebagai perayaan usia. Milad i tu adalah kesempatan untuk menengok perjalanan panjang dengan rasa syukur, menilai pencapaian dengan kejernihan, dan memandang masa depan dengan keberanian. Sejarah memberikan kebanggaan, tetapi sekaligus meletakkan tanggung jawab bagi setiap generasi, untuk memastikan bahwa cita-cita pendiri tidak berhenti sebagai cerita masa lampau.

Guru Tua telah mewariskan lebih dari sekadar nama sebuah lembaga. Beliau meninggalkan teladan tentang kesungguhan menuntut dan menyebarkan ilmu, kesederhanaan dalam pengabdian, serta keyakinan bahwa pendidikan dapat mengubah kehidupan masyarakat. Nilai-nilai itu akan tetap relevan, selama manusia membutuhkan pengetahuan, keteladanan, dan bimbingan moral untuk menjalani kehidupan.

Di tengah perubahan zaman, Alkhairaat memiliki kesempatan untuk memperluas makna pengabdiannya. Bukan hanya dengan mendirikan lebih banyak lembaga pendidikan, melainkan juga dengan memastikan bahwa setiap ruang belajar mampu melahirkan manusia yang berpengetahuan, berakhlak, dan peka terhadap persoalan masyarakat. Bukan hanya dengan memperluas jaringan, melainkan juga dengan memperkuat mutu dan ikatan kebersamaan di dalamnya.

Satu abad adalah perjalanan yang patut dihormati, tetapi abad kedua adalah amanah yang harus diperjuangkan. Di dalamnya terdapat harapan agar Alkhairaat terus menjadi tempat bertumbuhnya ilmu, berseminya akhlak, dan bertemunya tradisi dengan masa depan.

Dari Palu, cahaya yang dahulu dinyalakan Guru Tua, telah menjelajah jauh ke berbagai penjuru Indonesia. Kini, tugas generasi penerus bukan sekadar mengenang dari mana cahaya itu berasal, melainkan memastikan bahwa nyalanya tidak meredup, bahwa manfaatnya semakin luas, dan bahwa nilai-nilai yang dikandungnya terus menerangi kehidupan umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Karena pada akhirnya, ukuran terbesar sebuah warisan bukanlah berapa lama namanya bertahan dalam sejarah, tetapi seberapa jauh kebaikan yang ditanamkannya terus tumbuh dalam kehidupan manusia. (*)

Editor: Ruslan Sangadji