JAKARTA, KAIDAH.ID – Partai Golkar akhirnya memilih mengusung Ahmad Ali dan Abdul Karim Al Jufri, sebagai pasangan calon gubernur dan wakil gubernur pada Pilkada Sulteng 2024 nanti. Bahkan, redaksi mendapat informasi itu sejak pekan lalu.
“Insya Allah Golkar ke Bang Ahmad Ali. Tapi jangan dulu ditulis ya dinda, karena masih ada beberapa pertemuan yang harus dilewati dulu sampai final. Kita embargo dulu beritanya,” begitu informasi yang diterima kaidah.ID pekan lalu.
Lantas bagaimana cerita di balik dukungan Partai Golkar kepada Ahmad Ali? Simak hasil penelusuran kaidah.ID dari berbagai informasi di Jakarta. Tapi beberapa nama sumber akan disamarkan demi menjaga kenyamanan semua pihak.
Kita awali cerita ini, dari setelah survei pertama Partai Golkar. Selanjutnya, pertemuan demi pertemuan dilakukan di Jakarta. Lobi-lobi politik terus dilakukan oleh para tokoh.
Dari hasil pertemuan dan lobi-lobi elite politik, nama Moh. Hidayat Lamakarate menjadi tokoh yang paling diharapkan bisa direkomendasikan oleh Partai Golkar sebagai calon Gubernur Sulteng.
Harapannya, Mohammad Hidayat Lamakarate bisa mengajak Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk berkoalisi. Maka, Sakinah Aljufri sebagai kader PKS diajak menjadi pasangannya.
Sedang dalam proses itu, tiba-tiba PKS menaruh hati pada pasangan Anwar Hafid dan Reny Lamadjido. Akhirnya surat keputusan PKS jatuh pada pasangan tersebut.
Hidayat Lamakarate yang telah menjadi kader Golkar, gagal berpasangan dengan Sakinah Aljufri. Kemudian, lahir lagi alternatif lain. Hidayat dari Golkar, akan dipasangkan dengan Rusdy Mastura (Kak Cudy) yang nantinya lahir dari PDIP.
Upaya lobi terus dilakukan, tetapi Kak Cudy cenderung menolak berpasangan dengan Hidayat Lamakarate. tetapi upaya “mengawinkan” keduanya terus dilakukan. Tapi lamaran terus ditolak. Lagi-lagi gagal. Kak Cudy lebih memilih Sulaiman Agusto Hambuako.
Namun, di internal Partai Golkar menolak pasangan Kak Cudy dan Sulaiman Agusto Hambuako. Partai berlambang pohon beringin itu tidak bisa menerima, karena elektabilitas berdasarkan hasil survei Golkar, tidak memenuhi syarat.
Golkar masih tetap teguh pada pendirian. Hidayat Lamakarate masih terus dipertahankan, karena elaktabilitasnya masih bisa bersaing dengan Ahmad Ali dan Anwar Hafid. Seorang tokoh Golkar Sulteng masih tetap mempertahankan Hidayat.
Tokoh itu berharap, agar Kak Cudy mau menerima Hidayat sebagai wakilnya. Dan Hidayat pun sudah bersedia untuk itu.
“Saya siap sebagai wakil,” kata Hidayat Lamakarate dalam suatu pertemuan santai di Jakarta.
Lagi-lagi Kak Cudy menolak. Gubernur Sulteng itu masih tetap mau berpasangan dengan anggota TNI yang berpangkat jenderal dua bintang asal Morowali itu.
Pada saat yang sama, tokoh Golkar yang lain juga menginginkan Anwar Hafid sebagai calon gubernur yang akan diusung Golkar. Keinginan itu, karena ada bargaining agar Partai Demokrat yang dipimpin Anwar Hafid, dapat mengikuti keinginan tokoh tersebut.
