Pagi itu, suasana Pemancingan Nagaya di Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, tampak seperti biasanya — tenang, hijau, dan bersahabat. Namun di balik keteduhan alam, Musyawarah Daerah (Musda) IV Partai Golkar Kabupaten Sigi justru menjadi panggung bagi sebuah keputusan besar yang tak banyak diprediksi.
Mohamad Irwan Lapatta, sosok yang selama dua dekade lebih lekat dengan kekuasaan dan Partai Golkar di Sigi, berdiri di hadapan kadernya. Tanpa retorika berlebihan, tanpa manuver politik, ia memilih jalan yang jarang ditempuh politisi kebanyakan: menepi.
Di sela pembukaan Musda, Bupati Sigi dua periode itu secara terbuka menyatakan mundur dari bursa kepemimpinan Partai Golkar Sigi. Tidak hanya itu, Irwan juga memastikan dirinya tidak akan masuk dalam struktur kepengurusan partai untuk periode mendatang. Keputusan itu disampaikan dengan suara tenang, namun sarat makna.
“Golkar telah membesarkan saya,” ucap Irwan singkat, seolah merangkum perjalanan panjangnya bersama partai berlambang pohon beringin itu.
Bagi banyak kader, pernyataan tersebut terasa seperti penutup sebuah bab penting. Irwan bukan sekadar ketua partai, melainkan figur sentral yang memimpin Golkar Sigi melewati berbagai fase politik — dari konsolidasi internal, pertarungan elektoral, hingga kemenangan di Pilkada dan penguasaan kursi Ketua DPRD selama dua periode berturut-turut.
Namun pagi itu, Irwan tak berbicara tentang prestasi. Ia justru menegaskan bahwa keputusannya mundur tidak lahir dari konflik, tekanan, atau kegagalan. Ia hanya ingin berhenti sejenak.
“Dengan berat hati saya sampaikan, untuk sementara waktu saya ingin beristirahat,” katanya.
KEJUJURAN TERHADAP DIRI DAN PARTAI
Di dunia politik yang nyaris tak pernah memberi ruang jeda, pilihan untuk berhenti sering kali dibaca sebagai kemunduran. Tapi bagi Irwan, keputusan itu justru ia sebut sebagai bentuk kejujuran terhadap diri sendiri dan partai. Ia tak ingin keberadaannya menjadi beban regenerasi.
Momen paling simbolik terjadi ketika Irwan menyerahkan surat pengunduran diri kepada Ketua DPD I Golkar Sulawesi Tengah, Mohammad Arus Abdul Karim. Sebuah gestur sederhana, namun sarat pesan: bahwa politik, baginya, tetap harus dijalani dengan etika dan ketegasan sikap.
Mohammad Arus Abdul Karim, yang menyaksikan langsung momen tersebut, tak menutupi rasa hormatnya. Ia menyebut Irwan sebagai salah satu tokoh yang telah menorehkan “tinta emas” dalam sejarah Golkar Sigi.
“Apa yang kita lihat hari ini adalah fakta kesuksesan Pak Irwan,” kata Arus, seraya mengingatkan kader agar tidak menafsirkan pengunduran diri itu secara keliru.
Bagi Mohammad Arus Abdul Karim, gaya kepemimpinan Irwan — yang gemar turun ke akar rumput, menjaga silaturahmi, dan membangun loyalitas kader — adalah pelajaran penting di tengah politik yang kian pragmatis.
Meski pamit dari struktur, Irwan tidak benar-benar pergi. Dalam pesannya, ia mengingatkan bahwa tantangan politik ke depan jauh lebih berat. Ia meminta kader Golkar Sigi tetap solid, menjaga basis suara, dan tidak tercerai oleh ambisi sesaat.
“Golkar harus tetap besar, siapa pun pemimpinnya,” tegasnya.
M. RIZAL INTJE NAE CALON KETUA
Musda IV Golkar Sigi pun berlanjut. Sebanyak 16 Pengurus Kecamatan hadir, disertai tokoh-tokoh lintas partai — sebuah pemandangan yang mencerminkan kedewasaan politik di daerah ini. Di balik proses pemilihan pengurus baru, nama Mohamad Rizal Intjenae mulai menguat sebagai bakal calon Ketua DPD II Golkar Sigi, didukung penuh oleh struktur kecamatan.
Di tengah dinamika itu, keputusan Irwan Lapatta meninggalkan kesan mendalam. Ia mengajarkan bahwa dalam politik, tidak semua kemenangan diukur dari jabatan. Ada kalanya, memilih mundur justru menjadi pernyataan paling berani.
Dan pagi di Nagaya itu, di antara riak air dan sunyi pepohonan, sebuah bab politik di Kabupaten Sigi pun perlahan ditutup — bukan dengan gegap gempita, melainkan dengan keheningan yang bermartabat. (*)
(Ruslan Sangadji)
Saat Irwan Lapatta Memilih Menepi, Sebuah Catatan dari Musda IV Golkar Sigi
Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Tinggalkan Balasan