KISAH Abu Nawas Menjelang Hari Raya Idul Fitri. Suatu saat, Khalifah Harun Al-Rasyid memerintahkan menteri perdagangannya, Al-Mukarrom Syekh Abdillah Ihsanuddin Al-Samarqandi, memantau situasi pasar.
Khalifah minta, agar menteri mengecek semua kebutuhan pokok masyarakat tersedia, baik yang terbesar maupun yang terkecil.
Masalahnya, kalau satu saja bahan pokok tak ada di pasar, itu akan jadi bahan kritikan warga kepada Khalifah Harun Al-Rasyid. Bahwa khalifah tak becus memimpin.
“Pastikan di pasar, gula tersedia, harga garam murah, gandum tak kurang, pokoknya Anda cek semua kebutuhan pokok masyarakat,” begitu perintah Khalifah kepada Menteri Ihsanuddin.
“Satu lagi, sekarang menjelang lebaran, jangan cuma cek pasokan daging, tapi kulit ketupat juga. Barang murah biasanya banyak yang meremehkan,” titah khalifah.
Menurut Khalifah, jika kebutuhan itu tak ada, nanti orang bilang, kulit ketupat yang murah saja tak ada, apalagi daging.
Maka berangkatlah Menteri Perdagangan ke pasar, dengan mengajak serta staf ahli negara, Abu Nawas atau Abu Nuwas.
Menteri Ihsanuddin memerintahkan Abu Nawas untuk mengecek pasar, dengan asumsi tak mungkin Abu Nawas memberi laporan palsu, karena ia sangat terkenal loyal pada Khalifah Harun Al-Rasyid.
“Pastikan semua kebutuhan pokok rakyat tersedia, dan tak ada yang menimbun barang,” perintah menteri kepada Abu Nawas.
Di pasar, alangkah bahagianya Abu Nuwas. Dia lihat semua kebutuhan rakyat tersedia. Rakyat gembira di bawah kepemimpinan Harun Al-Rasyid.
Gula menumpuk, garam tersedia, gandum murah, daging apa saja ada, pokoknya Baghdad di bawah kepemimpinan Harun Al-Rasyid benar-benar mecerminkan kemakmuran.
Abu Nuwas juga mengecek kulit ketupat sesuai pesan sang menteri. Benar juga, jika kulit ketupat saja tak ada di pasar, bagaimana dengan kapulaga dan bawang Bombay?
Dengan wajah ceria, Abu Nawas kembali ke kantor menteri perdagangan untuk melaporkan hasil surveinya.
“Wah, Baghdad tersenyum di bawah kepemimpinan Khalifah Harun dan Menteri Ihsanuddin,” kata Abu Nawas.
“Semua kebutuhan pokok tersedia,” tambahnya.
“Garam? Gandum? Gula?,” tanya Ihsanuddin untuk menambah keyakinannya.
“Ada,” jawab Abu Nawas.
“Daging?”
“Banyak! Semua halal!,” jawabnya lagi.
“Kulit ketupat? Ingat ini musim lebaran,’ tanya menteri tegas.
“Nah, kulit ketupat sudah saya cek, di semua pasar, kulit ketupat kosong!” Abu Nawas menjawab.
Mendengar jawaban itu, Ihsanuddin kaget luar biasa. Tanpa bertanya lagi ia bergegas menuju istana, dan menyampaikan laporannya agar khalifah senang.
“Baginda, ada kabar baik, ada kabar buruk. Baginda mau dengar yang mana dulu?,” kata menteri.
“Apa kabar baiknya?,” tanya khalifah.
“Semua kebutuhan pokok tersedia di pasar,” jawab menteri mantap.
“Kabar buruk?,” tanya khalifah.
“Kabar buruknya, hanya kulit ketupat yang tak ada di pasar. Entah hilang dari pasaran atau ada yang menimbun,” jawab menteri yakin.
Mendengar jawaban menterinya, Harun mengerahkan serdadunya untuk menebang pelepah kurma sebanyak mungkin lalu membuat kulit ketupat ramai-ramai.
Ia ingin membanjiri pasar dengan kulit ketupat agar para penimbun kulit ketupat kecele dan rugi besar.
Tapi Khalifah Harun Al-Rasyid tak puas. Ia langsung terjun ke pasar hari itu juga, mengecek lapangan.
Tapi, betapa kaget khalifah, karena di pasar ternyata banyak orang menjual kulit ketupat.
“Bagaimana ini Pak Menteri, di pasar ternyata banyak yang menjual kulit ketupat,” tegas Khalifah.
Menteri Ihsanuddin juga kaget.
“Tapi tadi kata Abu Nawas, di semua pasar, kulit ketupat hilang, tak ada di pasaran,” jelasnya terbata-bata.
Ia lalu berteriak memanggil Abu Nuwas.
“Abu Nuwas, tadi Anda bilang kulit ketupat tak ada, hilang dari pasaran, bagaimana ini kok ternyata banyak?”
“Benarkah itu,” tanya Harun Al-Rasyid sambil memandang tajam pada Abu Nuwas.
Pujangga Baghdad ini dengan tenang kemudian mengambil beberapa kulit ketupat dari pedagang, lalu menyerahkannya kepada Ihsanuddin dan Harun.
“Silakan pencet tuan-tuan,” kata Abu Nuwas dengan suara merendah.
“Apa maksud kamu,” tanya Khalifah.
“Apakah semua kulit ketupat itu kosong?,” kata Abu Nawas.
“Ya benar, semuanya kosong,” khalifah dan menteri menjawabnya bersamaan.
“Nah, itulah yang tadi saya sampaikan kepada menteri perdagangan. Tadi saya katakan, di semua pasar, kulit ketupat kosong. Lalu salah saya di mana?,” kata Abu Nawas.
“Abu Nawaaaaaaaassss,” teriak Ihsanuddin. (*)

Tinggalkan Balasan