Tapi di sisi lain pula, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menginginkan, agar Ahmad Ali yang akan diusung oleh Partai Golkar. Keinginan ini, diperkuat oleh tokoh lain dari DPP Golkar. Hanya saja, tokoh itu masih tetap mengikuti keinginan DPD Golkar Sulteng. Ia tidak mau mengecewakan.
Tapi, nama Ahmad Ali itu sudah dijahit di dalam saku baju kuning Airlangga Hartarto. Sewaktu-waktu jahitan itu akan dilepas dan nama Ahmad Ali yang akan muncul.
Itulah kemudian, pekan lalu seorang tokoh Golkar di Jakarta melakukan embargo informasi, bahwa Ahmad Ali yang akan diusung Golkar.
“Insya Allah Golkar ke Bang Ahmad Ali. Tapi jangan dulu ditulis ya dinda, karena masih ada beberapa pertemuan yang harus dilewati dulu sampai final,” begitu yang bersangkutan menyampaikannya.
Kepastian didukung Golkar itu, bahkan sudah sampai kepada Ahmad Ali. Di saat itulah, Ketua DMI Sulteng itu semakin percaya diri akan diusung Golkar.
(Ada satu cerita tentang ini yang tak perlu ditulis).
Kemudian, redaksi menurunkan sebuah berita berjudul: Golkar Umumkan 10 Calon Gubernur dan Wakil Gubernur. Sulteng Mungkin 18 Agustus. Baca di sini
Sampai akhirnya, pada Jumat, 9 Agustus 2024 sore, redaksi menerima kiriman foto Ahmad Ali berbaju kuning muda, sedang berada di dalam mobil saat baru tiba di Jakarta Jumat pagi.
Dari foto itulah, redaksi menulis satu artikel baru yang diberi judul: Rekomendasi Golkar di Pilkada Sulteng, Manalah Mungkin Satu Kadera, Torang Tiga Mo Dudu Akang. Baca di sini
Artikel itu sebetulnya telah menjadi isyarat, bahwa Ahmad Ali akan bertemu dengan Airlangga Hartarto, malam harinya. Informasi itu juga, disampaikan orang tokoh DPP Golkar tersebut.
Sampai akhirnya, beredarlah banyak foto, Ahmad Ali bersama Ketua DPD Golkar Sulteng M. Arus Abdul Karim, Ketum Airlangga Hartarto, Waketum Ahmad Doli Kurnia Tandjung, Waktum Muhidin Mohammad Said bertemu, berjabat tangan dan berpelukan.
Airlangga paling sumringah pada pertemuan itu. Menko Perekonomian itu tidak bisa menyembunyikan kesenangannya, karena keinginan mencalonkan Ahmad Ali akhirnya terwujud.
Pada pertemuan itu, Airlangga Hartarto bilang, Ahmad Ali dan Abdul Karim Al Jufri, diyakini mampu membawa perubahan positif dan memajukan Sulawesi Tengah ke arah yang lebih baik.
“Kami melihat bahwa Ahmad Ali memiliki visi dan komitmen yang kuat untuk membangun Sulawesi Tengah. Bersama Abdul Karim Al Jufri, kami yakin mereka akan membawa harapan baru bagi masyarakat Sulawesi Tengah,” kata Airlangga Hartarto saat menyerahkan B.1-KWK kepada Ahmad Ali.
Lantas, apakah dengan dukungan Golkar kepada Ahmad Ali, Pilkada Sulteng berlangsung hanya dengan dua pasangan calon? Maybe Yes, Maybe No (bisa iya, bisa tidak), karena beredar lagi kabar terbaru, PDIP akan tetap mencalonkan Rusdy Mastura, kemudian mengajak Perindo, PPP dan Hanura.
“Tidak benar PPP ke Pak Rusdy. Kami tetap konsiten mendukung Ahmad Ali dan Abdul Karim Al Jufri,” tandas Fairus Husen Maskati, ketua DPW PPP Sulteng. (*)
Editor: Ruslan Sangadji
Tinggalkan Balasan