Para ulama dan santri ditembak, dibakar sampai mati, atau dicincang-cincang dan ada yang dikubur hidup-hidup. Masjid dan madrasah dibakar, bahkan ulama dan santri-santrinya dikunci di dalam madrasah lalu dibakar. Tentu mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena ulama itu, orang-orang tua yang sudah ubanan, orang-orang dan anak-anak laki-laki yang baik yang tidak melawan.
Tindakan kejam FDR/PKI selama menjalankan aksi kudeta itu menyulut amarah Presiden Soekarno, yang kemudian berpidato dan menyerukan:
“Ikut Muso dengan PKI-nya yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesia Merdeka, atau ikut Soekarno-Hatta, yang Insya Allah dengan bantuan Tuhan akan memimpin Negara Republik Indonesia yang merdeka, tidak dijajah oleh negara apa pun juga,” kata Soekarno.
Presiden Soekarno juga menyeru, agar rakyat membantu alat pemerintah untuk memberantas semua pemberontakan dan mengembalikan pemerintahan yang sah di daerah. Madiun harus kembali ke tangan Indonesia.
Seruan itu membangkitkan semangat rakyat, dan ikut membantu TNI melawan PKI di Madiun. Pada Januari tahun 1950, berhasil ditemukan banyak sumur ‘neraka’ yang digunakan FDR/PKI mengubur korban-korban kekejaman.
Beberapa orang kyai ditemukan di sumur-sumur neraka itu. Mereka itu antara lain KH Soelaiman Zuhdi Affandi, pimpinan Ponpes Ath-Tohirin Mojopurno, Magetan. Kemudian, Kyai Imam Mursjid Muttaqin, Mursyid Tarikat Syattariyah Pesantren Takeran. Kyai Zoebair, Kyai Malik, Kyai Noeroen, Kyai Moch Noor, dan masih banyak kyai dan ulama serta tokoh pemerintahan lainnya yang menjadi korban kekejaman PKI.
Setelah penumpasan FDR/PKI Madiun, bukan berarti partai yang berideologi komunis itu berhenti bersiasat. Kekejaman dan tindakan keji PKI berulang kembali pada 30 September 1965 sampai 1 Oktober 1965, tujuh jenderal dan perwira TNI Angkatan Darat diculik dan dibunuh secara sadis. Peristiwa itu, dikenal dengan nama Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia atau G30SPKI, yang setiap tahun diperingati sebagai tragedi berdarah di Indonesia. (*)


Tinggalkan Balasan