JAKARTA, KAIDAH.ID – Konser Rakyat Leo Kristi (KRLK), akan kembali menggelar pertunjukan dengan format istimewa bertajuk “Konser Merah Putih: Kebangkitan Semangat Kerakyatan Konser Rakyat Leo Kristi” pada Jumat, 22 Agustus 2025, pukul 19.00 WIB di Anjungan Sarinah, Jakarta Pusat.
Acara ini menjadi kelanjutan misi almarhum Leo Imam Sukarno atau Leo Kristi, dalam memotret realitas sosial, nasionalisme, perjuangan, dan cinta lewat lagu-lagu bernuansa etnik Nusantara.
Berdiri sejak awal 1970-an, KRLK dikenal dengan komposisi musik yang memadukan unsur etnik dan lirik yang merekam denyut kehidupan rakyat.
“Leo Kristi boleh meninggalkan kita, tapi Konser Rakyat harus tetap hidup. ‘Merah Putih’ bukan sekadar warna bendera, ia adalah nafas kehidupan kolektif Indonesia,” kata Ote Abadi, pentolan sekaligus kurator artistik KRLK.
Formasi KRLK kali ini menampilkan Ote Abadi, Nona Van der Kley, Liliek Jasqie, Damar, Lewi, Kley, dan Komang.
Mereka akan berkolaborasi dengan bintang tamu Ayu Kharie dari L’kers (Leo Kristi Lovers) membawakan lagu-lagu ikonis seperti Nyanyian Fajar, Nyanyian Tanah Merdeka, hingga Gulagalugu Suara Nelayan, dengan aransemen baru yang melibatkan musisi muda dari Institut Kesenian Jakarta.
Penyelenggara berharap, konser ini dapat memperkenalkan kembali karya Leo Kristi kepada generasi milenial dan Z, sekaligus membangkitkan semangat kerakyatan di tengah dinamika sosial saat ini.
OTE ABADI, PENJAGA WARISAN MUSIK RAKYAT
Ote Abadi telah berkarya sejak 1970-an. Salah satu karyanya yang dikenal luas adalah mengubah Topegugu, mantra kuno suku Kaili (etnis asli Lembah Palu, Sulawesi Tengah), menjadi lagu bercorak rock ‘n roll yang populer di kalangan musisi era 1980–1990-an.
Karya ini kemudian menjadi rujukan dalam penciptaan lagu-lagu, yang bersumber dari nyanyian tradisi Kaili.
Nama Ote Abadi tercatat sebagai anggota KRLK pada 1983–2006, berperan sebagai gitaris sekaligus vokalis. Selain bersama KRLK, ia merilis dua album solo, Dibalik Terali (1988) dan Cinta Terlarang (1995), serta pernah membentuk Kelompok Hijau bersama Ully Sigar Rusady dan Arthur Kaunang.
Ia juga menjadi vokalis The New Mercy’s, band legendaris pimpinan Erwin Harahap, serta menciptakan sejumlah lagu yang dibawakan penyanyi nasional, salah satunya “Permata Biru” yang direkam Nicky Astria.
Selama lebih dari 50 tahun berkarya, Ote Abadi terus konsisten menekuni jalur musik meski menghadapi persaingan dengan generasi seniman muda.
Menurutnya, tantangan saat ini adalah menyesuaikan karya dengan tren kekinian tanpa kehilangan karakter yang telah ia bangun.
“Saya mengambil jalur musik ini sebagai pilihan hidup. Tidak sedikit yang harus dikorbankan, tapi bagi saya ini jalan yang harus saya tempuh,” papar Ote Abadi.
Ote berharap pemerintah lebih memperhatikan keberlangsungan hidup para pelaku seni, khususnya musisi dengan karya berkualitas yang belum mendapat ruang di panggung besar. (*)
Editor: Ruslan Sangadji

Tinggalkan Balasan